MOJOK.CO – Liga Inggris resmi menunda pertandingan sampai tanggal 3 April untuk mencegah penyebaran virus corona. Langkah ini diambil menyusul negara lain yang sudah memberlakukan hal yang sama.

Ditundanya pelaksanaan Liga Inggris setelah beberapa pemain dan pelatih klub yang positif terjangkit corona memaksa pemegang otoritas Liga Inggris untuk menunda pertandingan hingga tanggal 4 April. Besar kemungkinan juga pertandingan akan dilaksanakan tanpa penonton setelah penundaan selesai. Beberapa liga, seperti La Liga, bahkan merencanakan untuk mengakhiri musim ini setelah penundaan selesai.


Wabah corona memaksa para pemangku otoritas sepak bola membatalkan banyak pertandingan. Laga antara Manchester City versus Real Madrid dan Olympique Lyon versus Juventus juga ditunda setelah Real Madrid mengaktifkan protokol isolasi dan Daniele Rugani terkena corona. Bahkan gelaran piala Euro kemungkinan akan diundur tahun depan.

Ini artinya kita akan menghadapi minggu-minggu tanpa sepak bola, namun demi kepentingan yang lebih besar yaitu keselamatan umat manusia maka hal ini harus diterima dengan besar hati. Kita juga tak ingin hanya karena ego kita yang butuh hiburan maka kita harus mengorbankan para pemain.

Dampak penundaan pertandingan ini tentu saja kacaunya jadwal yang sudah ditata sedemikian rupa. Ingat, liga di luar negeri punya kalender olahraga yang rapi, tidak seperti Indonesia. Pelaksanaan Euro yang berpotensi diganti di tahun depan jadi masuk akal karena menggantinya di tahun yang sama hanya akan membuat banyak liga terbengkalai dan memunculkan masalah yang lebih besar.

Baca juga:  Kaka, Raja yang Kehilangan Takhtanya di Santiago Bernabeu

Kalau ditunda dan ujungnya liga dibatalkan, terus bagaimana menentukan juara dan degradasi?

Solusinya seperti ini. Jika pihak UEFA dan FIFA akhirnya menemui kesepakatan bahwa Euro harus diadakan tahun depan, maka Liga bisa dilanjutkan setelah masa karantina corona selesai. Menggunakan waktu pelaksanaan Euro untuk melanjutkan Liga Inggris dan liga-liga yang lain yang tertunda adalah win-win solution bagi banyak pihak, dengan catatan izin harus sudah didapat.

Liga Champions yang baru di fase 16 besar ini juga bisa dilanjutkan menggunakan waktu pelaksanaan Euro. Dengan mempersingkat waktu jeda antara semi final ke final, maka pemain tetap bisa mendapat waktu istirahat di jeda musim dan tim bisa mempersiapkan langkah selanjutnya.

Opsi pembatalan liga masih masuk akal asal diterima semua tim. Masalahnya adalah ada tim yang kemungkinan juaranya begitu besar, Liverpool misalnya. Karena hanya butuh 6 sampai 9 poin untuk memastikan gelar, membatalkan liga jadi kurang adil bagi mereka. Kecuali memang akhirnya semua tim legowo dengan keputusan memberikan gelar juara Liga Inggris kepada Liverpool.

Beda soal dengan La Liga. Karena Barcelona dan Real Madrid terpaut hanya 2 poin dan kemungkinan blunder kedua tim ini sama besarnya dengan pemerintah Indonesia, maka mengakhiri liga dengan memberikan gelar juara kepada Barcelona jadi tidak masuk akal. Mengakhiri liga tanpa memberikan gelar juara pun bakal memunculkan masalah juga karena jarak poin antar tim peringkat 1 dan 2 tidak selebar Liga Inggris.

Baca juga:  Bukan Lana Del Rey, tetapi Bupati Klaten Sebenar-benarnya Queen of Disaster

Mengakhiri liga dengan cepat sepertinya menjadi opsi yang kurang memberikan hasil yang optimal untuk semua tim. Maka dari itu, para pemangku kebijakan tiap liga harus berunding dengan segala pihak untuk menentukan yang terbaik. Tapi jika memakai opsi pemanfaatan waktu pelaksanaan Euro sepertinya jauh lebih masuk akal.

Mari kita sebagai pecinta sepak bola berdoa dan saling memberi dukungan terhadap segala elemen sepak bola dalam menangani wabah virus corona ini. Tanpa Liga Inggris, Liga Itali, Spanyol, atau liga mana pun akhir pekan kita akan hambar. Tapi percayalah, pengorbanan kita ini berarti besar untuk kelangsungan umat manusia.

BACA JUGA Doa Terbaik untuk Mikel Arteta dan Semua Manusia di Sekitar Arsenal dan artikel menarik lainnya di BALBALAN.