Rabu sore, saat saya buka Twitter sambil menunggu hujan reda, tiba-tiba saya menemukan kicauan ustadz kondang Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym di-retweet oleh seorang teman. Saya baca dalam hati. “Saya stop menggunakan LINE karena terang terangan mempromosikan LGBT … Ayo pakai sosmed yang sehat saja!” (Sekali lagi, ini saya bacanya dalam hati lho ya, dan saya harap, Anda juga begitu)

Kicauan Aa Gym cukup membuat saya terhenyak. Saya yang belum tahu perihal keramaian yang terjadi di dunia maya soal LINE dan LGBT pun segera mencari pencerahan, bertanya kepada sang pemberi jawaban yang tiada pernah berbelit-belit: Mbah Google.

Usut punya usut, ternyata netizen geger gara-gara ada stiker bertajuk “Love is Love” dan “Enjoy Gay Life” di LINE. Ealah… Media online yang memang cepat dan tanggap pun tentu nggak mau kehilangan momen. Keributan itu langsung menjadi berita. Salah satu yang dijadikan berita tentu saja cuitan Aa Gym. Judul yang dibuat rata-rata seragam, intinya Aa Gym serukan boikot LINE gara-gara dukung LGBT.

Sore itu juga, saya coba kontak teman saya yang sudah come out dengan saya kalau dia seorang gay. Ya, pikir saya kalau dia sudah mengunduh di LINE kan saya bisa lihat stiker itu. Maklum, saya enggak bisa ikutan karena enggak punya koin LINE. Mau berbayar pun eman, 50 koin yang kalau dinominalkan jadi Rp 15 ribu itu bagi saya lumayan lho, bisa buat makan nasi telur dua kali di tempat Aa’ Burjo. Heuheu…

“Eh, lu udah download stiker LGBT di LINE belum? Lagi rame tuh!”

“Gue udah coba tapi ternyata udah enggak ada. Udah ditarik sama pihak LINE Indonesia kayanya. Syedih, nggak bisa kirim stiker mesra ke pacar gue dong,” kata si Dio, teman saya yang juga mahasiswa kampus paling mentereng di Jogja. Saya yang baca pun ketawa ngakak.

Ternyata benar, enggak mau berada di posisi terancam dan dihujat, pihak LINE Indonesia langsung tanggap dengan menarik stiker berbau LGBT itu. Saya cukup penasaran, Memangnya sepanas apa sih stiker itu sampai Aa Gym kebakaran jenggot dan LINE langsung menariknya? Saya coba tanya Mbah Google lagi. Dari screenshot yang beredar di media sosial, saya cukup bisa melihat seperti apa stiker-stiker itu.

Stiker “Love is Love” menggambarkan dua tokoh cowok berkaos putih dan biru sedang bermesraan, mulai dari berdekapan hingga berciuman. Duh… pasti bikin pasangan heteroseksual–apalagi yang jomblo–iri. Saya mengerti dengan perasaan itu. Sementara stiker “Enjoy Gay Life” bagi saya cenderung lebih bervariasi. Isinya gambar unyu-unyu dengan gerak tubuh yang lebih ekspresif, ada yang tiduran tanpa baju sampai ekspresi meliukkan tubuh bak orang berjoget. Dan seperti isu-isu LGBT sebelumnya yang menyeruak di Tanah Air, para homofobik yang sangat jijik melihat keberadaan LGBT pun langsung merespon positif cuitan Aa Gym.

Menurut saya, yang bikin menarik sebenarnya bukanlah cuitan Aa Gym, melainkan justru komentar-komentar yang nongol membalas cuitan si Aa itu. Saya sengaja stalking komentar-komentar tersebut. Maklum saja, saat enggak ada kerjaan, saya memang paling hobi buat stalking, mulai dari stalking media sosial ibu saya, medsos teman, medsosnya temannya teman, sampai medsosnya mantannya teman. Ya, kali aja bisa digebet. Namanya juga usaha.

