Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bahasa Gaul Jakarta yang Keren Sekaligus Nggilani di Tanah Jawa

Irsyad Martias oleh Irsyad Martias
3 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mau bahasa gaul Jakarta kek, mau bahasa Jawa kek—sebenarnya itu semua adalah hak yang punya mulut atau lambe, Bro.

Setelah punya HP baru yang cukup canggih dan secara teratur mengisi kuota unlimited, selain merokok, saya punya hobi baru yang sangat produktif, yakni nonton channel YouTube-nya Cak Dave Londokampung, seorang bule Australia yang sejak kecil menetap di Surabaya dan fasih berbahasa Suroboyonan. Di sana, ada puluhan unggahan video yang dijempol dan dipuji banyak warganet, termasuk saya.

Iklan

Pada awalnya, mendengar bule yang fasih bertutur kata dalam bahasa Jawa membuat saya terkagum-kagum. Pikiran awam saya, bule dan bahasa Jawa dalam konteks oposisi biner adalah pertentangan antara simbol ndeso dan modern. Namun pada saat bahasa Jawa dituturkan si Bule, beliau jadi tampak keren dan njawani. Jelas, gagasan ini berlaku jika saya menempatkan diri saya sebagai inferior. Jangan-jangan sikap kagum berlebihan tersebutlah yang menyebabkan tanah Jawa jatuh ke tangan penjajah, mengingat para amtenar-amtenar pun fasih berbahasa Jawa!

Cerita tentang Cak Dave cukup sampai di sini. Sekarang posisinya coba kita balik: apa yang terjadi jika orang atau teman yang kita anggap ndeso dan medhok secara sadar dan membiasakan diri menggunakan bahasa gaul Jakarta dengan sapaan “gue-lo”, atau bisa kita sebut sebagai bahasa Jakartanan? Kesannya malah sebaliknya: nggilani!

Bolehlah saya berbagi pengalaman sebagai seorang non-penutur bahasa gaul Jakarta yang pernah secara terpaksa menggunakan bahasa ini ketika menjadi siswa SMA berasrama di kawasan Jakarta Coret. Saya ingat-ingat, caturwulan pertama adalah masa-masa sulit untuk beradaptasi dengan masalah logat bahasa agar ucapan bahasa Indonesia saya terdengar lebih Jakarta. Saya pun membiasakan diri menggunakan istilah “lo” dan “gue”. Sulit, karena saya menghabiskan masa kecil di Riau sehingga logat Melayu masih bergayut-gayut di pangkal lidah (bahkan sampai sekarang). Lagi pula, ada juga perbedaan makna dari bentuk kata yang sama.

Sering teman saya tertawa karena lafal saya tidak sesuai tajwid. Juga, banyak yang menertawakan ketika saya menggunakan perbendaharaan kata yang sebenarnya ada di dalam KBBI, contohnya: “Gue tegak (maksudnya berdiri) di sini aja,” yang kemudian dijawab oleh teman saya, “Eh, emang lo tiang listrik???” Pernah juga saya berucap, “Aduh, gigi gue tanggal (maksudnya copot atau lepas), nih,” yang ditanggapi dengan “Lah, emang gigi lo kalender???” Sepele, sih, tapi itu termasuk salah satu titik nadir dalam hidup saya.

Tidak cukup sampai sana, kala itu saya masih sering menggunakan panggilan orang pertama “aku” dan orang kedua “kamu” atau “kau”. Kalau keceplosan “aku- kau”, saya dianggap seperti berpantun atau berpuisi, sedangkan jika terucap “aku-kamu” kepada teman laki-laki, jelas akan terdengar aneh karena kata-kata itu digunakan bagi mereka yang berpacaran. Teman perempuan yang bukan siapa-siapa saya mungkin bahkan jijik mendengarnya karena terdengar seperti sedang dirayu atau dipacari secara sepihak.

Naaaah, hal-hal inilah yang menjadi kendala bagi anak-anak daerah, tak terkecuali bagi saya dan teman saya seorang anak Jawa asal Batu, Malang, yang selalu dirundung karena bahasa gaul Jakarta yang dimilikinya beraksen medhok, seperti dalam kalimat semacam “Ghuweee mau ke mBogor!” Dia sebenarnya mahir berbahasa Inggris, tapi itu tetap tidak memperbaiki nasibnya—dia masih menjadi minoritas.

Beruntungnya, lambat laun teman saya di Jakarta tidak lagi menertawai saya. Bukan karena saya semakin mahir berbahasa Jakartanan, tapi karena mereka akhirnya memahami kendala bahasa saya. Di titik inilah saya setuju bahwa bahasa adalah kesepakatan. Yang penting, satu sama lain bisa memahami.

