Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Benarkah Jika Perempuan Nggak Bisa Masak, Suaminya Bakal Selingkuh?

Restya Wulandari Utami oleh Restya Wulandari Utami
26 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau perempuan nggak bisa masak lalu diselingkuhi, berarti kalau laki-laki nggak bisa benerin antena TV enaknya diapain?

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebait puisi :

“Sayang, istrimu ini nanti tak pandai memasak. Tapi ia bisa membereskan apapun yang berantakan. Jadi jika suatu hari nanti kau mengacaukan rumah tangga kita. Maka aku bersedia membereskannya. Sepenuh hati.”

“Perempuan yang nggak bisa masak itu, bikin pasangannya mudah selingkuh.” Mendengar ibu saya berkata seperti itu, membuat saya hanya tertawa. Aneh. Istri nggak bisa masak, kok suami bakal selingkuh. Nggak ada hablum-nya, Buk.

“Tentu saja ada hubungannya.” Jawab ibu. Katanya, yang namanya lelaki ini, akan sangat senang jika diperhatikan oleh pasangannya. Mulai dari pakaian yang akan dikenakan ke kantor, sampai makanan yang akan ia makan. Sudah menjadi kodratnya perempuan menyiapkan kebutuhannya. Itu yang selalu dibicarakan ibu kepada saya. Setiap hari.

Ibu juga orang yang paling cerewet kalau saya tidak dapat membedakan kencur dan kunyit. Setiap beliau memasak pun, saya yang disuruh menakar-nakar gula dan garam atau membuat bumbu tumisan.

Kadang saya agak protes juga. Saya bilang, kalau jaman sekarang itu sudah serba instan. Sudah banyak dijual bumbu yang sudah jadi dengan takaran yang pas. Jadi, sudah tidak perlu lagi berepot-repot ria membuat bumbu dari berbagai jenis rempah dan mengolahnya sendiri. Tapi ibu tidak bergeming.

Di usia saya yang 23 tahun—yang sudah memasuki quarter life crisis ini­—saya hanya stuck bisa masak yang goreng-gorengan. Semacam, ikan goreng, ayam goreng, nasi goreng, mie goreng, dan goreng isu telur dadar. Meski menggoreng terlihat sangat mudah, itu pun terkadang daging dalam ayamnya belum matang.

Tapi, kalau kamu tanya untuk urusan berbersih rumah, tenang, saya jago mengatasinya. Sesuai dengan motto di hidup saya, “Jika kamu cari yang pintar masak, maka saya mundur. Namun, jika kamu cari yang mundur-mundur waktu masak, saya maju.”

Ya, sebab saya takut kalau kena cipratan minyak panas. Hehehe.

Lantas benarkah jika saya tidak juga pintar memasak, maka pasangan saya bakal selingkuh dengan orang yang pintar memasak? Jadi gini, beberapa bulan lalu, saya dekat dengan seorang lelaki yang lumayan tajir. Sebut saja namanya Maman. Dia bekerja sambil kuliah di negeri sakura sana. Suatu ketika, dia bilang kepada saya, “Kalau kamu jadi istriku nanti, kamu harus bisa masak. Kalau nggak, aku mau madu kamu.” Lantas saya tertawa…

…tertawa getir karena menyadari, bahwa niat dia dari awal saya sudah tidak baik—menurut nilai hidup saya. Bisa-bisanya dia sudah berniat mempoligami sedari awal. Meski dalam ajaran Islam poligami tidak diharamkan asal laki-lakinya mampu menafkahi lahir dan batin secara adil, lantas sepercaya diri itukah dia bisa bertindak dengan adil?

Bagi saya, itu hanyalah akal-akalan dia saja yang dibuat-buat supaya bisa selingkuh nantinya. Supaya suatu hari nanti, saya menyesali, mengapa tidak memilih kuliah di jurusan masak saja, dibanding jurusan jurnalis. Jika akhirnya ternyata dimadu.

Hmmm, tidak bisa, Bung. Saya pun memutuskan untuk mundur seribu langkah. Kata-kata yang dia ucapakan itu seperti amukan yang menakutkan bagi saya pribadi. Saya tidak habis pikir, pasalnya masalah perempuan nggak bisa masak, sebetulnya hal yang paling sepele bagi saya.

Iklan

Begini loh, tidak semua orang itu punya bakat dalam memasak. Toh sekarang yang paling banyak menjadi seorang chef, justru laki-laki.

Lagian, kalau punya pasangan anak konglomerat, tajir, penghasilan banyak, apa salahnya punya asisten rumah tangga untuk memasak setiap hari?

Selain itu, tidak ada hadist dan riwayat yang mewajibkan perempuan harus bisa memasak. Kalimat perempuan wajib bisa memasak, menurut saya hanyalah kata turun-temurun dari nenek moyang yang sekarang dianggap jadi hal yang mutlak. Padahal ya, nggak juga.

Apalagi kalau itu dijadikan alasan untuk memadu, atau terpaksa selingkuh karena keinginan poligami tidak mendapat restu. Bakal aneh kalau ditanya, “Kenapa kamu nikah lagi?” atau “Kenapa kamu selingkuh?” lalu dijawab, “Karena dia kalau masak ayam goreng, dalemnya nggak mateng.” Kan nggak lucu, ya. Yang ada malah kelihatan malu-maluin.

Hingga saat ini, saya masih tidak percaya dengan apa yang ibu saya katakan. Pasalnya, saya sudah terdoktrin dengan lagu anak-anak yang sering saya nyanyikan ketika kecil. Begini liriknya, ““Mama setiap hari memasak tapi masak tak pernah enak. Tul betul! Papaku juga tak pernah marah, mereka sungguh bahagia.”

Jika memang perempuan diwajibkan harus bisa memasak, itu artinya seorang laki-laki juga wajib bisa membenarkan keran air yang rusak, mengganti antena televisi, mengganti jendela yang engselnya rusak, menyedot WC yang tersumbat, menguras sumur yang ada lelenya, dan menyervis AC yang sudah tidak dingin. Jadi, tidak perlu lagi untuk panggil tukang. Bagaimana, adil, bukan?

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2018 oleh

Tags: memasaknggak bisa masakperempuanselingkuhstereotip
Restya Wulandari Utami

Restya Wulandari Utami

Artikel Terkait

pekerja perempuan.MOJOK.CO
Aktual

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO
Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO
Esai

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

13 April 2026
Jadi LO sertifikasi kerja rawan bujukan wanita simpanan
Ragam

Jadi LO Sertifikasi Kerja di Jogja, Kena Modus “Eksplor Jogja” Berujung Bujukan Jadi Wanita Simpanan

12 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji magang di Jakarta bisa beli iPhone gak kayak kerja di Jogja

Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita

28 April 2026
pekerja perempuan.MOJOK.CO

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Minyak wangi cap lang lebih bagus dari FreshCare. MOJOK.CO

Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

27 April 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya.MOJOK.CO

Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

30 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.