4   +   5   =  

MOJOK.CO – Honda PCX sudah banyak bertebaran di jalan. Motor matic buatan Honda tersebut masuk kategori motor premium. Tapi, kayak apa sih pengalaman naik Honda PCX?

Rabu, 15 Oktober 2019. Tiba-tiba Bapak menelepon saya. Agak ragu juga mengangkatnya karena Bapak memang jarang telepon. Selain takut disuruh daftar CPNS, saya takut ditanyain kapan menikah. Tentu saja yang terakhir adalah cara bercanda Bapak yang paling menakutkan.

Tetap saja akhirnya saya angkat karena saya bukan Malin Kundang.

Le, ora urus pokoke akhir minggu ini pulang, wis tak tukokne PCX!” kata Bapak di telepon tanpa kata sambutan.

Tentu saja Bapak saya tidak bercanda apalagi bikin konten prank. Bapak lalu mengirim foto Honda PCX yang terparkir di rumah. Saya hanya mangap melihat kenekatan Bapak. Kalau masalah nyali, Bapak bukan kaleng-kaleng. Jenazah saja diantarkan tanpa nyali bergetar, apalagi beli motor tanpa mikir, turah-turah kendele.

Sabtu dini hari itu akhirnya saya nekat pulang. Karena jam kerja berakhir pukul 1 pagi, daripada ketiduran mending langsung tancap gas ke Wonogiri. Sesampainya di rumah, saya benar-benar melihat PCX itu terparkir indah di rumah. Sepertinya gen tidak bisa berpikir panjang itu menurun dari Bapak.

Saya meneliti detil-detil bodi Honda PCX. Motor rilisan lama memang, tapi tetap saja saya baru punya kesempatan melihat detail bodinya pada saat itu. Saya tersenyum, Honda memang tidak main-main dalam membuat lekuk bodi.

Tidak ada bodi yang terkesan amat lancip. Seakan bodi PCX itu satu kesatuan, dan pengerjaannya mulus. Plastik jeruk memang masih banyak dijumpai, tapi masih tertutup oleh bodi plastik beneran yang amat lebar. Saya cek speedometer dan merasa puas. Honda PCX bukan motor abal-abal kalau dilihat dari finishing body dan teknologinya.

Speedometer sudah sepenuhnya digital, indikator jarak yang bisa ditempuh dengan 1 liter bensin pun ada. Tapi saya lihat cuma 38 km per liter. Lho, lho, lho, kok boros?

Baca juga:  Catatan Perjalanan Naik Bus Sugeng Rahayu dari Bandung Menuju Yogyakarta

Sepertinya motor ini memang harus dipakai dulu baru ketahuan aslinya.

Dan akhirnya saya punya motor dengan keyless system. Saya sudah terbayang efektivitas motor ini bahkan ketika saya belum memakainya. Motor ini hanya menyala dan bisa dikunci kalau remote motor ada di dekatnya. Ada alarm system yang terlalu sensitif karena di-bleyer RX King, dia akan langsung bunyi. Dan juga ada callback system yang amat membantu karena di kantor saya tukang parkirnya ajaib kalau mindahin motor.

Sabtu sore. Saya kembali ke Jogja karena minggu masih ada urusan dan harus yang-yangan. Langsung motor itu saya geber dari Wonogiri ke Jogja. Dan dari titik itu saya langsung tahu plus minus motor ini.

Indikator kilometer yang bisa ditempuh per liter bahan bakar langsung berubah. Dia naik ke angka 40 kilometer per liter, sesuai dugaan saya bahwa motor ini memang tidak cocok untuk jarak dekat. Suara mesin yang amat halus ketika menempuh kecepatan tinggi menjadi nilai plus. Motor ini minim getaran walau dipacu di kecepatan tinggi.

Untuk urusan ergonomi, Honda PCX memang pantas disebut skutik premium. Walau motor ini memang tinggi, namun bukan berarti dia susah dikendalikan. Jarak pandang akan menjadi luas karena motor yang lumayan tinggi. Dalam perjalanan, saya tidak merasakan capek meski jalanan Klaten penuh jerawat. Getaran minim, setang yang nyaman, kaki bisa selonjor.

Sepertinya Honda PCX adalah sebenar-benarnya peningkatan dari motor matik Honda yang lain.

Lalu mari kita lompat ke masa sekarang, yang berarti saya sudah menunggangi Honda PCX selama dua bulan.Akhirnya, aslinya Honda PCX ketahuan.

Jogja yang mulai penuh kemacetan membuat saya lumayan susah mengendarai Honda PCX. Motor ini tidak bisa seenaknya berkelok di tengah-tengah lautan mobil. Bukan karena saya takut, tapi selain saya tidak mau menjadi orang brengsek, tapi memang motor ini butuh space yang lebih luas dari motor lain, bahkan Honda CBR 150R lebih luwes dibanding PCX.

Baca juga:  7 Alasan yang Membuat 5 Pemuda Tanggung Mencintai Yamaha Nmax

Karena kemacetan, motor terpaksa berjalan pada kecepatan rendah. Di putaran rendah, Honda PCX terasa nggembos banget. Akselerasinya benar-benar buruk bagi saya, dan ini lumayan mengganggu jika terkena kemacetan. Berangkat ke kantor Mojok lewat Maguwo, motor ini bikin bahagia. Pulang dari kantor Mojok lewat Condongcatur, motor ini memberi derita.

Untuk Honda yang menggemborkan irit bahan bakar, Honda PCX termasuk lumayan boros bagi saya. Untuk sekarang, indikator stabil di 42 KM per liter. Ekspektasi saya sih, 45 KM per liter. Kalau anda pengguna Beat, beralih ke PCX berarti anda harus menambah uang bensin.

Menurut saya sih, masih irit CBR walau sama-sama 150 cc. Bisa jadi perasaan saja sih karena saya rindu CBR saya yang hilang.

Bagi Anda yang tidak peduli-peduli amat dengan performa motor di tengah kemacetan, Honda PCX adalah motor matic terbaik. Sudah keyless, jok nyaman, dan indikator speedometer yang amat membantu. Bagasinya yang amat luas juga berguna sekali buat orang yang sering bepergian. Saya sudah mencoba mengisi bagasinya dengan sepatu Adidas Questar, nasi padang, jaket, celana panjang, dan tumbler. Hasilnya? Muat, bro. Bahkan joknya lancar-lancar saja ditutup.

Untuk sekarang, harga Honda PCX minimal di angka 29 juta. Ekonomis atau tidak, itu tergantung sudut pandang. Sejauh ini Honda PCX memang layak menyandang predikat skutik premium. Tinggal Anda mempertimbangkan apakah Anda siap berjuang ekstra di kemacetan.

BACA JUGA Kasta Maling Motor dan Pelajaran Moral yang Bisa Dipetik darinya dan artikel menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.



Tirto.ID
Loading...

No more articles