Terlepas dari bualan di atas, sekarang saya ingin menempatkan diri sebagai subjek yang mengamati bahasa Jakartanan di tanah Jawa, Yogyakarta. Saya  masuk Fakultas Ilmu Budaya UGM pada tahun 2004, masa-masa transisi gaya hidup konsumerisme mahasiswa UGM. Gambaran itu saya olah dari pernyataan kakak tingkat saya, seorang aktivis kampus dan kritikus jago kandang, sebut saja Bang Jusman, pemuda Makassar yang fasih berbahasa Jawa dalam segala tingkatan, dari ngoko hingga kromo. Dia memandang bahwa mahasiswa UGM, khususnya FIB, tidak lagi merakyat dan membudaya. Mungkin salah satu tanda “merakyat” adalah mahasiswa pendatang bertutur kata dalam bahasa Jawa seperti dirinya, terlebih kami menyandang beban mahasiswa Ilmu Budaya.

Obrolan ini terjadi di Bonbin (kantin sarang aktivis dan preman yang kebetulan diterima di UGM) gara-gara ada segerombolan mahasiswa yang berbicara bahasa gaul Jakarta. “Weh saiki Jakartanan kabeh, tur sugih,” keluh Bang Jusman.

Ya, bagaimanapun, tidak bisa dihindari dan ditolak, seleksi masuk mandiri UGM dan dibukanya kelas internasional memberikan peluang anak Jakarta untuk kuliah di sini. Mereka-mereka yang asli Jakarta pun bukan lagi cuma memperagakan bahasa, tapi juga pakaian, gaya hidup, dan pernak-pernik budaya lain. Mungkin, bagi sebagian anak pinggiran, mampu bertutur Jakartanan alias bahasa gaul Jakarta dan menyembunyikan logat Jawa adalah cara menjadi mahasiswa keren.

Saya sendiri sempat dekat dengan mahasiswa Jakarta KW II, sebut saja namanya Andhik. Pada awalnya, saya pikir dia memang berasal Jakarta. Namun, setelah saya bertanya langsung, dia pun menjawab dengan jujur dan tulus, mengakui bahwa dirinya merupakan orang Klaten keturunan Lampung.

[!!!!!!!!11!!!1!!!!!]

Lambat tapi pasti, Andhik ditinggalkan sebagian teman Jakartanya akibat jati dirinya ke-Klaten-annya terbongkar. Di sisi lain, teman-teman Jawanya risih dan menjauh karena ia dianggap “sok Jakarta” dan enggan menggunakan boso Jowo ke sesama kaumnya. Tidak cukup itu saja, seorang gadis asli Jogja yang sempat malu-malu naksir kepada Andhik pun mengurungkan niatnya karena ke-Klaten-annya tadi.

Duh. Cukup sedih juga. Gara-gara bahasa gaul Jakarta, dia sudah kehilangan aset sosial paling besar, yakni teman-teman sekaligus mantan calon pacarnya. Pada saat itu, Andhik-Andhik lain juga sebenarnya banyak; mereka digunjingkan teman-temannya menjadi jadi bahan gosip. Orang ndeso yang sok kota!

Hari ini, pada akhirnya, saya sadar bahwa tidak ada gunanya menertawakan orang karena pilihan bahasanya. Itu adalah hak yang punya mulut atau lambe, Saudara-saudara. Juga, tidak ada hak kita untuk mengklaim bahwa bahasa yang kita tuturkan bersifat eksklusif. Toh, jika kita, sebagai orang Indonesia, mampu dan mahir berbahasa asing yang dipercaya sebagai bahasa peradaban maju; Inggris, Prancis, dan China, tidak ada penutur asli mereka yang komplain dan menyebut bahwa kita tidak pantas menggunakannya, bukan?

Akhir kata, saya anggap ketikan ini sebagai instrospeksi yang menghibur diri sekaligus nawaitu pribadi ke depan agar kita semua dapat bersikap lebih dewasa dalam menanggapi fenomena budaya—termasuk bahasa gaul Jakarta yang kini berkembang dengan aksen Jaksel which is lebih nggateli.

Iklan

Amin YRA!

Terakhir diperbarui pada 3 Desember 2018 oleh

Tags: aku kamubahasa gaul JakartaFIBgue loUGM
Irsyad Martias

Irsyad Martias

Artikel Terkait

Perjuangan masuk UGM.MOJOK.CO

Kehilangan Ayah Menjelang SNBT, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM Meski Harus Belajar di Rumah Sakit

23 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
kuis rempah rempah

Merawat Muruah Rempah Nusantara lewat Riset Genetika

2 Juli 2026
Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
UGM.MOJOK.CO

Berhasil Kuliah Gratis di Jurusan Mahal UGM Berkat Kebiasaan Belajar Pukul 3 Pagi dan Hobi “Nongkrong” di Perpus Hingga Malam Hari

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.