MOJOK.COPenghasilan penulis buku itu kalau gede ya gede banget, kalau kecil ya kecil banget. Tergantung bukunya.

Menjadi penulis buku konon adalah jalan pedang tersendiri. Ia adalah profesi yang oleh banyak penulis buku itu sendiri disebut sebagai profesi yang untung-untungan. Maklum, penghasilan penulis buku memang tak tentu. Bisa banyak banget, bisa sedikit banget. Nggak tentu.

Penulis buku sejatinya punya beberapa sumber penghasilan, di antaranya adalah royalti buku, lalu hadiah jika menang sayembara penulisan, kemudian honor proyek penulisan, dan yang terakhir adalah honor mengisi diskusi atau kelas penulisan.

Kendati demikian, tidak semua penulis bisa mendapatkan semuanya. Hanya penulis jempolan betul yang bisa menang sayembara penulisan. Hanya penulis yang punya koneksi dan jam terbang yang tinggi yang mungkin bisa dipercaya mendapatkan proyek penulisan. Dan hanya penulis yang cukup terkenal yang selalu rutin diminta mengisi kelas menulis dan diskusi. Maka, satu-satunya penghasilan yang mungkin bisa didapat oleh seorang penulis yang paling umum tentu saja adalah dari royalti buku.

Dari angka itulah kita bisa mencari tahu penghasilan seorang penulis.

Seorang penulis itu rata-rata royaltinya 10% dari harga jual buku. Di beberapa penerbit jumlahnya bisa lebih kecil atau lebih besar. Beberapa penulis yang sudah punya nama besar bisa lebih tinggi nilai royaltinya, bisa sampai 12-15 persen. Tapi pada umumnya, royalti seorang penulis adalah 10%.

Baca juga:  Sebetulnya Enak Nggak Sih Jadi Penulis Itu?

Jika jatah penulis hanya 10%, lalu yang 90% ke mana? Yang 90% nyebar ke penerbit, distributor, sampai toko buku. Produksi buku biasanya 20%, biaya edit, proof, ilustrasi, dsb. biasanya 5-10%, buat penerbit biasanya hanya 10-15%, distributor 20%, biaya promosi dan operasional anggap saja 10%, dan sisanya yang sekitar 30% itu buat toko buku.

Nah, mari kita mencoba menghitung penghasilan penulis dari royalti bukunya.

Misal ada seorang penulis yang bukunya dijual dengan harga 50 ribu. Bukunya dicetak banyak dan disebar ke seluruh toko buku di seluruh Indonesia.

Selama setengah tahun, bukunya ternyata laku sekitar 3 ribu eksemplar. Maka penghasilannya dari royalti buku adalah sebesar 10% x 50 ribu x 3 ribu = Rp15 juta.

Jika dibagi secara bulanan, itu artinya, per bulannya, ia mendapatkan penghasilan sebesar Rp2,5 juta.

Penghasilan yang tentu saja nggak besar-besar-besar, dan nggak kecil-kecil amat. Sedengan. Dan itu hanya untuk setengah tahun pertama. Untuk setengah tahun kedua, nilainya biasanya turun, seiring dengan buknya yang semakin tidak laku.

Namun, perlu diketahui, tidak semua penulis bahkan bisa seberuntung itu. Untuk menjual 3 ribu eksemplar buku adalah hal yang sangat sulit. Terkadang, seorang penulis baru bisa menjual 3 ribu eksemplar selama dua atau tiga tahun. Kendati demikian, ada juga penulis yang bisa dengan mudah menjual buku-bukunya hanya dalam waktu yang singkat. Ini soal nama besar.

Baca juga:  "Kerja di Mana?" dan Cara-Cara Menjawabnya

Raditya Dika, misalnya, konon bisa menjual buku sebanyak 50 ribu eksemplar bahkan saat bukunya belum terbit. PO bukunya membludak. Atau Marchella FP, yang hanya dalam waktu singkat bisa menjual bukunya “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” sebanyak puluhan ribu eksemplar dan langsung cetak ulang hanya dalam hitungan hari.

Yang paling mencengangkan, tentu saja Andrea Hirata itu. Ia bisa menjual konon lebih dari 1 juta eksemplar buku Laskar Pelangi. Bayangkan, 1 juta eksemplar. Jika kita misalkan bukunya dijual dengan harga 75 ribu, itu artinya, sampai saat ini, Andrea Hirata setidaknya sudah mendapatkan royalti sebesar 7,5 miliar. Hanya dari satu judul buku. Dahsyat.

Tapi, tentu saja harus dipahami, di balik tawa bahagia Andrea Hirata, Marchella, atau Raditya Dika karena kesuksesan mereka mendapatkan uang yang tak sedikit dari royalti buku, ada duka ribuan penulis lain yang meringis karena royalti buku mereka hanya senilai puluhan atau ratusan ribu rupiah saja (itu pun sering telat pembayarannya). Kenapa? Ya karena buku-buku mereka kalah laris dibanding buku-bukunya Raditya Dika.

Sekali lagi, menjadi penulis buku adalah jalan pedang. Dan selayaknya jalan pedang, kemiskinan adalah sebuah keniscayaan.

penulis buku