Italia vs Wales: 2 Kawan Baik yang Lagi Santai Makan Pizza Sambil Ngetawain Turki dan Swiss MOJOK.CO
Italia vs Wales: 2 Kawan Baik yang Lagi Santai Makan Pizza Sambil Ngetawain Turki dan Swiss MOJOK.CO

Italia dan Wales Santai Makan Pizza Sambil Ngetawain Turki dan Swiss

MOJOK.COEuro 2020 Grup A | Italia vs Wales | Italia sudah lolos sementara Wales peluangnya besar. Ada kemungkinan laga ini akan berjalan santai dan penuh canda tawa.

Alief Maulana: “Italia tak perlu ngotot. Waktunya mencoba pemain cadangan.”

Sejujurnya saya agak bosan ketika membuka tulisan dengan sebuah fakta bahwa Italia menang. Tapi, mau nggak mau, saya harus membukanya seperti itu.

Italia kembali menang telak dengan skor  3-0 di pertandingan lanjutan Euro 2020. Kali ini, Swiss yang dibikin habis sama anak asuh Roberto Mancini. Dua kali main, 6 gol dicetak tanpa pernah kemasukan gol!

Kita bisa menyimpulkan bahwa Italia yang dianggap membosankan, bermain defensif, bla bla bla… tidak terbukti. Eh, iya memang pertahanan menjadi fokus Italia, tapi mereka tetap memainkan sepak bola menyerang. Atau setidaknya, tidak lupa menyerang saat bertahan serta tak lupa bertahan saat menyerang. Seimbang.


Dua kemenangan itu membuat Gli Azzurri menjadi tim pertama yang lolos ke babak 16 besar Euro 2020. Mereka tinggal menunggu lawan. Kalau mau lawan peringkat kedua Grup B, mereka harus jadi peringkat kedua. Kalau mau lawan peringkat kedua Grup C, mereka harus jadi juara Grup A.

Bagi Italia, semuanya bukan masalah. Toh, siapa pun lawannya, kita sudah tahu siapa pemenangnya. Melawan Wales yang masih berpeluang lolos, kemungkinan Italia tidak akan terlalu ngotot. Mereka ikuti saja cara bermain Wales yang selaw. Karena Wales kalau dibalik jadi “selaw”. Hehehe… ditambahin “hehehe” biar lucu.

Baca juga:  Real Madrid, Juventus, dan AS Roma Kehilangan Pemain dengan Rasa Berbeda

Lagian, Gli Azzurri ini hanya lawan tim ice cream yang kena panas dikit bakal mencair. Kok bisa tim ice cream? Lha iya, Wales, Wales, Walls. Hehehe… ya maaf.

Terlepas dari itu semua, ini menjadi laga penutup Grup A. Seminggu lebih saya “beradu” tulisan dengan para penulis lain. Saya menaruh hormat yang sangat luar biasa kepada ketiga penulis lain, terutama Bapak Air Mata Indonesia, Nuran Wibisono.

Tulisan beliau bagus banget. Sayang, kita tidak akan bisa membaca tulisannya lagi karena Turki sudah gugur. Memang, Bapak Nuran nggak pernah setengah-setengah untuk menangis, baik kalau lagi sedih atau bahagia. Pesan saya buat Bapak Nuran, siapkan hampers untuk panpel. Niscaya semuanya akan lebih mudah.

Sampai jumpa di Euro 2024, Turki. Suruh Erdogan urus sepak bola, jangan Cuma urus OMEK di Indonesia. Xixixi….

Wisnu Prasetya: “Waktunya Wales menyantap pizza Italia dengan tenang.”

Setelah Aaron Ramsey memimpin Wales menikmati kebab Turki dengan lahap, kini saatnya mencicipi pizza Italia. Untungnya, Wales sudah dalam posisi yang relatif aman. Meski belum pasti lolos, tapi poin 4 sementara ini setidaknya membuka peluang mereka masuk ke babak 16 besar lewat jalur peringkat 3 terbaik.

Karena kondisi yang relatif aman tersebut, Ramsey tidak perlu bekerja keras-keras banget untuk mengorkestrasi lini tengah Wales menghadapi gempuran Italia. Italia juga sudah pasti lolos. Kemungkinannya, Mancini akan mencoba para pemain yang belum bermain di dua laga awal. Atau, kalau tetap mempertahkan tim utama, tentu level ngototnya tidak seperti ketika membantai Turki dan Swiss.

Baca juga:  Ruud van Nistelrooy dan Filippo Inzaghi: Seniman yang Menghiasi Kanvas dengan Caranya Sendiri

Kondisi yang serba tidak menekan buat kedua tim ini tentu mesti dimanfaatkan oleh Wales. Sebagaimana makan pizza, ia cocok dinikmati saat kondisi sedang rileks, cocok buat teman ngobrol berjam-jam, apalagi kalau ada minuman bersoda seperti Coca-Cola yang kemarin disingkirkan Cristiano Ronaldo.

Wales juga bisa menggunakan prinsip pengolahan pizza untuk pertandingan kali ini. Belajar dari ahlinya makanan ini berasal tentu hal yang paling baik. Konon, orang Italia cenderung puritan kalau soal pizza. Mereka akan menggunakan bahan-bahan segar untuk membuat pizza termasuk menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk apinya.

Namun semua berubah ketika pizza diekspor dan masuk ke restoran-restoran waralaba. Karena alasan efiesiensi, pizza tidak menggunakan bahan-bahan segar lagi, melainkan yang sudah bentuk paketan dan dalam jumlah banyak. Rasanya tentu sudah jauh berbeda seperti pizza pada awalnya.

Waktu kuliah di Inggris, saya tinggal satu flat dengan orang Italia. Dia mengajari saya cara membuat berbagai masakan Italia termasuk pizza. Dan tentu saja, sebagai orang yang puritan soal makanan, dia tidak mau makan pizza yang bukan buatan orang Italia. Apalagi kalau pake bahan-bahan yang tidak segar. “No, no, no,” kata teman saya tersebut dengan menggerakkan tangan sebagaimana yang dilakukan Chiellini ketika protes ke wasit.

Saya sendiri ya tidak peduli bahannya segar atau tidak. Yang penting mengenyangkan. Nah, efisiensi itu yang diperlukan Wales. Bermain efisien, tidak perlu ngoyo banget. Dan yang penting mengenyangkan, alias bisa membawa mereka lolos ke 16 besar.

Baca juga:  Jerman dan Mesin yang Mulai Panas, Bakal Makin Kuat di 16 Besar

BACA JUGA Italia Itu Kayak Kamu: Satu-satunya dan Tiada Duanya. Swiss? Nggak Ada Mental Petarung dan ulasan Euro 2020 lainnya.