Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Kuliah di Kampus Islam Padahal Agamamu Bukan Islam

Khumaid Akhyat Sulkhan oleh Khumaid Akhyat Sulkhan
24 Juli 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bagaimana rasanya kuliah di kampus Islam padahal kamu bukan orang Islam?

Sebagai seorang pemeluk agama Kristen, Rani nyaris tak pernah berpikir bahwa kelak akan mengenyam pendidikan di sebuah kampus Islam. Karena, sejak dulu hanya ada dua pilihan sekolah dalam hidupnya; umum atau yang di bawah Yayasan Kristen. Maka ketika memasuki jenjang kuliah, Rani memilih jurusan Sastra Inggris di salah satu universitas kristen di Yogyakarta.

Iklan

Namun, pada pertengahan masa kuliah, tiba-tiba orangtua Rani memintanya pindah jurusan.

“Mereka ingin aku mengambil Pendidikan Bahasa Inggris,” ujar Rani.

“Awalnya aku mencoba transfer ke beberapa universitas di bawah Yayasan Katolik dan Kristen, tetapi ada hal yang nggak bisa membuat aku transfer karena peraturan kampus. Aku mencari universitas umum yang enggak di bawah yayasan agama apapun, tapi tetap enggak menemukan yang cocok.”

Setelah menghabiskan waktu dalam pencarian, akhirnya Rani menjatuhkan pilihannya pada Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Pertimbangan dia saat itu ialah jurusan pendidikan bahasa inggris dan universitasnya sama-sama sudah memiliki akreditasi yang bagus. Maka, mantaplah dia memasuki universitas tersebut meski bukan dalam naungan yayasan seagamanya.

Saya kemudian tetarik untuk mengulik pengalamannya di UII. Bagaimanapun, sebagai sebuah universitas berlabel Islam, UII punya standar nilai-nilai kultur yang disesuaikan dengan Agama Islam pada umumnya. Seperti kewajiban bagi setiap mahasiswinya supaya mengenakan jilbab dan berpakaian syar’i untuk menutup aurat di lingkungan kampus.

Hal tersebut berlaku pula untuk non-muslim yang kuliah di UII, tanpa terkecuali. Maka, mau tak mau Rani akhirnya berjilbab dan mengenakan pakaian sebagaimana standar UII saban masuk kuliah.

“Memang secara manusiawi aku agak shock karena harus menutup kepala. Sementara pakaianku kan jarang ada yang panjang,” tuturnya. “Tapi, kan aku tujuannya belajar, jadi enggak masalah. Dari kacamata agama yang kuanut, kami percaya Tuhan itu tahu isi hati kita jadi even kita pakai hijab atau pake apa lah Tuhan tetap mengasihi kita kok.”

Pada saat awal masuk UII, dia merasa jadi sorotan banyak orang. Terlebih, saat memperkenalkan diri sebagai penganut Kristen, tak sedikit mahasiswa yang memandangnya aneh dan terkesan merendahkan. “Sampai ada yang bilangin aku seperti kalo orang Islam ketemu sesuatu yang menimbulkan dosa, kalo tidak salah nyebut naudzubilah minzaliq,” ujar dia.

Penasaran, saya lalu bertanya, “Apa mereka mengatakan itu sambil berbisik?”

“Loudly (keras),” jawab dia. Saya terhenyak. Meski demikian, Rani menganggapnya wajar.

“Yang namanya orang pasti ada yang siap dan belum siap sama heterogenity (keanekaragaman) dari masyarakat kita. Ada beberapa yang respect dan ada beberapa yang seakan menganggapku rendah. Aku sih nothing to loose.”

“Aku merasa jadi sorotan, sampai lulus,” kata dia. Namun, bukan berarti dia tak memiliki banyak teman. Sebab, sepanjang kuliah di UII dia menemukan banyak mahasiswa muslim yang baik dan selalu mendukungnya. Hanya saja saat berkumpul dengan mereka, dia beberapa kali harus googling supaya paham apa arti kata ta’aruf, ghibah, dan lain sebagainya.

Iklan

Selain soal kultur, dalam pendidikannya, UII juga memiliki sejumlah aktivitas studi Islam seperti Orientasi Nilai Dasar Islam dan Pesantrenisasi (yang semuanya diwajibkan sebagai syarat untuk bisa lulus). Dalam setiap kegiatan tersebut, mahasiswa diajari membaca Al-Quran, menulis huruf hijaiyah, fikih, sampai tauhid. Itu belum termasuk ujian hafalan juz amma dan doa sehari-hari.

