MOJOK.CO Niat hati menyambut anak-anak magang, kami malah disambut balik oleh kuntilanak siang hari yang misterius di gedung apotek.

Sebagai apoteker di sebuah apotek di Bandung, aku harus memahami betul bahwa pekerjaanku bukan hanya berkaitan dengan obat, tapi juga dengan penerimaan anak-anak magang PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker). Kalau diibaratkan dengan anak-anak D3, program ini mungkin serupa PKL.

Saat itu, aku ingat, masih bulan Desember 2018. Pihak apoteker ingin memberi beberapa informasi terkait PKPA kepada mahasiswa yang diterima di sana. Maka, kami memanggil empat orang mahasiswa yang masing-masing akan melakukan PKPA pada bulan Januari, Februari, Maret, dan April.

Acara pemberian informasi ini dipandu langsung oleh Kang Bernard, seorang apoteker senior. Dengan penuh percaya diri, Kang Bernard mengajak seluruh anak PKPA untuk menginformasikan ketentuan yang berlaku dan keadaan apotek kami.

Oh iya,acara hari itu berlangsung siang hari. Masih terik, aku ingat betul. Tapi, ternyata sesuatu terjadi meskipun matahari sedang panas-panasnya.

Setelah menjelaskan ketentuan panjang lebar di ruang tunggu klinik, Kang Bernard kembali bergabung dengan kami di ruangan apoteker. Aku melihat garis wajahnya lesu, lalu berkata, “Gimana, Kang, anak-anaknya? Mereka aktif?”

“Iya,” sahut Kang Bernard setelah menenggak air putih, “Mereka lumayan aktif dan saya rasa nanti kita bakal cocok sama mereka. Sopan-sopan juga. Semuanya dari Farmasi Unpad.”

“Wah, almamater saya, Kang,” jawabku otomatis. Kang Bernard cuma terkekeh saja.

“Tapi,” lanjutnya, “ada satu orang yang pendiam banget. Cewek, nggak pakai kerudung.”

Aku mengerutkan dahiku. Sebagai salah satu orang yang menyortir pendaftaran anak PKPA, seingatku dalam empat bulan ke depan, mahasiswa perempuannya berkerudung semua.

“Yang mana, Kang? Yang cewek kalau nggak salah cuma dua, kok. Dan dua-duanya pakai kerudung.”

Baca juga:  Suara Ketawa Misterius Saat Lembur Stock Opname di Apotek

“Ada, kok, tadi. Pakai baju merah, rambutnya panjang. Duduk di baris kedua. Mereka kan cuma berempat, jadi saya ingat.”

Aku agak terdiam mendengar jawaban Kang Bernard. Tadi aku memang tidak menyambut anak-anak magang satu per satu, jadi agak susah bagiku untuk memahami cerita Kang Bernard.

“Ah, tapi seingat saya semuanya pakai kerudung,” sambungku, sambil berjalan menuju meja tempat kami menyimpan dokumen permintaan magang dari para mahasiswa. “Itu kuntilanak siang hari, kali?” sambungku, asal.

Kang Bernard menggelengkan kepalanya tak percaya, “Ya ampun, Lin, kamu masih nggak percaya sama saya? Ya udah, yuk sini keluar. Tadi saya suruh anak-anak itu keliling apotek.”

Apotek kami cukup luas, jadi kami tidak langsung bertemu dengan rombongan anak-anak magang. Agar lebih meyakinkan saya, Kang Bernard bertanya pada asisten apoteker kami di depan.

“Ci, tadi kamu lihat rombongan anak PKPA, kan?”

“Iya, Pak.”

“Ada yang pakai baju merah, kan?”

Cici, si asisten tadi, langsung terdiam. Dahinya berkerut. “Nggak ada, Pak, seingat saya. Tiga orang, kan?”

Pertanyaan Cici membuatku dan Kang Bernard berpandangan. Loh, kok tiga orang? Harusnya kan empat!

Karena tidak mendapat jawaban memuaskan dari Cici, Kang Bernard mulai bertanya pada SPG obat tenggorokan yang hendak pulang. Setiap siang, ia memang mengunjungi apotek kami.

“Put, tadi kamu lihat rombongan anak PKPA, kan? Yang tadi masuk bareng saya? Ada anak yang pakai baju merah, kan?” tanya Kang Bernard.

Putri, si SPG tadi, menatap kami dengan mata sedikit melotot. Lalu katanya, “Ja-jadi tadi yang lihat bukan saya aja, ya?”

“Maksudnya gimana, Put?” tanyaku, keheranan.

“Tadi memang ada yang pakai baju merah, Bu. Rambutnya panjang sekali. Tapi…”

Baca juga:  Derita Anak Magang di Mojok

“Tapi apa, Put?” kejar Kang Bernard.

Putri belum sempat menjawab waktu tiba-tiba hapeku bergetar. Sebuah pesan pendek masuk. Aku membacanya dengan segera.

“Selamat siang, Bu Lina. Saya Amelia, mahasiswa PKPA yang akan magang di apotek. Mohon maaf, Bu, hari ini saya berhalangan hadir dan baru sempat mengabari sekarang. Apakah saya bisa datang besok, Bu? Terima kasih sebelumnya.”

Aku melongo membaca pesan ini. Kang Bernard bertanya ada apa, dan aku hanya bisa menunjukkan layar hapeku yang masih menyala. Putri memandangi kami agak ngeri dan berkata, “Bu, Pak, dulu tempat ini bekas rumah kosong yang sudah lama nggak dipakai. Katanya angker—”

“Ah, jangan nakut-nakutin kamu, Put!” seru Kang Bernard, mungkin teringat joke-ku soal “kuntilanak siang hari”.

“Ih, nggak, Pak. Saya lagi cerita beneran!”

“Emangnya ada apa, Put?” tanya saya, penasaran.

Putri gantian memandangku, lantas melanjutkan kisahnya, “Saya nggak tahu kapan mulainya, tapi banyak yang bilang tempat ini ada… kuntilanaknya. Nggak cuma malam, kuntilanak siang hari juga katanya sering kelihatan, Bu.”

“Ya ngapain juga kuntilanak siang hari, Put? Nggak kepanasan?” celetuk Kang Bernard agak sewot. Sejurus kemudian, ia segera masuk ke dalam dan mencari anak-anak magang. Aku mengikutinya. Agaknya, ia ingin membuktikan bahwa gadis berbaju merah itu benar-benar ada.

Tapi, mau Kang Bernard muter-muter sampai satu juta kali sekalipun, kurasa dia tak akan menemukan apa pun. Kami akhirnya mendatangi anak-anak PKPA (yang benar cuma bertiga!) dan bertanya: apakah ada perempuan berbaju merah di antara mereka?

“Nggak ada, Kang, kan kami cuma bertiga dari pagi.”

Kang Bernard tidak menjawab. Wajahnya pucat seharian. (A/K)



Loading...



No more articles