Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kiai Said Aqil Sebut Habib Rizieq bisa Masuk Dai Tidak Baik Versi Kemenag tapi Semua Masih Baik-baik Saja

Redaksi oleh Redaksi
21 Mei 2018
A A
ayat-ayat allah
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Kiai Said Aqil Siraj tidak sepakat jika Kementerian Agama mengeluarkan daftar 200 nama rekomendasi dai, seharusnya yang dikeluarkan “yang dilarang” bukan “yang direkomendasi”. Nah yang dilarang, contohnya: Habib Rizieq.

Drama 200 nama dai atau mubalig rekomendasi dari Kementerian Agama (Kemenag) ternyata belum juga berakhir. Setelah banyak suara yang menyayangkan jalan yang dipakai Kemenag untuk membatasi dakwah penebar kebencian di akar rumput, kali ini ketidaksepakatan juga muncul dari KH. Said Aqil Siraj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kepada Kemenag.

Secara garis besar, jika memang tujuan Kemenag adalah mengurangi ujaran kebencian oleh pemuka agama, maka seharusnya yang dimunculkan adalah “yang dilarang”, bukan “yang diperbolehkan”.

Secara sekilas pandangan itu masuk akal, karena daripada meributkan siapa yang tidak masuk (karena jelas nama yang tidak masuk jauh lebih banyak) akan lebih enteng kalau yang dibatasi tidak direkomendasikan cuma segelintir orang karena langsung jelas kesebut dan jelas jumlahnya enggak akan banyak.

Ini logika yang sama dari beberapa orang untuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) ketika pelabelan cap “halal” sudah begitu masif dan ditakutkan malah jadi komersialisasi, karena pada praktiknya legitimasi halal ini sampai juga ke produk-produk non-makanan. Seperti detergen, sampo, kosmetik, dll.

Pada akhirnya ada usulan bahwa ada baiknya bukan cap halal yang diberikan, tapi justru cap haram, karena kepastian hukumnya lebih jelas. Hal ini tentu saja didasari dari qawaid fiqhiyah, bahwa hukum asal sesuatu adalah halal dan diperbolehkan sampai ada dalil yang melarangnya. Dengan cap haram, apapun yang tidak dicap berarti boleh dikonsumsi dan statusnya halal. Gampang tho?

Secara sekilas sih ide ini memang jelas oke-oke saja. Apalagi jika dikaitkan dengan kasus 200 dai rekomendasi Kemenag ini. Tentu saja akan lebih mudah bagi umat ketika melihat secara langsung mubalig yang mereka dengar ternyata masuk pada daftar “yang dilarang” Kemenag. Sebab dengan hanya memasukkan 200 nama rekomendasi, status dai atau mubalig yang tidak masuk daftar jadi tidak jelas bagi beberapa orang—meski bagi jamaahnya hal itu jelas tidak berpengaruh apa-apa.

Hal inilah yang ditangkap dari jamaah Front Pembela Islam (FPI), yang santai-santai saja menanggapi daftar rekomendasi 200 mubalig versi Kemenag ini. Meski Imam besar mereka tidak masuk daftar, toh tidak ada tanggapan berlebihan pula dari FPI. Seperti FPI yang enggak FPI saja rasanya. Semoga ini karena efek puasa yang mampu menurunkan tensi ketegangan. Bukan karena yang bersangkutan sedang di luar negeri saja.

Daftar rekomendasi Kemenag ini juga disayangkan karena membuat banyak penceramah yang bagus-bagus di kampung-kampung, dan tidak disorot oleh kamera jadi punya potensi dipertanyakan kompetensinya. Padahal melihat jumlah mubalig rekomendasi dibandingkan dengan jumlah umat Islam di Indonesia ini kok rasanya terlalu sempit dan kecil sekali perbandingannya.

Persoalannya, Kiai Said Aqil malah nyeletuk menyebut nama; Habib Rizieq, sebagai mubalig yang mungkin bisa dikategorikan kurang baik versi Kemenag. Hal-hal yang didasarkan karena yang bersangkutan kalau berdakwah suka ngomong kotor, keceplosan misah-misuh, atau dinilai provokatif.

Alhamdulillah, sampai tulisan ini dibuat, tidak ada tanggapan emosional dari pengikut Habib Rizieq soal keterangan Kiai Said Aqil ini. Meskipun kalau Anda baca-baca kolom komentar terkait berita ini, komentar yang muncul hanya ada dua hal: Pertama, membela Kiai Said Aqil karena merasa apa yang disampaikan sudah benar. Bahwa Habib Rizieq memang kurang begitu baik jadi penceramah. Kedua, menghujat Kiai Said Aqil, karena dianggap sudah menghina imam besar FPI tanpa dasar.

Eh, ada satu lagi ding, yang ketiga. Orang yang dengan entengnya bikin komentar: “Hape Anda rusak? Dapatkan diskon dengan tukar tambah di counter XXX”.

Membaca komentar seperti itu kok bikin optimis, kalau Indonesia masih akan baik-baik saja.

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2018 oleh

Tags: 200 mubaligFPIHabib Rizieqkemenagnupbnusaid aqil
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO
Esai

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.