Denmark Menjaga Asa Lolos ke 16 Besar Euro 2020 MOJOK.CO
Denmark Menjaga Asa Lolos ke 16 Besar Euro 2020 MOJOK.CO

Denmark Menjaga Asa Lolos ke 16 Besar Euro 2020

MOJOK.COEuro 2020 Grup B | Rusia vs Denmark | Denmark bakal menguasai laga sejak awal demi memastikan kelolosan mereka ke babak 16 besar Euro 2020.

Aditia Purnomo: “Solidaritas Rusia untuk Denmark dan Internasionale pasti di Dunia.”

Kalau Euro ini berlangsung pada 1940-an, sudah pasti Rusia yang bakal menjadi jawara. Mau jerman bersatu atau pasukan sekutu, tentu bakal dilibas oleh Beruang Merah. Sayangnya, Vladimir Putin sekarang tinggal tersisa patungnya, dan Andrey Arshavin tinggalah kenangan bagi para fans Arsenal.

Menghadapi Denmark yang tengah terluka, tim beruang merah dihadapkan pada dua persoalan dilematis. Di satu sisi, mereka butuh menang untuk memastikan langkah lolos ke babak selanjutnya, atau setidaknya tidak menjadi juru kunci. Di sisi lain, rasa solidaritas dan kemanusiaan mereka pun diuji ketika harus menghadapi tim yang tengah mengalami musibah.

Biar bagaimana pun, ini adalah Rusia. Negara tempat tumbuh dan berkembangnya sosialisme. Meski harus tidak lolos dari fase grup Euro 2020, kemanusiaan adalah hal yang perlu dijunjung tinggi. Karena kemenangan yang paling berharga bukanlah menang menghadapi kesebelasan lawan, tapi memenangkan hati rakjat sedunia.


Tapi tenang, sebagai negara yang menjunjung tinggi solidaritas dan kameraditas, Rusia tetap punya cara untuk memenangkan hati rakyat di gelaran Euro 2020. Dengan semangat Internasionale, begitu para pemain dari kedua belah pihak masuk ke lapangan, suporter akan menyanyikan yel-yel “Inilah kawanku inilah kawanku datang kemari untuk perubahan!”

Baca juga:  Barcelona, Manchester United, dan Arsenal Sudah Harus “Bekerja” Sejak Januari 2020

Setelah itu, lapangan sepak bola akan menjadi panggung orasi bagi kedua tim. Tidak puas hanya ada dua tim, kemudian Manajer Rusia Stanislav Cherchesov bakal mengajak penonton serta tim lain untuk turun ke lapangan. Semerbak terdengar nyanyian Darah Juang yang membangkitkan semangat perlawanan. Semua orang pun tenggelam dalam semangat revolupssi, eh revolusi maksud saya.

Semua bersepakat menyatakan bahwa UEFA beserta para pengusaha klub bola adalah kapitalis yang memaksa para pemain menjadi buruh sepak bola. Sudah dieksploitasi tiap hari selama sekitar 10 bulan berkompetisi di klub dan bahkan tak diberi libur Natal juga Lebaran, masih juga pemain disuruh berlaga di ajang internasional. Memaksakan pertandingan dengan kurangnya istirahat.

Michael Platini, mantan Presiden UEFA, kasusnya korupssi diangkat lagi oleh KPK. Sementara Aleksander Ceferin, meskipun Aleksander, tetap saja bukan yang agung. Dia pun takut digulingkan oleh semangat massa rakjat. Maka dengan berat hati dia menyatakan berhenti dari jabatannya. Pemerintahan kolektif kolegial pun dibentuk, dan Rusia masuk dalam jajaran tersebut.

Karena itulah, walau gagal di Euro 2020, sudah pasti Rusia memenangkan hati rakjat sedunia. Karena semangat Internasionalisme dan kameraditas bakal menggetarkan jiwa-jiwa revolusi mereka yang berhadapan dengan rusia.

Setelah berhasil memenangkan hati rakyat di gelaran Eropa, Rusia bakal menatap pagelaran yang lebih besar lagi: membangkitkan perlawanan terhadap pagelaran Piala Dunia!

Baca juga:  Prediksi Prancis vs Swiss: Saatnya Mendobrak Sejarah

Addin: “Denmark sadar harus menang karena peluang lolos masih terbuka.”

Ada dua keyakinan dalam laga terakhir Grup B kali ini. Pertama adalah keyakinan bahwa Belgia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan meraih poin penuh. Tim peringkat wahid dunia ini saya yakin akan tampil total, los dan ra nganggo rewel ketika menghadapi Finlandia. Karena, jika Finlandia kalah, Denmark masih berpeluang lolos ketika menang di atas 2 gol melawan tim sok kuat Rusia.

Saya sih yakin Belgia nggak akan main mata dengan Finlandia. Nggak bakal ngasih hasil akhir dengan cuma-cuma. Nggak akan ada sepak bola gajah. Memangnya… hehehe.

Keyakinan kedua datang dari spirit Denmark 1992. Tahun di mana negara ini berhasil menjadi jawara Eropa dengan status tak diperhitungkan. Sama seperti tahun ini, kan?

Kala itu, Denmark bisa lolos ke fase grup karena “tuah” mundurnya Yugoslavia dari turnamen. Meski di dua pertandingan awal mereka tak bisa meraup poin tiga, di pertandingan terakhir justru mampu mengandaskan Prancis. Dan, ya, di akhir turnamen, Denmark mampu menggenggam titel juara.

Haqqul yaqin, Kasper Schmeichel akan termotivasi atas apa yang sudah dilakukan bapaknya, Peter Schmeichel, yang menjadi penggawa di tahun 1992. Kasper sangat mengimani dogma from father to son dengan sepenuh jiwa raga. Dia tak akan membiarkan orang-orang sok kuat dari Rusia membobol jala gawangnya.

Baca juga:  Resep Liverpool dan OG untuk Jadi Juara: Statistik

Tahun ini atau tujuh edisi setelah 1992, Denmark juga harus memulai turnamen dengan tertatih. Seperti yang kita tahu, Denmark harus kehilangan Eriksen, kemudian disusul dua kekalahan beruntun.

Tapi ya cukup sampai situ. Pertandingan melawan Rusia, mereka akan tampil total karena peluang lolos masih ada.

Sudahlah, Rusia. Kamu sudah terlalu sok kuasa di urusan geo-politik dunia. Nggak usah mau coba-coba ngikut juga di urusan sepak bola. Kemenangan bagi Denmark akan sangat berarti setidaknya untuk dua orang. Pertama, Christian Eriksen. Kedua, tentu saya sendiri. Saya masih pengin nulis di Mojok!

BACA JUGA Bagi Belanda, Laga Melawan Makedonia Utara Adalah Pemanasan Bagus Menjelang 16 Besar dan ulasan Euro 2020 lainnya.