• 66
    Shares

MOJOK.COSetelah paham dengan cara berpikirnya, saya pastikan Anda tidak akan terkejut lagi kalau-kalau membaca komentar Fadli Zon di kemudian hari.

“Apa Fadli Zon ini tidak paham pengertian kampanye hitam?” tanya seorang teman dengan nada sedikit mencemooh di status Facebook-nya. Post itu ia bagikan bersama sebuah link berita berisi komentar Fadli Zon mengenai tiga emak-emak simpatisan PEPES (Persatuan Emak-emak Pendukung Prabowo Sandi), yang ditangkap karena melakukan kampanye hitam.

Teman saya hanyalah salah satu dari sekian netizen yang saban hari nyinyirin Bang Fadli. Sepertinya mereka-mereka ini belum kenal betul dengan Bang Fadli beserta segala kecanggihannya. Atau mungkin, mereka kebanyakan baca artikel-artikel Mojok tentang Bang Fadli—yang tentu saja bias Mojok—sehingga pemahamannya akan visi Bang Fadli terbawa-bawa bias Mojok? Entahlah.

Dalam mengomentari penangkapan emak-emak tersebut, Pak Mahfud MD boleh ngomong kalau kampanye hitam itu artinya tuduhan tanpa dasar, tanpa data, alias mengada-ngada. Pakar Hukum Tata Negara dan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut juga boleh ngomong kalau kampanye hitam melanggar undang-undang, berbeda dengan kampanye negatif yang sah-sah saja selama data yang digunakan sahih.

Tapi seperti kata pepatah: lain ikan lain lubuknya, lain padang lain belalang. Lain Pak Mahfud, lain pula Bang Fadli.

Menurut komentar Fadli Zon, penangkapan tiga emak-emak simpatisan PEPES itu keliru. Apa yang dilakukan emak-emak tersebut—dengan berkampanye dari pintu ke pintu dan menyebutkan bahwa kalau Jokowi terpilih, azan akan dilarang dan pernikahan sejenis dibolehkan di Indonesia—tak dianggapnya sebagaimana kampanye hitam sebagaimana diberitakan.

Menurut Bang Fadli, kampanye emak-emak tersebut masih di dalam ranah pendapat pribadi yang memang menjadi polemik. “Kan memang ada juga yang mendukung LBGT. Ada, nggak? Kan ada. Yang mendukung suara azan dikecilin, ada nggak? Kan ada juga. Itu tinggal diklarifikasi saja.”

Dengan kata lain, Bang Fadli menilai apa yang dikampanyekan emak-emak tersebut adalah benar adanya, tidak mengada-ngada—tinggal diklarifikasi saja. Ia hanya perlu diperjelas dengan sekian data, maka teranglah semuanya.

Bagi yang mendaku waras, seperti teman saya itu, pernyataan Bang Fadli pasti tampak aneh. Soalnya, kalau mau diklarifikasi pun, dalam hal dukung-mendukung LBGT misalnya, datanya nggak akan ketemu. Mana ada, sih, parpol yang terang-terangan mengaku memperjuangkan hak-hak LBGT? Yang ada itu cuma parpol yang diam-diam berharap meraup suara kaum minoritas tanpa perlu menanggung risiko dicap macam-macam!

Baca juga:  Hotman Paris Hutapea: Mobil Lamborghini, Ngopi di Kopi Johny

Kalau begitu, apakah Bang Fadli ini tidak bisa membedakan antara kampanye hitam dengan kampanye negatif? Apakah ia tidak bisa membedakan antara mengecilkan suara azan dan melarang suara azan? Atau jangan-jangan, Bang Fadli ini agak… nganu? O, tentu tidak. FYI, Bang Fadli ini bukan orang sembarangan.

Nggak percaya? Sini, saya kasih pencerahan.

Sebagai orang yang telah berziarah ke makam Karl Marx, Bang Fadli sepertinya melihat betapa konsep-konsep, pengertian-pengertian, serta berbagai definisi yang hari ini telah baku tidak lagi memadai bagi dirinya yang kelewat visioner. Seperti kata Karl Marx dalam film yang mungkin ditonton Bang Fadli, “Tidak ada yang tetap, segalanya bergerak.”

Contohnya, dalam soal definisi “mengecilkan” tadi. Pemahaman umum boleh mengatakan kalau mengecilkan itu artinya tidak sama dengan melarang. Namun, bagi Bang Fadli, pengertian semacam itu tidak memadai lagi. Sebaliknya, definisi ini harus diruntuhkan. Di atas reruntuhan pengertian usang itu, Bang Fadli membangun pengertian baru: anjuran mengecilkan volume azan sama artinya dengan melarang azan (dalam volume yang keras). Titik.