Saya jadi penasaran, bagaimana cara Rani melewati semua kegiatan yang kental dengan keislamannya tersebut.

“Waktu pesantrenisasi aku mencoba lobi DPPAI (pengurus bagian keislaman UII) untuk dapat perlakuan yang meringankan aku agar tidak ikut prosesi mengaji. Sempet keki sama petugas yang di DPPAI karena mereka shock dan enggak percaya sampe minta bukti KTP segala,” kata dia.

Beruntung, dia akhirnya bertemu dengan Kepala DPPAI (Direktorat Pendidikan dan Pengembanga Agama Islam) yang kemudian memberinya hak istimewa: tetap ikut pesantrenisasi tetapi sebagai formalitas saja. “Puji Tuhan, pokoknya say thanks banget buat UII yang sudah memfasilitasi studiku,” tutup dia.

Di lain obrolan, pengalaman berbeda didapatkan oleh Tara, mahasiswa Fakultas Kedokteran di universitas yang sama. Tara adalah seorang penganut Hindu dan asli Yogyakarta.

Jika Rani di atas merasa jadi sorotan banyak mahasiswa karena non muslim, Tara bisa mengatasi hal itu dengan cara guyonan.

“Aku biasa ngafir-ngafirin diri sendiri malah, hahahaha,” gurau Tara.

Sejak remaja Tara mengaku terbiasa hidup dalam kemajemukan. Ia bahkan bersekolah di Yayasan Katolik sejak TK hingga SMA. Teman-temannya pun berasal dari lintas agama. Jadi, tak heran bila soal lingkungan yang beda agama sudah biasa bagi Tara.

Cuma ada satu hal yang sempat membuat Tara bingung: bagaimana caranya supaya dia bisa melalui ONDI dan Pesantrenisasi UII?

Tara lalu berkonsultasi dengan pihak Fakultas Kedokteran (FK) UII dan hasilnya dia tetap diwajibkan mengikuti semua kegiatan tersebut. Hanya saja tidak dipaksa untuk menguasai bacaan Al-Quran atau hafalan surat-surat pendek. “Tetap ikut saja, tapi nanti enggak usah mendalam, sebisanya biar nambah pengetahuan, kata dosenku,” tutur Tara.

Selama sebulan mengikuti pesantrenisasi, Tara hadir dalam setiap kegiatan, kecuali ketika salat. Jika waktu salat tiba, ia biasanya memilih ngobrol dengan temannya yang sesama non-muslim. “Ya, paling ngobrolin kuliah sama ngobrolin cewek, kadang,” ujarnya.

Menurut Tara, selain ONDI dan pesantrenisasi, di FK UII juga ada semacam kegiatan mentoring. Kegiatan ini masih termasuk kategori pendalaman keislaman, meliputi hafalan, mengaji, dan lain sebagainya. Melalui perjuangan hafalan, dalam kegiatan ini Tara mengaku berhasil mengafal sejumlah surat pendek Juz Amma. Sampai-sampai, pada saat tes hafalan, pengujinya saja tidak menyangka kalau sebenarnya Tara adalah penganut Hindu.

“Terus, aku dapat pertanyaan seputar salat dan itu kayaknya cuma bisa dijwab orang muslim, aku enggak tahu. Terus aku bilang kalau aku Hindu,” kata Tara. “Beliau sempat heran karena hafalanku lumayan bagus katanya.”

Bagi Tara, UII merupakan kampus di Yogyakarta yang cukup toleran. Walau program pendalaman Islam cukup banyak, namun para pengajar di UII tidak pernah memaksanya untuk mengikuti setiap kegiatan yang berkaitan dengan ke-Islaman. Selain itu, Tara juga mengaku senang bisa belajar hal-hal baru di luar agamanya.

“Aku paling suka peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad, yang beliau bisa naik ke langit ketujuh terus ketemu nabi-nabi terdahulu. Itu berkesan banget buatku,” tutupnya.

Terakhir diperbarui pada 23 Agustus 2021 oleh

Tags: beda agamaHinduIslamJogjaKristenkuliahUII
Khumaid Akhyat Sulkhan

Khumaid Akhyat Sulkhan

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia yang menggemari topik-topik seputar kajian budaya dan media. Kadang-kadang menulis esai atau cerita fiksi sebagai medium eskapis. Novel pertamanya, Kronik Pembunuhan Selma, memenangkan juara kedua Penghargaan Sastra Rasa Ayu Utami 2025.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.