Komentar yang muncul menanggapi cuitan Aa bermacam-macam, mulai mendukung, memprotes, sok bijak, sampai menyindir si Aa.

@aagym di-delete aja Aa dan kita bersatu tuk membumihanguskan LGBT,” kata akun @isula73_sule. Wow… batin saya. Ini pasti jamaah Daarut Tauhid, kalau enggak ya pengguna layanan MQTravel. Komentar yang setipe dengan ini banyak sekali. Saya sendiri belum sempat menghitungnya. Ada yang mau bantu?

Mereka yang enggak sepakat dengan tindakan Aa Gym pun punya banyak cara menyampaikan. Seperti akun @bellavince: “@aagym buang iphonenya, buang iphonenya, buang iphonenya serta mulia, serta muliaaa, serta muliaaaaaa.” Atau akun @firmanisme: “Dear @aagym Twitter juga, A. Masa iklannya Blued. Bahaya nih bikin memori hp penuh. Apus Grindr Jackd atau Hornet, A?” Lho ternyata Twitter dukung LGBT? Kok Aa masih pakai sih?

Namun di antara semua respon itu, ada satu netizen yang menyindir si ustaz dengan sangat amat mak jleb.

@aagym Kalo Line mempromosikan poligami apakah akan disupport?” kata @spawnist.

Skakmat! Modyar!

Dari media online yang sudah gencar membuat banyak angle berita mengenai isu stiker itu, saya jadi tahu juga kalau ternyata LINE enggak sendirian. Ada banyak media sosial yang ternyata juga memberikan fasilitas layanan dengan berbagai bentuk untuk LGBT. Netizen pasti belum lupa dengan Rainbow Flag yang dibuat Facebook sebagai perayaan disahkannya pernikahan sejenis di Amerika. Twitter juga banyak sekali memuat iklan aplikasi kencan sesama jenis. Aplikasi chatting yang banyak digunakan, yakni WhatsApp, ternyata juga sudah punya emoji yang menggambarkan LGBT. Emoji yang ada di ponsel iPhone pun juga sudah ada yang mewakili hubungan sesama jenis. Coba amati sendiri gawai pintarmu untuk lebih jelas.

Melihat fakta tersebut, bagi saya si Aa seharusnya konsisten, dong. Jangan cuma  mengajak jamaah Aa buat stop pakai LINE, tapi juga Facebook, WhatsApp, iPhone, serta Google, yang mana turut memberikan dukungan kepada LGBT. Kenapa kok cuma LINE? Aa semestinya bisa berlaku adil, sama seperti adilnya Aa ke dua istri Aa. Eh, adil atau enggak sih, A?

Saya sendiri sih sebenarnya nggak mempermasalahkan kalau Aa nggak setuju sama LGBT. Toh memang sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum mengakui kalau LGBT nyata ada di sekeliling kita. Tapi mbok yo enggak usah meributkan hal remeh begini. Stiker LGBT ini enggak lebih kaya remukan peyek di sudut toples, amat kecil. Berilah sedikit kebebasan mereka para LGBT buat berekspresi dengan sesama teman LGBT-nya lewat stiker itu. Membuat stiker sebagai perwakilan ekspresi apapun toh juga menjadi hak masing-masing kreator. Mereka yang hetero enggak mungkin download kok, kecuali iseng.

Kabar terbaru, Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, akan menyurati WhatsApp dan memintanya untuk menghapus emoji LGBT-nya. Aneh, kok dikit-dikit yang ada embel-embel LGBT-nya langsung dibenci. Enggak punya teman LGBT, ya? Kenapa enggak sekalian WhatsApp diblok di Indonesia? iPhone juga tuh!

Ngomong-ngomong, kalau stiker bertema poligami dibikin para kreator stiker LINE kayanya asik juga, tuh. Seandainya ada yang memprotes, ya wajarlah, tapi minimal kan sudah ada yang siap mendukung. Aa Gym usulin buat stiker LINE poligami dong! Ntar saya ikut download, deh!

Bagaimana usulan saya, Aa? Betul tidak?

No more articles