[MOJOK.CO] “Dari ruang ICU aku melihat perawat-perawat lalu lalang mendorong brankar dengan jenazah di atasnya.”

Hanya berjarak tujuh hari setelah benjolan di leher dibiopsi, aku kembali masuk ruang operasi di lantai dua. Operasi kali ini adalah operasi besar untuk mengangkat lima ruas tulang punggungku yang hancur karena dimangsa tumor. Tepatnya, tulang pada lumbar ke-9 sampai 13. Sesuai rencana ketua tim dokter yang juga dokter ortopedi, Brigjen. dr. Robert Hutauruk, tulang punggungku yang hancur akan diganti metal. Aku tak punya pilihan.

Aku masuk ruang operasi pukul 09.00 dan seperti operasi biopsi seminggu sebelumnya, aku hanya pasrah dan menyebut seluruh nama-nama suci yang bisa aku ingat. Dr. Robert yang memimpin operasi. Dan beberapa saat setelah masuk kamar operasi, aku sudah tak ingat apa pun. Aku baru tersadar sekitar 7,5 jam berikutnya: telentang di ruang isolasi di salah satu bagian ruang operasi. Itu operasi yang lama, dan beberapa hari kemudian, aku mendengar kabar, dr. Robert pingsan usai operasi karena kecapekan. dr. Robert memang dokter senior dan usianya sudah di atas 65 tahun.

Berada di ruang isolasi, aku tak sepenuhnya sadar. Pengaruh obat bius masih terlalu kuat membekapku. Entah berapa lama aku di sana. Perawat menghampiriku saat mendengar aku meracau. Ranjangku lalu diseret ke luar. Keluargaku dipanggil. Aku tak sadarkan diri dan baru terbangun menjelang magrib. Tapi, di mana aku? Mengapa kamarku begitu sepi?

“Mas di ICU,” kata istriku yang berdiri di sampingku bersama beberapa sahabatku. Aku tak menyahut. Aku seperti kehilangan daya.

Faktanya: bibirku jontor. Bengkak. Mungkin karena saat operasi aku dalam posisi tengkurap dan mulutku dipasangi selang. Hidungku dipasangi selang. Punggungku dipasangi selang. Tanganku dipasangi selang infus, darah, plasma dan lain-lain. Aku tak mengerti. Dadaku dipasangi kabel.

Tak berapa lama datang petugas radiologi. Mereka membawa peralatan rongent dan akan memotret punggungku. Aku diangkat dan di punggungku dipasangi papan kaca. Sakitnya luar biasa. Begitu juga saat selesai, dan papan kembali diangkat. Para petugas itu hanya berkata: “Tarik napas panjang, Pak.”

Berbeda dengan kamar perawatan, di kamar ICU, perawat intensif menjaga pasien. Mereka terkenal “galak-galak” bagi pengunjung, keluarga pasien, dan pasien. Keluarga yang tidak menaati aturan, misalnya masuk dengan tiga orang atau lebih, segera ditegur dan diminta keluar.

Malam pun, pasien tak perlu dijaga karena perawat itulah yang menjaga. Di kamarku, ada empat pasien, dan perawat yang menjaga juga ada empat. Mereka yang menyeka, menggosok gigi, dan kadang menyuapi pasien.

Malam pertama di ICU, aku habiskan dengan banyak tidur. Tanpa bantal. Posisi tubuhku datar. Aku terbangun tengah malam karena mendengar jeritan perempuan dari kamar sebelah atau kamar yang tak jauh dari kamarku. “Aku tak punya Bapak lagi….”

Masyaallah, siapa itu? Kenapa menjerit seperti itu tengah malam.

“Biasa Pak, mati.” Aku mendengar suara perawat menjawab seorang pasien sekamarku.

Hah, mati?

Beberapa saat kemudian serombongan perawat mendorong brankar yang pasiennya diselimuti hingga menutup kepala, melintas di sebelah kamarku yang hanya berdinding kaca.

“Apa itu, Sus?”

“Itu yang barusan mati, Pak.”

“Kok lewat sini?”

“Akses ke kamar mayat, ya cuma jalan di sebelah kamar ini, Pak. Mau lewat mana lagi?”

Aku memejamkan mata. Dan suster itu benar. Dari pukul 02.00 sampai 09.00, setidaknya ada enam mayat yang melintas. Aku sungguh tak bisa tidur. Kapan aku keluar dari ICU laknat ini?

Kejadian yang paling dramatis terjadi sejam berikutnya. Dua wanita dengan logat yang khas, histeris memaki-maki.

“Kamu jahat. Kamu tak bilang kalau kakakku sudah tidak ada.”

“Mana saya tahu. Ibu masuk tanpa nanya saya.”

“Pokoknya kamu jahat.”

Seorang suster bercerita, mereka memaki satpam ICU yang berjaga di pintu masuk karena salah paham. Mereka akan menjenguk kakaknya yang dirawat, tapi tidak tahu kalau kakaknya sudah meninggal dan sudah dibawa ke kamar jenazah, sementara istri si kakak mengurus surat-surat. Begitu masuk kamar, perawat di sana memberi tahu, kakak mereka sudah meninggal. Mereka histeris, berlari keluar ruang ICU, lalu menumpahkan murka ke satpam. Suara mereka keras. Sementara brankar berisi mayat terus melintas di samping kamarku.

“Kalau di ICU sudah biasa, Pak, pasien mati. Sehari kadang ada 10,” seorang perawat bercerita. Wajahnya nyaris tanpa ekdpresi.

Mereka tampaknya sudah biasa melihat hal-hal semacam itu, dan menganggap orang mati hanya sebuah statistik. Aku semakin ingin segera keluar dari ICU.

“Kapan saya dipindah ke kamar perawatan biasa, Sus?”

“Pak Rusdi, ya?”

“Iya.”

“Besok, Pak.”

Minggu sore aku benar-benar dipindah, tapi bukan ke kamar perawatan biasa, melainkan ke kamar transisi dari ICU ke kamar perawatan karena tubuhku masih penuh dengan selang. Aku bisa bernapas lega sebab setidaknya, aku tak akan mendengar lagi jeritan-jeritan memilukan di tengah malam dari mereka yang kehilangan orang-orang yang dicintai.

No more articles