MOJOK.COIslam menyambut baik modernitas, tanpa harus melepas ajaran dan budayanya.

Adu jotos, adu kuat, saling hajar, saling tikam, tentu saja bukanlah fenomena kontemporer, tapi nyaris sudah menjadi fenomena sejarah di timur tengah, sebagaimana juga terjadi pada peradaban lain, misalnya Ottoman, di mana Selim I (satu) digelari khalifah pertama Ottoman, prototipe pemimpin yang sedang ingin dihidupkan kembali oleh Erdogan, selain Mehmed II.

Gelar ini bukan gelar ujug-ujug, melainkan hasil penaklukan dunia Arab yang berdarah-darah. Selim I menyingkirkan bapaknya, Sultan Bayezid II, dari tampuk kekuasaan Ottoman, lalu menangkap dan membasmi saudara-saudaranya yang dianggap berpotensi menjadi ancaman kekuasaanya (Erdogan melakukan hal yang sama beberapa tahun belakangan).

Setelah berhasil mengonsolidasikan kekuasaan di internal Ottoman, Selim I mulai berekspansi dengan menaklukan Savafid, Persia, Iran sekarang, sampai benar-benar lumpuh dan tak lagi jadi ancaman. Kala itu Savafid diperintah oleh Shah Ismail, yang kalah dalam perang Chaldiran oleh Selim I.

Kemenangan terbesar Selim I adalah menaklukan Kesultanan Mamluk di Mesir (Abbashid Caliphate/Kekhalifahan Abbasiyah generasi kedua setelah generasi pertama takluk oleh Mongol di Bagdad). Salah satu sumber sejarah mengatakan bahwa sekitar 800 pejabat Mamluk yang tertangkap, dipisahkan dari kepalanya di depan Selim I. Kepala mereka dikoleksi sedangkan tubuhnya dibuang ke Sungai Nil. Transfer kekuasaan khalifah dari Abbasiyah ke Ottoman (Ustmaniyah) dilakukan dari Sultan Mutawakil III ke Selim I. Setelah itu, Mesir diturunkan statusnya hanya sebagai salah satu provinsi Ottoman.

Penaklukan Mamluk kemudian membawa Ottoman menjadi penguasa Mekkah dan Madinah. Inilah yang menjadi pelengkap Selim I menyandang gelar khalifah pertama Ottoman dan sebagai penjaga haji (setelah Saudi lepas dari Ottoman pasca-perang dunia pertama, Saudi kemudian jadi penguasa Mekkah/Ka’bah. Sebelumnya, Ottoman memercayakan urusan Ka’bah kepada keluarga Saud).

Selim I adalah simbol kekuasaan global Ottoman. Di tangannya, wilayah kekuasaan Ottoman bertambah satu setengah kali lipat dan menjadi salah satu imperium paling berpengaruh di dunia. Namun, hampir semua wilayahnya merupakan pencaplokan dari wilayah Islam lainya di Arab. Sementara Mehmed II, adalah simbol kemenangan Ottoman atas Eropa, sebab wilayah kekuasaannya mencapai Konstantinopel (Istanbul, Turki) hingga Romawi Timur atau Bizantium.

Kekaisaran Romawi Timur atau Kekaisaran Bizantium adalah salah satu kekaisaran terkuat. Ia sudah berkali-kali diserbu, termasuk oleh Islam (Seljuk) di abad 7 dan 8, namun hasilnya nihil. Di abad 9 dan 10, Bulgar Khan dan Thomas the Slav juga gagal menaklukannya. The Rus atau cikal bakal Kekaisaran Rusia juga berkali-kali mencoba di abad 9, 10, dan 11, namun hasilnya sama: gagal.

Baca juga:  Jangankan Nikah Beda Agama, Nikah Beda Aliran Saja Sulit

Mengapa? Pertama, karena tata kota untuk pertahanan Bizantium telah dipersiapkan dengan baik oleh Theodesius II di abad 5, yakni tiga lapis dinding dengan dikelilingi tiga sisi air (posisinya di peninsula atau semenanjung). Kedua, Bizantium punya senjata rahasia andalan, namanya “Greek Fires”. Ia semacam semprotan api mematikan dari kapal-kapal Bizantium. Dua faktor itulah yang sangat menentukan dalam kemenangan Bizantium dari serangan yang bertubi-tubi menghajarnya.

Lantas, mengapa Mehmed II bisa melewati keduanya? Inilah salah satu perang inovasi dalam peperangan antar kekaisaran. Ottoman di era Mehmed II juga punya senjata andalan yang mematikan. Sejarawan barat sering menyebutnya dengan istilah “Ottoman’s Siege Gun”. Apakah senjata ini dibuat oleh orang Ottoman? Tidak. Yang mendesain senjata andalan Ottoman tersebut justru orang Hungaria, bernama Urban.

Penampakan “Ottoman’s Siege Gun” tak jauh berbeda seperti meriam, hanya saja, ia punya ukuran yang super jumbo. Panjangnya sekitar 9 meter, bagian moncongnya sekitar 3 meter. Senjata ini mampu meluncurkan peluru seberat 500 kg sejauh 1,5 Km.