Sekarang mari perhatikan komentarnya baru-baru ini mengenai gagasan Bang Sandi menjadikan Bali sebagai kawasan “wisata halal”.

“Jangan egois,” komentar Fadli Zon saat menanggapi beberapa pihak yang menolak usulan Bang Sandi tersebut.  “Kalau kita yakin dengan ke-Bhineka Tunggal Ika-an, dengan pluralisme, harusnya tidak begitu, dong. Kalau ada aspirasi ‘wisata halal’, harusnya diterima kalau kita memang mengakui Bhineka Tunggal Ika.”

Maksudnya begini. Pengertian Bhineka Tunggal Ika yang selama ini dipahami orang ramai sebagai “berbeda tapi tetap satu” itu, juga sudah tidak memadai lagi. Terlebih, pengertian tersebut sudah tidak memadai untuk menampung gagasan Bang Sandi. Pengertian yang telah mapan tersebut harus dilampaui.

Maka, berdasarkan komentar Fadli Zon tadi, pluralisme bukanlah sekadar tersedianya sarana ibadah serta terjaminnya kebebasan beribadah atau makanan halal bagi wisatawan muslim. Pluralisme itu berarti bahwa Bali harus menerima istilah-istilah yang identik dengan agama mayoritas di Indonesia sebagai branding pariwisatanya, seperti “wisata halal”.

Itu dalam kasus Bali. Apabila diluaskan, kalau suatu saat ada aspirasi “NKRI Bersyariah”, warga negara Indonesia lainnya harus terima kalau memang mengakui Bhineka Tunggal Ika. Pokoknya, mereka tidak boleh egois. Begitulah makna sejati pluralisme di masa depan.

Baca juga:  Perang Tagar Dulu dan Sekarang: 2014 Pakai Buzzer, 2019 Pakai Giveaway

Setelah semakin paham dengan cara berpikir Bang Fadli, saya pastikan Anda tidak akan terkejut lagi kalau-kalau membaca komentar-komentarnya yang tiap sebentar muncul di beranda Facebook. Dalam soal historiografi, misalnya, Bang Fadli berjanji akan menulis ulang sejarah Indonesia apabila  Pak Prabowo menang pilpres.

Dalam hal ini, Pak Yamin boleh berandai-andai dan mengatakan bahwa bangsa Indonesia telah ada sejak zaman Majapahit, lengkap dengan bendera nasionalnya, sementara visi Fadli Zon ternyata jauh melampaui itu.

Menurut Bang Fadli, bangsa Indonesia telah ada semenjak 40.000 tahun yang lalu, bahkan sebelum jaman nabi-nabi.

Kuat dugaan saya, Bang Fadli lewat proyek pelurusan sejarahnya, dapat memperlihatkan kalau pelanggaran HAM di Papua hari ini adalah kelanjutan dari penyingkiran sistematis yang dilakukan orang Austronesia terhadap orang Melanesia di kepulauan Nusantara yang telah dimulai sejak 3000 SM.

Jika pada masa-masa tersebut orang Melanesia yang menghuni kepulauan Nusantara bagian tengah tersingkir secara perlahan ke bagian barat akibat perebutan sumber produksi pangan, maka kejadian serupa hari ini disebabkan oleh perebutan tambang dan lahan perkebunan.

Lebih dari itu, proyek tersebut adalah lonceng kematian bagi narasi-narasi rasis dalam dunia politik tanah air, seperti “pribumi dan nonpribumi”. Kemudian, Bang Fadli akan mengajak elite-elite politik kita untuk menimbang-nimbang relevansi nasionalisme di tengah dunia yang semakin terglobalisasi ini. Dari situ, Bang Fadli akan merancang suatu tipe masyarakat multinasional yang memadai bagi keragaman yang semakin besar.

Wow. Wow. Wow.

Jadi, Saudara-saudara, berhentilah nyinyir ke Bang Fadli kalau tidak mengerti apa maksud sebenarnya dari pernyataan-pernyataannya. Bang Fadli ini lahir terlalu cepat. Pemikirannya belum akan dimengerti oleh orang-orang zaman sekarang.

Lihat saja: 300 atau 400 tahun ke depan, twit-twitnya bakal dikaji secara serius. Komentar Fadli Zon Yang Terhormat bakal dibahas di berbagai jurnal ilmiah. Korpus pemikirannya dibedah di kampus-kampus.

Bang Budiman Sudjatmiko mestinya malu sama Bang Fadli. Saat Bang Budiman di mana-mana mengibarkan dirinya sebagai sosok progresif, Bang Fadli malah dapat dikatakan sudah beyond-progresif!