[MOJOK.CO] “Gara-gara Wiro Sableng saya jadi bernostalgia soal soundtrack serial tivi ’90-an.”

Jika kamu anak kelahiran ‘80-an atau ‘90-an dan kamu seekor kera terkurung terpenjara dalam gua tempat hukuman para dewa bertindak sesuka hati—

Halah.

Jika kamu anak kelahiran ’80-an atau ’90-an dan kamu sekarang menyukai genre hiphop, bisa jadi kamu berutang selera pada televisi Indonesia. Persisnya lagi, berutang pada seekor kera terkurung terpenjara dalam gua tempat—

Sebentar, saya matikan YouTube dulu.

Oke, sekarang serius. Saya mau cerita, beberapa hari lalu saat sedang memutar soundtrack sinetron Wiro Sableng di YouTube, sesudah lagu habis, lagu otomatis beralih ke soundtrack serial Kera Sakti. Secara otomatis, saya komen ke teman di depan saya, “Anjir, ternyata lagu hiphop pertama yang kudengar itu lagu di tivi.”

Iya, sekarang YouTube emang lebih dari tivi. Kecuali dalam kenangan anak yang sorenya nonton Kera Sakti, Minggu siang nonton Wiro Sableng, dan lagu favoritnya adalah “Tididit” dari Sweet Martabak yang ngomongin soal pager. Sejauh ini kayaknya nggak ada cara untuk menghilangkan ingatan soal bagian ketawa “Yeaaah… hahaha” di pembuka Wiro Sableng atau suara monyet di intro opening theme Kera Sakti. (Ngomong-ngomong habis suara monyet itu ada lirik “Sun Go Kong is in da house” bukan sih?)

Selain mengenal hiphop lewat tivi, soundtrack serial di tivi juga mengajari anak-anak bernyanyi dalam bahasa China, Spanyol, Inggris, dan Korea. Akui saja, kamu tahu hau siang hau siang dari Kabut Cinta kan?

Sedangkan efek sampingan dari nonton tivi, selain mengenal bahasa, adalah belajar memaki dan ngata-ngatain teman. Kebiasaan ini terbawa sampai besar. Kayak sekarang, ngatain teman kita Ciripa atau Bulgozo memang so yesterday, tapi buat anak ’90-an tetap aja lucu. Sungguh, nostalgia membuat selera humor jadi rendah.

BACA JUGA:  Dolores O'Riordan, Vokalis The Cranberries Meninggal, Is It Just My Imagination?

Saya tonton lagi video pembukaan sinetron Wiro Sableng. Ada nama-nama pemain dan kru sinetron yang tampil di layar bergantian.  Ken Ken, Nano Asmorandono, Sutiyo B., Helvy Maryand, Novy Chandra, Sigit Sanjaya, Rudy Garsia, Teddy Thea, Yongky D.P., Ivon Andi, Wirman S.K.B., Rika Sulisdiana, Suzana W.R., Yuly A.N., Yono Yoko, Dahono Murdadi, Pian Sopian, Andi Chandra, Hendrik, Yoyot, Suyitno M., dan Agus Hendrajaya. Membaca itu, mau nggak mau saya jadi ingat artikel di Mojok soal nama-nama anak zaman sekarang dan kabar tentang raperda yang mengatur nama anak di Karanganyar.

Balik lagi ke soal soundtrack di tivi, entah kenapa beberapa lagu tema serial dibuat versi Indonesianya dan sebagian lagi tetap dalam bahasa Indonesia. Jujur, buat saya yang versi Indonesia lebih teringat.

“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ini, itu, banyak sekali. Semua, semua, semua, dapat dilakukan. Dapat dilakukan dengan…” dengan apaaa?

“Orang pun datang dan akan kembali, kehidupan kan jadi saksi. Di kehidupan yang kedua, akan menjadi lebih indah.” Ya situ pasti tahu ini soundtrack apa. Kalau mau tahu versi Arabnya, klik di sini.

Di beberapa serial impor, selain judul serialnya yang diterjemahkan sebagaimana Journey to The West diterjemahkan menjadi Kera Sakti (kerja bagus!), kita ngeh kalau soundtrack-nya adalah hasil terjemahan. Hasilnya? Tetap easy listening, tapi liriknya kayak nggak nyambung. Misal soundtrack Crayon Shinchan.

Kalau begini aku pun jadi sibuk

Berusaha mengejar-ngejar dia

Matahari menyinari

Semua perasaan cinta

Tapi mengapa hanya aku yang dimarahi

 

Di musim panas

Merupakan hari bermain gembira

Selalu saja terkena flu

Pilek tiada henti-hentinya

BACA JUGA:  Orang Tua Membuat Selera Musik Kita Sangat ‘70-an

 

Sang beruang tidur

Dan tak ada yang berani ganggu dia

Oh sibuknya

Aku sibuk sekali

 

Atau soundtrack Chibi Maruko Chan.

Hal yang menyenangkan hati

Banyak sekali

Bahkan kalau kita bermimpi

 

Sekarang ganti baju

Agar menarik hati

Ayo kita mencari teman

 

Jalan panjang menuju langit biru

Tiba tiba kulihat seorang anak

Yang menemukan harta karun di dalam sana

Alangkah senang dan hati gembira

 

Pas saya ngetik ini, Agus mulyadi tahu-tahu menyanyikan soundtrack Marimar. Ya Allah.

Komentar
Add Friend
No more articles