Di zaman itu, senjata tersebut terbilang sangat gila. Sekali tembak, dinding Bizantium bolong. Inilah salah satu kunci kekuatan Ottoman saat menaklukan Bizantium, selain jumlah pasukan dan kapal perangnya, tentu saja.

Setelah Bizantium Jatuh, Mehmed II memasuki tengah kota lantas berdiri di depan Hagia Sopia dan mendeklarasikan bahwa gereja Hagia Sopia, akan diubah statusnya menjadi Masjid.

Berapa jumlah korban dalam perang tersebut? kurang lebih 4.000 jiwa meninggal, 50 ribu dijadikan budak, dan tak sedikit yang memilih bunuh diri.

Jadi, jika hari ini Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Qatar, dan sekutu Saudi lainnya tidak sejalan dengan Turki, maka itu bukanlah hal yang baru. Tidak sejalan dengan Iran dan Syiah juga bukan hal baru.

Bahasa dan budaya Turki berbeda dengan Bahasa Arab. Sunni dan Syiah pun tak sama dalam banyak hal. Jadi sangat bisa dipahami. Meminta mereka semua bersatu dengan baik-baik rasanya adalah hal yang kurang masuk akal.

Sejarah membuktikan, hanya dengan penaklukan hal tersebut bisa tercapai. Dunia Arab pernah berada di bawah Ottoman, tapi saat ada kesempatan untuk keluar dari kekuasaan Ottoman dengan cara berkolaborasi dengan kekuatan Eropa, hal tersebut benar-benar dilakukan. Ini pertanda bahwa Arab memang tak sejalan dengan Ottoman.

Dinasti Safawiyyah (Persia) pernah ditaklukan oleh Ottoman, tapi tak pernah menjadi pendukung Ottoman. Bahkan pemberontakan demi pemberontakan sering terjadi.

Baca juga:  Menolak Warga Non-Muslim Pakai Dalih Aturan Adat kok Nanggung

Sunni dan Syiah selalu berseteru, memperebutkan pengaruh di negara-negara Arab. Lihat saja Yaman, Suriah, Irak, dan Lebanon, termasuk Palestina. Sementara rebutan pengaruh Turki dan dunia Arab juga masih berlangsung di Libya, Suriah, dan Yaman.

Jadi, perkara kerajaan di Indonesia punya hubungan dengan Ottoman, itu memang fakta sejarah. Memang harus diterima. Namun, selayaknya sejarah, ia tak harus terus bertahan. Mesir dan nyaris seluruh Arab toh juga pernah berada di bawah Ottoman, bukan hanya punya hubungan, tapi jadi provinsinya, dan sampai hari ini, mereka tak mau kembali ke zaman saat mereka berada di bawah Ottoman.

Maka, kalau masih ada yang ngotot ingin khilafah-khilafahan, tengok saja timur tengah. Hanya Bagdadi yang menginginkan menjadi khilafah di Irak dan Suriah dengan ISIS-nya itu. Dan semua orang tahu, seperti apa tatanan pemerintahan di dalam ISIS.

Kata kunci dari Mehmed II, salah satunya adalah Inovasi dan menghargai inovasi. Ottoman di masa-masa pengakhirannya banyak bersentuhan dengan teknologi barat. Kereta api dari Jerman dan kapal modern dari pabrikan Inggris, misalnya.

Toh pada akhirnya, salah satu sebab kehancuran Ottoman juga karena ketertinggalan dalam teknologi yang mendukung militernya. Ottoman unggul karena teknologi, pun hancur juga karena faktor teknologi.

Di zaman sekarang, tak penting lagi khilafah-khilafahan. Penguasaan teknologi untuk kemajuan bangsa jauh lebih prinsipil. Negara-negara Arab yang hari ini mentereng kota-kotanya, adalah negara-negara yang mampu memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, meskipun datangnya dari Eropa, China, bahkan Israel. Mengeluarkan minyak dari perut bumi membutuhkan ilmu dan teknologi. Jika mereka tak punya, mereka tak segan menggandeng negara yang punya teknologi yang memadahi. Ingat, Mehmed II menggunakan senjata buatan orang Hungaria untuk mengalahkan Bizantium.

Riyadh, Abu Dhabi, Kuwait, Doha, dan kota-kota maju di negara Islam timur tengah lainnya senantiasa menerima modernitas dan ilmu pengetahuan. Islam menyambut baik modernitas, tanpa harus melepas ajaran dan budayanya.

Silakan jalan-jalan ke timur tengah. Cobalah tanya ke banyak penduduk di sana tentang apakah mereka mau kembali menjadi negara khilafah? Pastilah sebagian besar jawabannya adalah tidak. Dan kita, di Indonesia, seharusnya bisa seperti mereka, yang tak pernah ribut dan berharap kepada khilafah, yang cenderung mengundang kebisingan sosial politik di ruang publik kita.

BACA JUGA Ada Khilaf dalam Khilafah