Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Cerita Seorang Fanboy Kpop Melawan Stigma

Redyantino Susilo oleh Redyantino Susilo
20 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menjadi fanboy kpop, kalau nggak gay ya kemayu. Udah ngaku aja, iya kan?

Suatu ketika, seorang teman perempuan—untuk tidak menyebutnya mantan gebetan—bertanya dengan tendensius di kolom chat, “Kamu suka kpop ya?”

Tentu saya saat itu berharap sekali ketika dia berinisiatif menghubungi saya duluan—menyatakan kangen lebih dulu. Tapi ya tidak untuk memastikan apakah benar saya adalah pencinta kpop atau bukan.

Lalu chat dia selanjutnya, “Udah, ngaku aja. Aku tahu kok hehe :)”

Begini, setahu saya, dia bukan penggemar kpop karena saya pernah menanyakan hal tersebut sebelumnya. Saya jelas tidak berada di posisi dapat memilih. Kalau saja dia bertanya karena penasaran atau iseng, tidak masalah.

Tapi saya tahu, dia tidak sedang benar-benar bertanya. Dia—sebagaimana kebanyakan perempuan—sudah tahu jawaban sebenarnya. Dia hanya butuh pengakuan dari saya, bukan jawaban.

Tentu saya sudah bisa menebak akan ke mana arah pembicaraan selanjutnya, beserta arah hubungan kami. Dia, satu dari sekian orang-orang yang mesti diluruskan pemahamannya tentang stereotip penggemar kpop yang dipercayainya.

Menjadi penggemar kpop saja sudah sulit, Saudara-saudarku. Apalagi menjadi seorang fanboy kpop.

Menjadi seorang fanboy kpop berarti harus bersiap dari yang namanya stigma dan stereotip sesat. Lebih sedihnya lagi, stigma dan stereotip ini kadang juga datang dari kalangan fangirl kpop yang jelas-jelas masih satu golongan dengan kami.

Fanboy Kpop Itu Kalau Nggak Gay, Pasti Kemayu!

Mohon maaf nih sebelumnya. Kalau boleh tahu, apa hubungannya selera musik dengan maskulinitas seorang lelaki ya? Terlebih, orientasi seksualnya?

Kalau kata Tretan Muslim sih, yang beginian mah: TIDAK ADA HABLUMNYA!1!!1!

Kalian tahu Sam Smith? Sam Smith itu gay, loh. Lantas, apakah penggemar Sam Smith ikutan gay pula? Kan, nggak.

Nah, begitu juga dengan kami para fanboy kpop. Apalagi yang bias-nya itu dari girl group. Itu normal aja keless. Kan, wajar kalau cowok suka sama cewek. Cowok suka dengan cewek itu justru sah-sah saja. Malahan, itu ciri seorang cowok hetero bukan gay.

Iklan

Lah Terus Gimana Sama yang Ngeidolain Boy Group?

Ya nggak masalah dong. Cristiano Ronaldo fans-nya juga banyak cowok kok. Nggak lantas fanboy Cristiano Ronaldo sudah pasti kemayu dan gay hanya karena idolanya cowok, toh?

Fanboy yang bias-nya cowok itu ya wajar-wajar saja. Lagipula, kekaguman dan ketertarikan seseorang tak melulu bersifat seksual. Bisa saja kagum dengan bakat, sikap, semangat serta kerja keras mereka. Yang lagi-lagi, menjadi ciri khusus bahwa idola kpop memang dibentuk menjadi seperti  itu.

Mereka dilatih tidak hanya untuk menjadi seorang seniman, tetapi juga bagaimana selayaknya seorang idola, seorang tokoh publik. Sungguh adalah keniscayaan untuk mengagumi individu-individu kalangan idola kpop. Mereka ini sudah paket lengkap!1!1!1!

Dasar Makhluk-Makhluk Halu!

Pertama dan utama sekali, penting bagi saya meluruskan tentang halusinasi atau yang biasa disingkat dengan halu ini. Halusinasi secara singkat dapat didefinisikan sebagai gangguan psikis yang membuat penderitanya mengalami gangguan pada panca indranya. Misal, melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, mendengar sesuatu yang tidak ada, mencintai seseorang yang tidak pernah ada.

Ketika seorang penggemar, entah itu fanboy ataupun fangirl, mengklaim dirinya sebagai kekasih, bahkan kadang suami atau istri dari idolanya, hal tersebut tidak dikategorikan sebagai halusinasi. Sudah jelas. Itu, kan, cuma ngaku-ngaku doang.

