MOJOK.CONetizen punya hobi baru untuk salah paham terhadap gerakan feminis yang dianggap setali tiga uang dengan membenci laki-laki. Terbaru, konten TikTok salah paham pun jadi pembahasan.

Sebelum bertubi-tubi mendapatkan peyorasi makna dari khalayak, jadi feminis di Indonesia itu kebanggaan. Mereka yang berjuang di lini kesetaraan kini dapat tantangan yang lebih kompleks karena sasaran yang ingin disadarkan suka banget salah paham dengan term SJW dan feminis itu sendiri.

Entah karena trust issue atau memang kultur merundung sudah mendarah daging, mereka yang memperjuangkan keadilan sosial (SJW- social justice warrior) di media sosial kini dapat cap buruk. SJW kurang lebih dianggap sebagai entitas sensitif yang kaku, pemarah, dan nggak pernah nongkrong karena mengusik berbagai guyonan rakyat yang sebelumnya dianggap “lucu”. Anggapan ini terbawa ke masalah-masalah serius yang lagi-lagi ketika berusaha diluruskan justru malah dibengkokkan sekalian.

Terbaru, sebuah konten yang viral di platform media sosial TikTok ramai diperbincangkan karena menganggap feminis di Indonesia adalah orang yang patut ditertawakan. Memang, tidak semua yang mengaku feminis itu makhluk yang sempurna, namun yang terjadi adalah stereotip pukul rata dan diskredit terhadap perjuangan feminis itu sendiri.

“Istilah feminis problematik di Indonesia karena memang secara istilah feminis diambil dari barat dan sering kali dikaitkan dengan gerakan membenci laki-laki dan budaya patriarki, bahkan ada anggapan bahwa feminis itu selalu lesbian.” ujar Novi Kurnia, Dosen Ilmu Komunikasi UGM sekaligus pengamat isu perempuan. Problem ini mengkristal, membentuk kebencian di mata orang-orang yang awam literasi gender. Salah paham dan olok-olok terkait feminis di Indonesia berakar dari sini. 

Feminis di Indonesia bukan sebuah paham yang mendoktrin orang-orang untuk membenci laki-laki. Feminis tidak selalu sosok perempuan yang membenci style feminin atau sengaja bertindak laku kebalikan dengan stereotip perempuan, tidak semua feminis membenci pernikahan dan memiliki misi untuk mengganggu laki-laki di ruang publiknya. Kesetaraan yang diperjuangkan tidak melulu harus sama rata, tentu ini bisa digunakan untuk menyangkal kenapa feminis nggak kuat mengangkat galon dan nggak berangkat ronda malam. Tidak sesederhana itu, cakupan poinnya adalah dari akar budaya yang melemahkan atau melakukan opresi dari gender tertentu. Yang memperjuangkan kalau laki-laki boleh nangis itu siapa? Ya feminis juga.

Di sisi lain, menurut Monica Devina, aktivis yang kerap menyuarakan kritik melalui media sosial, stereotip terhadap feminis dan SJW ini sebuah keniscayaan. “Teman-teman yang belajar feminisme dan mengeluarkan kritik sosial dll., udah pasti akan membuat orang-orang yang selama ini berada di posisi ‘yang diuntungkan kondisi sosial’ jadi merasa terusik atau tidak nyaman.” Baginya, SJW itu bukan sebuah konsep yang negatif, justru yang melakukan olok-olok itu perlu ditanya, apa yang mengusiknya hingga berpendapat demikian. Persis seperti konten yang belakangan viral.

Bisa jadi memang paparan informasi yang didapatkan netizen cenderung bias. Khalayak mendengar apa yang ingin didengar dan menutup telinga terhadap penjelasan yang lebih detail. Penilaian terhadap SJW dan feminis kemudian tidak lagi bisa objektif. Tidak perlu jauh-jauh, Monica Devina memberi permisalan dari problem RUU PKS. Bagaimana feminis di Indonesia memperjuangkannya sampai berdarah-darah, suaranya akan bias dengan mereka yang kontra, menuduh RUU ini pro zina hingga menghambat advokasinya.

Sudah bukan hal baru ketika feminis di Indonesia mendapat berbagai tuduhan misoginis sampai diteror secara online atau yang sebenarnya bisa masuk kategori KBGO (kekerasan berbasis gender online). Ini adalah risiko berkelanjutan dari labelling negatif di media sosial.

Keadaan ini memprihatinkan banget, bikin orang-orang nggak fokus terhadap problem yang diperdebatkan. Netizen justru terjebak pada olok-olok, labelling, dan perdebatan ad hominem lainnya.

Sebenarnya apa pun yang terjadi, feminis di Indonesia nggak akan goyah dengan hanya diolok-olok dan diberi label. Mereka telah bergelut dengan hal-hal demikian sejak lama. Solusi yang seharusnya dilakukan juga beragam.

“Ada beberapa untuk melawan salah kaprah. Pertama, langsung membantah dan menjelaskan dengan referensi jika perlu. Kedua, membuat konten lain sebagai wacana tandingan. Ketiga, cuekin aja.” tambah Novi.

BACA JUGA Pahitnya Menjadi Feminis Nanggung yang Tidak Diakui Sister Feminis dan Ukhti Fillah dan artikel KILAS lainnya. 

Baca juga:  Cewek Memang Harusnya Izin ke Pacar kalau Mau Pake Baju Apa