MOJOK.COSemoga, suatu saat nanti, entah kapan, Deddy Corbuzier akan comeback bersama Hitam Putih menyajikan tayangan inspiratif sekali lagi.

Selepas kerja dan pengin nyantai sambil nonton TV, saya dibuat kaget bukan main ketika melihat Deddy Corbuzier berduet dengan Ivan Gunawan di sebuah program TV. Awalnya, saya mengira Ivan Gunawan sedang menjadi bintang tamu di acara Hitam Putih. Namun, kemudian saya menyadari keanehan berikutnya.

Studio di program TV itu nggak kayak Hitam Putih, malah lebih mirip talkshow Brownis di Trans TV. Saya mikir, masa iya, Hitam Putih sekarang konsepnya model begitu, terus lagi, Ivan Gunawan ternyata memang bukan bintang tamu, melainkan pembawa acaranya juga.

Walah, ternyata yang saya tonton adalah program OOTD atau kepanjangannya adalah Obrolan of the Day, talkshow pengganti Hitam Putih yang ternyata sudah berhenti tayang per April 2020 lalu.

Saya sempat kecewa. Bagi saya, Hitam Putih adalah salah satu talkshow terbaik. Program yang sudah membesarkan nama Deddy Corbuzier di dunia presenter itu tidak pernah mengejar isu viral. Mereka memilih isu yang inspiratif dan dirasa sangat layak untuk diangkat.

Tapi ya, mau bagaimana lagi. Meski program itu sudah tayang sekitar sepuluh tahun, pada akhirnya harus berhenti tayang juga. Alasannya, katanya, rating-nya mulai jeblok. Iya, tayangan inspiratif selalu kalah rating, kemudian muncul penggantinya yang ngejar isu viral agar banyak ditonton. Banyak yang nonton, otomatis rating naik, otomatis pengiklan banyak, otomatis duit berdatangan.

Saya tidak mengatakan program OOTD jelek. Nggak masalah juga kalau Deddy Corbuzier berkolaborasi dengan Ivan Gunawan untuk membahas isu viral sampai gosip artis. Tetapi, bukankah acara seperti itu sudah ada di TransTV, yang masih satu grup dengan Trans7? Lantas kenapa Trans7 harus ikut-ikutan bikin acara seperti itu juga? Oh iya, kan memang acara begitu banyak yang nonton. Ah, lagi-lagi urusan rating.

Untungnya, saya rasa, Deddy Corbuzier tak ingin acara inspiratif hilang dari dunia pertelevisian. Muncul program TV bertajuk Deddy’s Corner yang tayang di TransTV.

Konsepnya sederhana sekali. Deddy Corbuzier sebagai pembawa acara mendatangkan bintang tamu. Mereka mengomentari isu yang tengah ramai. Diskusinya panjang, seru, dan mendalam. Memang tidak seserius Hitam Putih, pun tidak menghadirkan tamu-tamu inspiratif untuk diulik kisah mereka. Namun, melihat bagaimana Deddy Corbuzier dan bintang tamu membahas sebuah isu tetap menarik untuk ditonton.

Pada awalnya, saya berharap Deddy’s Corner akan menjadi, setidak-tidaknya, mirip Hitam Putih. Artinya, akan ada bintang tamu yang bisa menginspirasi penonton melalui kisahnya. Kemudian, Deddy Corbuzier akan membahas isu sosial yang berkaitan dengan kisah si bintang tamu itu tadi.

Mendiskusikannya secara mendalam sehingga penonton akan memiliki perspektif baru terkait isu yang diangkat. Semisal, menghadirkan Puthut EA. Lantas diskusi akan berlanjut ke bagaimana media-media pengkritik pemerintah kerap mendapatkan “peretasan” dari pihak-pihak tertentu. Misalnya artikel satire yang diturunkan karena “melanggar” ketentuan media sosial.

Ah benar juga, Podcast Close the Door di kanal YouTube Deddy Corbuzier memang beberapa kali melakukan seperti yang saya harapkan tadi. Meski saat ini terkenal sebagai sarana untuk klarifikasi.

Tidak bisa dimungkiri bahwa beberapa sosok yang dihadirkan di Podcast Close the Door memang sangat inspiratif. Saking inspiratifnya, perbincangan di podcast tersebut sampai kerap dimanifestasikan menjadi bentuk lain seperti artikel-artikel media digital dengan berbagai sudut pandang yang berbeda tergantung media mana yang memanifestasikannya.

Lucu memang bagaimana fenomena mengontenkan konten orang lain ini marak di industri media digital. Ibaratnya, Deddy Corbuzier, atau siapa saja, yang mengundang, melakukan obrolan, mengunggah video, membuatnya trending, dan media-media di luar sana tinggal menyedot habis-habisan esensi dari obrolan tersebut.

Yang paling sering terjadi, tinggal merangkum obrolan dan menuliskan garis besarnya menjadi sebuah artikel. Seperti yang dilakukan Mas Yesaya Sihombing melalui esainya berjudul “MasterChef Indonesia Rekayasa Saja? Ya Bodo Amat yang Penting Bisa Belajar Tentang Kehidupan dari Chef Juna” yang tayang di mojok pada 07 November 2020 lalu.

Apa pun itu, Deddy’s Corner ternyata memang bukan reinkarnasi Hitam Putih, dan sebenarnya saya memang tidak berharap ada program TV yang ke-Hitam Putih-Hitam Putih-an. Yang menyerupai Hitam Putih tidak perlu ada lagi, pun sebenarnya program dengan pembawa acara Deddy Corbuzier feat Ivan Gunawan juga sangat tidak perlu.

Kesannya pengin banget viral dan dapat rating tinggi, mengingat obrolan Deddy dan Ivan Gunawan di Podcast Close the Door beberapa waktu lalu sempat bikin geger. Yang saya inginkan hanya sederhana, yaitu suatu saat nanti yang entah kapan, Hitam Putih akan kembali tayang dan menyajikan tayangan inspiratif sekali lagi.

BACA JUGA Apa Pun Kasusnya, Klarifikasinya di Podcast-nya Deddy Corbuzier dan tulisan-tulisan lainnya di rubrik ESAI.

Baca juga:  Efek Deddy Corbuzier Mualaf, Akankah Smart People Berganti Jadi Madani People?