Tidak jauh berbeda kayak waktu masih kecil main jadi Power Rangers terus semua ngaku jadi Ranger Merah gitu lho. Buat seru-seruan doang. Nggak ada urusannya sama gejala halusinasi. Semua sah-sah saja dalam perang, cinta, dan ngidol.

Kami, para fanboy kpop juga bisa berpikir rasional kok. Sebelum berharap kami sudah sadar diri dulu. Tidak seperti anda yang terus berharap pada seseorang yang jelas tak lagi mencintai anda~

Ah, Suka Karena Visual Doang. Idolanya Sebenarnya Nggak Jago Nyanyi!

Tolong dong. Mikir. Pakai logika saja.

Adalah tugas seorang lelaki untuk mengagumi kecantikan seorang wanita~

Dunia sudah berubah, Bung! Dulu, sewaktu masih zamannya piringan hitam dan kaset pita atau lebih lama sebelum itu, penampilan para penyanyi memang tidak terlalu dianggap penting. Kalau ada penyanyi dengan penampilan menarik, penampilannya tersebut jadi sebatas nilai tambah.

Kini era sudah berubah. Era digital adalah eranya visual. Ini dapat kita lihat dari perkembangan media sosial seperti Youtube dan Instagram. Perkembangan media sosial yang masif ini, mengubah gaya pemasaran bagi para penyanyi. Visual, lagi-lagi adalah kunci utamanya.

Apalagi, kebanyakan dari kita masih teramat percaya bahwa cinta pada pandangan pertama –yang merupakan bukti bahwa kita adalah makhluk yang lemah terhadap tampilan visual—memang benar adanya.

Jadi, wajar kalau kpop melahirkan banyak grup idola yang memiliki visual key-nya masing-masing. Apakah salah metode yang digunakan oleh label-label musik kpop tersebut? Tentu saja tidak. Mereka hanya memanfaatkan hukum alam~

Meski bergitu, pola perekrutan seorang trainee alias anak magang di label musik kpop tetap melihat ke kemampuan bernyanyinya. Penampilan urusan belakang, Shay. Beda jauh dari beberapa golongan pesohor setempat di wkwkw land yang kebalikannya; tamfang dahulu, bakat belakangan alias hadeeeeeeh.

Alur yang harus dilewati seorang calon idola kpop sebelum mereka debut pun sangat berat. Sebagai contoh, pacar saya sendiri Jihyo Twice butuh waktu 10 tahun lebih sebagai trainee  di label JYP Entertainment sebelum akhirnya debut bersama Twice. Sebelum resmi terpilih sebagai personil Twice, Jihyo bersama delapan rekannya di Twice harus berkompetisi dulu dalam ajang Sixteen dengan menyingkirkan tujuh orang trainee lainnya.

Jangan disangka Sixteen itu ajang adu kecantikan. Selain diadu kemampuan menyanyi dan menari yang merupakan bakat wajib bagi para idola kpop, kepribadian dan pesona bintang tiap kontestannya juga dinilai. Acara Sixteen ini sendiri dulu mendapat kontroversi saking “kerasnya” sistem acara tersebut untuk kategori ajang pencarian bakat.

Dengan mengetahui fakta ini, sudah cukuplah rasanya untuk membuktikan bahwa para idola kpop bukanlah orang-orang yang mengandalkan penampilan semata. Mereka sesungguhnya memanglah layak untuk dikagumi.

Yah, tapi tetap, sekagum apapun pada idola kpop tidak boleh melebihi kekaguman kita kepada Rasulullah ya, Sahabat-sahabatku~

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2018 oleh

Tags: fanboy kpopGaykpopersstigma
Redyantino Susilo

Redyantino Susilo

Artikel Terkait

Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis MOJOK.CO
Urban

Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis

5 Mei 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Derita Mahasiswa Kuliah di Jogja yang Tak Disadari: Sulit untuk Lanjut Hidup di Jogja karena Properti yang Mahal, tapi Jika Lanjut, Harus Siap Bergesekan dengan Warga Lokal
Kampus

Derita Mahasiswa Kuliah di Jogja yang Tak Disadari: Sulit untuk Lanjut Hidup di Jogja karena Properti yang Mahal, tapi Jika Lanjut, Harus Siap Bergesekan dengan Warga Lokal

31 Mei 2024
Gym di Malang Jadi Incaran Cowok Gay MOJOK.CO
Ragam

Pengalaman Ngeri Nge-Gym di Malang, Jadi Incaran Cowok Gay Agresif hingga Dapat DM Membagongkan

7 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.