• 5.4K
    Shares

Rasanya memang tak bisa dimungkiri bahwa sentimen agama yang muncul di Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu masih akan tetap ada di Pilpres 2019 mendatang.

Hal Ini terbukti dari masih derasnya pembahasan seputar agama yang terus saja menyertai perputaran informasi terkait dengan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan berlaga di Pilpres mendatang.

Sentimen tersebut pada titik tertentu mengerucut pada satu pertanyaan: Siapa yang lebih islami di antara Prabowo dan Jokowi? Sentimen yang mau tak mau membuat pendukung dua kubu saling serang demi memperebutkan legitimasi keislaman.

Maka tak heran jika kemudian berita tentang Jokowi yang salah mengucapkan Al-Fatihah menjadi Al-Fatekah terus saja diembuskan dan menjadi bulan-bulanan. Begitu pula dengan kesalahan Prabowo yang salah menyebutkan gelar kanjeng nabi.

Hal tersebut menjadi terlihat semakin runyam ketika melebar sampai urusan soal ibadah.

Mantan kader Gerindra yang kini membelot menjadi pendukung Jokowi, La Nyalla, misalnya, menilai Prabowo tak begitu memahami ajaran Islam jika dibandingkan Jokowi. Ia bahkan sempat menantang Prabowo untuk membaca Al-Quran dan memimpin salat.

“Salahnya Prabowo itu saya tutupi semua. Saya tahu Prabowo. Kalau soal Islam lebih hebat Pak Jokowi. Pak Jokowi berani memimpin salat,” kata La Nyalla. “Pak Prabowo berani mimpin salat? Enggak berani. Ayo kita uji keislamannya Pak Prabowo. Suruh Pak Prabowo Baca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, baca bacaan salat.”

Selama ini, Prabowo memang kerap dicitrakan sebagai calon presiden yang islami. Selain karena didukung oleh kelompok-kelompok kanan, Prabowo juga banyak didukung oleh para ulama dan habib.

Hal sebaliknya justru tidak berlaku pada Jokowi. Ia kerap dituduh sebagai calon presiden yang sangat tidak islami karena dianggap melindungi penista agama dan pemerintahannya dinilai kerap mengkriminalisasi ulama.

Banyak pendukung Jokowi yang kemudian merasa Prabowo tak seislami itu. Salah satu alasannya karena Prabowo hampir tak pernah terlihat sedang memimpin salat, hal yang kerap dilakukan oleh Jokowi.

Tantangan La Nyalla ini langsung ditanggapi oleh Gerindra.

Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria mengatakan bahwa Prabowo memang polos dan awam soal agama. Kendati demikian, Riza menganggap Prabowo tetap layak untuk menjadi seorang presiden karena ia punya sifat-sifat pemimpin, yakni shiddiq, amanah, tablig, dan fathonah.

Sementara itu, Direktur Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Sufmi Dasco Ahmad mengatakan bahwa membaca Al-Quran dan memimpin salat tidak bisa dijadikan tolok ukur keislaman seseorang. Menurutnya, Prabowo yang tak pernah terlihat membaca Al-Quran atau memimpin salat belum tentu kadar keislamannya lebih rendah ketimbang Jokowi.

Aduh, Ini Pilpres kok jadi berasa seperti Audisi Da’i TPI, ya?

 

Baca juga:  Kill The DJ Tidak Perlu Marah Jika Lagu Jogja Istimewa Dijiplak Pendukung Prabowo