Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Tentang Sebutan ‘Aku-Kamu’ yang Bikin Anak Jakarta Baper

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
11 November 2019
A A
aku kamu elo gue anak jakarta baper anak jogja sapaan sebutan

aku kamu elo gue anak jakarta baper anak jogja sapaan sebutan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menyapa anak Jakarta dengan sebutan “aku-kamu” bisa bikin lawan bicara baper. Eh, nggak di Jakarta doang sih. Di banyak tempat juga gitu.

Kebanyakan anak Jakarta terbiasa ngobrol dengan teman sebaya dengan sapaan “elo-gue”. Selayaknya para aktor di film dan sinetron yang disiarkan oleh televisi. Begitu ketemu dengan orang Jogja yang biasa pakai “aku-kamu”, anak Ibu Kota yang santuy dengan “elo-gue” bisa jadi salting atau justru baper. Kalau ini terjadi di FTV, endingnya mereka jadian dan saling panggil “sayang”.

Bagi anak Jakarta yang terlalu “elo-gue”, makna “aku-kamu” dalam percakapan sehari-hari bisa berarti puitis dan dekat secara emosional. Tidak sembarang orang bisa di-“aku-kamu”-in. Sebab “aku-kamu” diucapkan oleh manusia urban secara halus dan penuh cinta. Nggak kayak “elo-gue” yang penekannya kerap ngegas.

Di sisi lain, bagi orang Jogja atau orang dari daerah lain, bisa jadi “elo-gue” terdengar kurang pas. Seperti yang dicontohkan FTV ketika karakter asal Jawa yang merantau ke Jakarta (btw, Jakarta sudah jadi pulau sendiri dipisahkan selat “elo-gue”). Lalu ia berusaha beradaptasi di lingkungan sosialnya dengan mulai berkata “elo-gue”, eh, malah jadi bahan tertawaan karena medhok-nya belum luntur.

Pemakaian kata ganti yang menimbulkan kerikuhan pernah digambarkan di film Ada Apa Dengan Cinta?. Rangga sudah mantap sedari dulu dengan menyebut diri sendiri sebagai “saya”, alih-alih “aku” yang mana adalah judul buku favoritnya. Lantas Rangga menyebut lawan bicaranya sebagai “kamu” Iya, kamu.

Cinta yang gaul dan trendi sudah nyaman berbicara pakai “elo-gue”. Contohnya ketika Cinta memarahi Rangga, “Terus, kalau sekarang elo nggak punya temen sama sekali, itu salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?”

Namun, kesombongan Cinta dan kata gantinya itu tak bertahan lama. Ketika dinding hati sang ketua mading itu diruntuhkan oleh karisma sang pujangga Rangga, Cinta mulai ber-‘Saya-Kamu’. Sampai bikin Rangga mesam-mesem sendiri karena bikin Cinta ikut-ikutan gaya bicaranya yang terkesan formal itu.

Wajar saja Rangga ngomongnya “saya-kamu”. Sebab dia hanya berteman dengan penjaga sekolah, yaitu Pak Wardiman yang notabene sudah bapak-bapak. Jadi, gaya Rangga menyesuaikan dengan teman bergaulnya.
Di level masyarakat tertentu, “elo-gue” ini bisa jadi indikator kesopanan seseorang dalam bertutur kata. Orang yang pakai “elo-gue” terkesan kurang sopan. Apalagi kalau dipakai ngobrol dengan orang yang lebih tua.

Dalam hubungan percintaan di perkotaan, penggunaan “aku-kamu” adalah perayaan untuk “elo-gue” yang sudah saling sayang dan berkomitmen mesra. Otomatis, orang yang bukan siapa-siapa tapi sudah main “aku-kamu” jadi kontroversi. Sebagian justru mengganggap cowok yang ngobrol dengan sesama cowok pakai “aku-kamu” cukup bikin geli.

Konklusi seperti ini sama ekstremnya dengan pemahaman bahwa subjek yang pakai “elo-gue” adalah anak yang kurang ajar.

Mungkin memang sebaiknya kita punya toleransi dalam perkara penyebutan kata ganti orang pertama dan kedua ini. Tak melulu “elo-gue” itu nggak sopan. Tak semua “aku-kamu” itu tentang romantis-romantisan. Begitu juga dengan “saya-kamu” yang tak berarti kebapak-kebapakan. Ini hanyalah tentang kebiasaan.

Setidaknya selama bicara dengan orang lain, kita tidak menyebut nama diri sendiri seolah pakai kata ganti orang ketiga. Bukannya apa-apa, dengernya bikin teringat dengan Dobby, peri rumah di film Harry Potter. “Dobby is free!”

BACA JUGA Donasi dan Petisi Online Juga Dipakai untuk Menipu dan Membully atau komentar lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 11 November 2019 oleh

Tags: aku kamuanak jakartaelo-guesapaan
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Shock culture mahasiswa asal Jakarta merantau ke Surabaya. MOJOK.CO
Kampus

Mahasiswa Jakarta Terpaksa Belajar Bahasa Jawa biar Nggak Diketawain Orang Surabaya, Malah Geli Sendiri Pakai “Aku-Kamu”

6 Agustus 2025
mengapa orang jakarta memilih menyapa dengan sapaan mba daripada mbak bahasa jawa mojok.co
Liputan

Bermacam Alasan Orang Pilih Sapaan ‘Mba’ daripada ‘Mbak’ 

15 Maret 2021
Esai

Bahasa Gaul Jakarta yang Keren Sekaligus Nggilani di Tanah Jawa

3 Desember 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.