MOJOK.COTeror klitih di Jogja belum berakhir, setidaknya dalam waktu dekat. Sementara, di grup Facebook Info Cegatan Jogja, seorang polisi malah “baru” mengajak warga untuk mengidentifikasi pelaku klitih.

Instansi jenengan udah komplit dan lebih tau kok malah nanya ke tukang ngarit seperti saya to pak?” demikian bunyi satu komentar di postingan Info Cegatan Jogja yang dibuat seorang polisi di Yogyakarta. Postingan si polisi yang berisi pertanyaan tentang klitih itu terasa aneh. Korban sudah berjatuhan sejak bertahun-tahun dan sekarang malah mengajak masyarakat sekadar mengidentifikasi apa itu klitih.

Minggu kemarin saja, ada dua kasus klitih di Jogja yang terjadi dalam waktu berdekatan. Satu kasus terjadi di Jalan Moses Gatotkaca, yang satu terjadi di wilayah Condongcatur. Dalam dua kejadian tersebut, ada korban yang harus dibawa ke rumah sakit karena kepalanya terkena sabetan pedang dan dibacok.

Itu baru minggu lalu, belum kasus-kasus yang memakan korban nyawa di masa lalu.

Jika polisi baru mengajak masyarakat mengidentifikasi klitih dan jenis hukuman yang bisa dipakai untuk pelaku, itu sama saja menggarami lautan. Ha ya ngapain kita penduduk sipil disuruh mumet mikir undang-undang dan keamanan? Bukan masalah nggak mau, tapi kan itu kewenangan polisi.

Baca juga:  Penganut Katolik dan Dianggap Terlalu Muda, Penetapan Irjen Listyo Sigit jadi Kabareskrim Diduga Terhambat

Partisipasi masyarakat memang diperlukan, tapi itu ketika pihak yang berwenang sudah melakukan pencegahan dan penanganan yang dibutuhkan. Coba jujur, sejauh ini apakah polisi sudah melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menangani klitih?

Kalau sudah, mestinya tidak ada lagi orang yang melaporkan ancaman klitih. Memang ada yang tertangkap, tapi setelah itu ya kasus tetap terjadi. Kalau satu dua kasus selesai, namun belasan kejadian sama terulang, ya sama aja.

Akhirnya, kita cuma punya opsi untuk makin waspada atau, kalau kepepet, ya harus membela diri. Tapi tunggu dulu, membela diri dari klitih pun bisa berujung bencana. Ada kejadian di tahun 2018, sopir Colt yang membela diri karena diancam dibunuh oleh pelaku klitih malah dilaporkan oleh orang tua pelaku. Ya nasib sopir tersebut sejauh ini hanya wajib lapor sih. Tapi kalau dirinya ditetapkan tersangka, kan ya tetap wagu.

Sebagai warga negara saya berhak meminta polisi sebagai pihak berwenang untuk memberi rasa aman pada warganya. Kalau kita cuma diberi imbauan untuk mengurangi kegiatan di malam hari, ha yo prek. Nasib orang yang kerja sif malam gimana coba? Bagaimana pula nasib usaha-usaha yang beroperasi di malam hari dan menggerakkan roda ekonomi? Apa mereka harus hidup dengan rasa khawatir, waswas akan bertemu gerombolan pengendara motor yang membawa senjata tajam?

Baca juga:  Di Sebuah Kafe yang Belum Premium Akun Spotify-nya

Tahun 2020 baru mengajak mengidentifikasi pelaku klitih jelas telat banget, boskuw. Sekarang sudah waktunya operasi besar-besaran untuk menghadapi teror ini. Masyarakat sudah sering melapor bagaimana ciri pelaku beroperasi. Sejumlah pelaku juga ada yang tertangkap. Mestinya makin mudah untuk polisi mengidentifikasi mana bocah kurang gawean dan mana yang klitih.

Pengalaman saya berurusan dengan polisi tidak memberi saya kesan baik tentasng pelayanan polisi dalam menyikapi kasus, dan saya yakin, banyak orang yang memberi stigma negatif ke polisi. Penanganan klitih adalah momen bagi polisi untuk memberi tahu masyarakat bahwa mereka bekerja sebaik-baiknya dengan benar-benar bergerak.

Yang ditakutkan, ketika masyarakat sudah terlalu muak lalu ambil tindakan sendiri. Bisa jadi malah ada pertumpahan darah sia-sia. Karena tingkat kepercayaan yang rendah pada polisi, akhirnya suasana malah makin mencekam.

Sebagai pendatang di Jogja, saya sebenarnya malu menuliskan ini seakan tidak punya rasa pekewuh. Namun, saya yakin, warga Jogja merasakan kegelisahan yang. Wis ndang, Pak Polisi, segera lakukan tindakan nyata agar para korban meninggal itu tidak meninggal sia-sia.

BACA JUGA Mengintip Omzet Jualan Thai tea dan Tips Biar Dagangan Tetap Laku dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.