• 166
    Shares

Pidato Jokowi dalam acara Rapat Umum Relawan Jokowi di SICC, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 4 Agustus 2018 beberapa hari yang lalu ternyata berbuntut panjang. Isi pidato Jokowi dianggap mengandung pesan adu domba.

“Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi kalau diajak berantem juga berani,” begitu kata Jokowi dalam pidatonya.

Banyak pihak yang kemudian mempermasalahkan pidato tersebut. Apa yang dikatakan oleh Jokowi dianggap berpotensi menciderai semangat pemilu damai dan dapat memicu konflik horizontal.

Tak sedikit dan kemudian menyindir Jokowi atas pidatonya tersebut. Belakangan, bahkan ada lembaga yang melaporkan pidato Jokowi tersebut.

Dari sekian banyak pihak yang mengecam pidato Jokowi, salah satu yang cukup vokal tentu saja adalah Fahri Hamzah.

Wakil Ketua DPR tersebut menyarankan Jokowi agar belajar menyampaikan pidato seperti layaknya seorang negarawan. Fahri menilai pidato Jokowi dalam acara Rapat Umum Relawan Jokowi itu merupakan pidato yang tidak mencerminkan sifat seorang negarawan, sebab alih-alih menarasikan persatuan, pidato Jokowi justru mengandung pesan adu domba.

“Pak Jokowi harus mulai pidato sebagai negarawan yang membuat kita semua terpukau. Kegagalan narasi pemerintahan ini dari awal itulah yang merusak bangsa Indonesia,” kata Fahri Hamzah. “Pidatonya dari awal ngadu domba rakyatnya sendiri. Pisahkan agama dengan politik, saya Pancasila, kamu bukan. Sampai begitu.”

Saran Fahri Hamzah untuk Jokowi agar belajar berpidato agaknya memang saran yang bagus. Maklum saja, jaman sekarang, orang begitu mudah menerima sesuatu tanpa menelaah dengan dalam. Sehingga, apa pun yang dikatakan oleh seorang tokoh kerap dimakan mentah-mentah begitu saja.

Namun, usut punya usut, Bung Fahri Hamzah ini ternyata juga pernah menulis twit yang isinya sebenarnya hampir serupa dengan konteks pidato Jokowi. Tentang ketidaktakutan ketika ditantang oleh pihak lain.

“Prinsip saya: jangan cari musuh. Tapi Ketemu musuh jangan lari. Aku gak jual tapi kalau kau jual aku beli. (Ini khazanah ksatria Indonesia)” tulis Fahri dalam akun twitternya sejak beberapa tahun yang lalu.

Nah lho, nah lho, Jika dengan pidatonya Jokowi disuruh untuk berlajar pidato, maka Fahri Hamzah dengan twitnya tersebut seharusnya juga harus disuruh untuk belajar ngetwit. Biar adil. Kan keduanya sama-sama negarawan.

Ah, kelihatannya Jokowi dan Fahri Hamzah memang harus sama-sama belajar. (A/M)