MOJOK.COBenci feminis boleh aja, tapi tentu kalian bakal menjelma jadi anti-feminis, bukan misoginis. Hah nggak paham? Lha kalian ngertinya feminis versi makna peyoratifnya sih!

Belakangan ini banyak orang koar-koar soal cewek feminis yang udah keterlaluan. Mulai dari ketidaksetujuan terhadap artikel yang agak salah dipahami, statemen mendebat hukum waris, hingga stigmatisasi kalau semua feminis hanyalah sekumpulan cewek tidak bahagia dan sakit hati.

Jujur aja saya ngakak lirih, ibaratnya kalian lagi mendebat ideologi komunis tapi nggak tahu ada buku yang judulnya Das KapitalBilang kalau sate klathak nggak enak padahal baru menghirup asap bakar-bakaranya doang.

Saya nggak lagi memosisikan diri sebagai feminis yang membela diri. Benci feminis sah-sah aja. Saya justru mempersilakan kalian baku hantam ideologi sampai mati. Tapi mbok pakai amunisi yang benar gitu lho. Saya juga nggak setuju kok kalau pernikahan dikatakan sebagai prostitusi yang paling “mahal”.

Pengertian feminis sebenar-benarnya

Feminis secara sederhana bisa dimaknai sebagai sebuah ideologi atau gerakan untuk menyetarakan gender. Setara bukan berarti sama. Setara adalah wujud keadilan. Jadi bukan berarti kalau laki-laki disunat, perempuan juga harus ikut. Perempuan kesakitan saat PMS, laki-laki perlu merasakan sakitnya dengan ditonjok. Semua ada porsinya, Ges, chill.

Kesetaraan lebih fokus pada bagaimana perempuan dan laki-laki diperlakukan dengan adil. Ada kalanya perempuan tanggung ingin berjalan dengan aman di tengah kerumunan laki-laki tanpa disuit-suitin. Sama seperti laki-laki yang jelas hampir tidak pernah khawatir untuk lewat di depan cewek yang lagi kongkow manja.

Kalau masih ada yang bilang reverse gender and you will see differences, mungkin dia belum paham betul kalau konsep setara adalah adil, setara bukan berarti sama persis. Gitu ya, Ngab.

Kesetaraan bukan hanya tentang perempuan. Perjuangan agar tidak ada pemaksaan maskulinitas juga perjuangan feminis. Normalisasi anggapan cowok yang menangis itu nggak macho adalah PR feminis. Cowok harus jadi tulang punggung, cowok harus nyetir mobil, cowok harus berani sama kecoa, semuanya standarisasi ini layak didobrak. Perjuangan ini bukan tentang perempuan aja. Feminis yang sebenar-benarnya feminis adalah memperjuangkan keadilan gender yang juga dilakukan oleh sebagian laki-laki.

Baca juga:  Ada Nggak Sih Feminis yang Mengidolakan Ustaz Felix Siauw?

Eh, tapi kok yang kebanyakan koar-koar feminis itu cewek sih?

Karena sebagian besar masyarakat di bumi ini budayanya patriarki, Mylov. Perempuan yang merasakan haknya telah dikebiri mungkin saja muntab. Tapi kalau di tengah jalan kalian menemukan ketidakadilan pada laki-laki, ya ayo, gugat. Gaaas!

Makna peyoratif feminisme

Saya rasa nggak semua perempuan yang mengaku feminis tahu betul perjuangan feminis sejatinya gimana. Tuntutan atas keadilan justru bikin mereka terlihat misandrists. Feminis tidak diciptakan untuk membenci laki-laki. Ada sebuah konsep feminis radikalis, yang walau terlihat seolah-olah mereka benci laki-laki, pada dasarnya mereka cuma ingin memosisikan perempuan sebagai entitas yang terbebas dari laki-laki baik dalam konsep seksualitas dan peran.

Sementara misandrists itu adalah yang kalian kira feminis di berbagai bacotan media sosial. Misandrists adalah perempuan yang benci laki-laki. Kayak misoginis gitu lho, Bor, cuma dibalik aja gendernya. Si misandrists ini bakal melihat segala sesuatu terasa salah, apa yang dilakukan laki-laki adalah miskonsepsi dan perempuan harusnya menang. Mereka ini yang kalian tuduh sebagai “pembela hak tapi lupa kewajiban”.

Sekali lagi, yang kalian benci di media sosial itu misandrists, bukan feminis dalam makna sebenarnya.

Walau mau diakui atau tidak, sebagian individual feminis ada yang memang benci sama laki-laki. Fakta ini serupa pil pahit yang harus ditelan oleh para feminis itu sendiri. Saking banyaknya orang-orang penuh kebencian di tubuh feminis, makna peyoratif feminisme nggak bisa dihindari. Seperti yang sedang terjadi di lini masa media sosial kalian itu tuh~

Baca juga:  Kemauan untuk Didominasi Terwujud dari Pengurus BEM yang Rela Fotonya Diblur

Kalau ada yang tetap yakin mau benci feminis, maka…

Kalian harus mendebat feminis dari akar-akarnya. Kalau kalian benci konsepnya maka kalian harus mengumpulkan argumen buat mematahkannya. Jangan cuma pakai perasaan doang lah, itu namanya baper.

Benci feminis nggak harus benci perempuan. Karena jika kalian jadi benci perempuan dalam usaha mendebat kau feminis maka kalian bakal terjerembab ke jurang misoginis. Bukankah sungguh mengerikan? Sebaiknya nggak perlu sampai jadi misoginis jika kalian adalah laki-laki yang masih bisa naksir cewek dan ingin punya keturunan dari cewek.

Biar nggak auto-misoginis, maka kalian perlu mendeklarasikan diri sebagai antifeminis. Poros ini setidaknya punya beberapa poin penting. Pertama antifeminis meyakini kalau tatanan sosial antara perempuan dan laki-laki terjadi secara alami dan tidak ditentukan oleh salah satu gender yang lebih superior. Kedua, tatanan sosial memang benar berpihak pada laki-laki. Ketiga antifeminis sadar betul ada tindakan kolektif yang bisa dilakukan untuk sekadar menangani hak dan kewajiban perempuan.

Kalau ada artikel yang bilang jadi PSK itu merdeka secara seksual dan kalian nggak setuju, ya nggak perlu ad hominem dengan ngejekin media dan penulisnya. Coba disikat dari sisi kelimuwan dengan bumbu-bubu fakta lapangan. Buktikan kalau pernyataan itu salah dengan argumen, bukan dengan bacotan ngalor-ngidul.

Lha wong namanya aja topik diskursif. Mau pro, mau kontra, bebas aja. Asal jangan sampai tiba-tiba pro atau kontra cuma karena feeling. Halah, Kasino juga bisa nyanyinya. Feeling mengapa hatiku feeling~

BACA JUGA Penjelasan Sederhana Kenapa Siulan Bisa Dianggap Pelecehan Seksual atau artikel lainnya di POJOKAN.