Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Usai Pengepungan Asrama Papua di Surabaya: 3 Poin Absurd yang Kami Catat

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
21 Agustus 2019
A A
pengepungan asrama papua konflik papua manokwari sorong timika jayapura malang wiranto jokowi khofifah

pengepungan asrama papua konflik papua manokwari sorong timika jayapura malang wiranto jokowi khofifah

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sudah jelas bahwa mahasiswa yang dikepung di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya adalah korban. Tapi masih saja ada narasi kalau mereka adalah pelaku. Hadeh.

Usai pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, oleh ormas dan aparat, situasi memang memanas. Terpancing dengan ujaran-ujaran rasial yang menyasar ke mahasiswa-mahasiswa dari Papua di Surabaya, masyarakat Papua di beberapa daerah pun menggelar aksi.

Pada Senin (19/8) misalnya, unjuk rasa di Manokwari, Papua sempat berakhir rusuh. Ini belum dengan kerusuhan berantai yang kemudian juga terjadi di Malang, Ternate, Ambon, Bandung, Maluku. Praktis hanya di Yogyakarta dan Jakarta saja unjuk rasa berlangsung aman tanpa berakhir kericuhan.

Melihat hal ini beberapa pejabat negara sempat menyampaikan permintaan maafnya. Masalahnya, ketimbang menetralisir ada saja pihak-pihak yang malah membelokkan ini ke persoalan soal penghinaan bendera merah putih. Hal yang sebenarnya tidak terbukti dilakukan oleh mahasiswa Papua di Surabaya.

Beberapa poin absurd itu bisa kita baca beberapa di antaranya.

1. Kominfo malah sebar info menyesatkan

Kementerian Komunikasi dan Informasi tanpa diduga malah menyiram bensin ke situasi yang lagi panas-panasnya. Bukannya meneduhkan suasana, kementerian ini justru menciptakan situasi yang provokatif.

Disinformasi ini dilakukan ketika merilis artikel untuk menangkal “hoaks”. Kominfo menggunakan judul: “[HOAKS] Polres Surabaya Menculik Dua Orang Pengantar Makanan untuk Mahasiswa Papua.”

Padahal tidak ada aktivitas culik-menculik saat itu. Diketahui kemudian, Kominfo memakai potongan gambar kicauan akun Veronica Koman. Padahal akun Veronica Koman sama sekali tidak menyebut “penculikan” melainkan “penangkapan”.

Uniknya, Kominfo juga menautkan berita yang berjudul “Polisi Bantah Menculik Dua Orang Pengantar Makanan untuk Mahasiswa Papua” yang tayang pada 17 Agustus silam.

Tapi kita nggak perlu berburuk sangka terhadap Kominfo, bisa jadi kementerian ini memang sedang memberi contoh bagaimana berbahayanya menyebarkan hoaks dengan cara: ikut bikin hoaks juga.

2. Minta maaf rombongan

Beberapa pejabat negara beramai-ramai mengeluarkan pernyataan permintaan maaf. Terutama setelah diketahui tuduhan ke mahasiswa Papua di Surabaya tidak terbukti sebagai pelaku penghinaan terhadap bendera merah putih. Apalagi meski tidak ada bukti, mereka tetap kena serangan rasial.

Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, termasuk yang pertama meminta maaf kepada warga Papua. “Saya bertelepon dengan Gubernur Papua, Pak Lukas Enembe. Kami mohon maaf karena itu (rasialisme) sama sekali bukan mewakili masyarakat Jawa Timur,” kata Khofifah.

Tak berselang lama Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya, juga ikut minta maaf. “Kalau memang ada kesalahan kami di Surabaya, saya mohon maaf. Tapi tidak benar jika kami dengan sengaja mengusir,” kata Risma.

Berlanjut juga dengan beberapa pejabat lain, dari Wali Kota Malang sampai dengan Presiden Joko Widodo.

Iklan

Uniknya, Ormas di Surabaya yang melakukan pengepungan juga akhirnya meminta maaf. Salah satu anggotanya, Tri Susanti, dengan berbesar hati meminta maaf.

“Kami atas nama masyarakat Surabaya dan rekan-rekan ormas menyampaikan permohonan maaf. Kami hanya ingin bahwa Papua ini Indonesia. Kami hanya mau bendera merah putih. Jadi tujuan utama kami untuk merah putih dan berdampak seperti itu,” ujar Tri Susanti.

Masalahnya, tak ada satu pun pihak yang meminta maaf ini meminta ada yang mengusut tuntas siapa yang menyebarkan video perusakan bendera merah putih dari whatsapp grup tersebut? Sampai akhirnya terjadi pengepungan Asrama Papua di Surabaya.

Lebih-lebih menyelidiki pihak ormas yang sudah kelewat semangat melakukan pengepungan berjam-jam ternyata mereka cuma kemakan hoaks semata. Kenapa ormas ini tidak diperiksa sama sekali? Ini kan aneh sekali.

Permintaan maaf yang tersampaikan pun sangat normatif dan formil semata. Tak ada upaya lanjutan untuk mengakomodasi keadilan mahasiswa-mahasiswa yang sudah kadung dituduh macam-macam, padahal tuduhan itu sama sekali tidak terbukti.

3. Wiranto malah akan memperbaiki sistem Asrama Papua

Poin absurd terakhir adalah munculnya pernyataan dari Menko Polhukam, Wiranto. Bukannya menyasar pengirim video penghinaan terhadap bendera merah putih yang dituduhkan ke mahasiswa Papua di Surabaya, Wiranto justru membidik ada “kesalahan” dari Asrama Papua.

“Hanya dari peristiwa itu tentunya kita butuh nanti perbaikan-perbaikan tentang sistem pengiriman mahasiswa di daerah-daerah itu. Asramanya bagaimana? Pembinaannya Bagaimana? Tentu butuh ya,” kata Wiranto.

Padahal jelas-jelas, mahasiswa Papua dalam konteks ini adalah korban. Tidak tahu apa-apa, asramanya tiba-tiba dikepung dan dikata-katain. Kenapa malah yang harus diperbaiki malah mahasiswa Papuanya? Ini sebenarnya yang korban siapa yang pelaku siapa sih? Kok beliau jadi pandai benar membolak-balikkan perasaan begini sih? Hadeh.

BACA JUGA Siapa yang Teriak Monyet, Siapa yang Malu

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2022 oleh

Tags: asrama papuaPapuaSurabaya
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO
Catatan

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
papua.MOJOK.CO
Sosok

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO
Urban

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Lapangan Padel di Jakarta Selatan bikin Stres Satu Keluarga. MOJOK.CO

Nestapa Tinggal di Perumahan Elite Jakarta Selatan Dekat Lapangan Padel, Satu Keluarga Stres Sepanjang Malam

19 Februari 2026
Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
Kos di Jogja

Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari

19 Februari 2026
Sarjana nganggur diteror info loker di grup WA keluarga. MOJOK.CO

Grup WhatsApp Keluarga Besar Isinya “Teror” bagi Sarjana Nganggur, Sehari-hari Dikasih Info Loker Aneh-aneh

18 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.