MOJOK.COPetisi online tadinya dipakai untuk melawan ketidakadilan, sekarang dipakai untuk merisak orang. Donasi online yang tadinya buat bantu orang yang sangat kesusahan, sekarang dimanfaatkan untuk menipu.

Petisi online dan website penggalangan dana adalah senjatanya kaum elite di era digital. Dengan gawai di tangan, mereka mampu melakukan perubahan nyata tanpa harus beranjak dari tempat tidur.

Dimulai dari change.org yang telah beberapa kali memenangkan perseteruan melawan ketidakadilan. Dari mulai menyelamatkan satwa langka dari eksploitasi, membela seorang saksi ahli yang dituntut oleh korporasi pembakar hutan, sampai pembatalan UU yang diam-diam disahkan DPR. Dengan tanda tangan, dunia terselamatkan.

Namun, belakangan ini, change.org dipakai untuk kepentingan ego penggagasnya. Salah satunya petisi online yang ditujukan untuk seorang pengguna Twitter bernama Hilmi. Hilmi didesak untuk tutup akun karena selama ini ia bikin konten yang tidak lucu. Wow. Apa urgensinya coba? Padahal masalah seperti ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan fitur mute atau block.

Pembenci yang mengajak orang lain untuk ramai-ramai membenci tak ubahnya seorang perisak. Change.org dibuat bukan untuk perisakan, melainkan untuk meruntuhkan raksasa yang zalim dengan kekuatan kolektif rakyat kecil. Kebalikan dengan Kitabisa.com yang ditujukan untuk membantu rakyat kecil yang malang dengan menyatukan uang banyak orang.

Nama Kitabisa.com selalu disebut-sebut setiap ada bencana alam. Kitabisa.com memfasilitasi dermawan yang ingin berdonasi. Ketika dana sudah terkumpul, akan disalurkan kepada yang membutuhkan.

Baca juga:  Surat buat Penganiaya Audrey

Efek donasi bagi seseorang yang menunaikannya adalah kelegaan. Setelah donasi, timbul perasaan bahagia karena bisa membantu sesama. Merasa berguna untuk orang lain. Namun, ada saja pihak yang memanfaatkan rasa simpati seseorang untuk keuntungan pribadi. Membuat donatur bukannya merasa berguna, malah merasa tertipu.

Misalnya, oknum yang bikin cerita karangan pengundang iba warganet di media sosial. Ujung-ujungnya ia mencantumkan nomor rekening untuk memohon donasi online. Lalu ada cerita memilukan serupa. Namun, nomor rekening yang dicantumkan masih sama. Jadi, beda cerita sedih, sumbangannya ke satu nomor rekening tujuan. Oknum ini semacam kolektor cerita sedih yang manipulatif demi mengundang dermawan untuk menyumbang.

Twitter please do your magic!” jadi mantra ajaib di internet. Ibarat tongkat sihir yang digunakan untuk sihir hitam, itulah penipuan berkedok cerita yang menjual kesedihan. Sejatinya hanya ingin meraup uang netizen yang budiman.

Penipuan seperti ini jadi preseden yang buruk bagi orang yang benar-benar membutuhkan manfaat dari efek magis Twitter. Namun, penggalangan dana di Kitabisa.com yang harusnya melalui proses persetujuan admin pun tidak lepas dari kekonyolan.

Baca juga:  Akal Sehat dan Lowongan Kerja Abal-Abal

Ada seorang PNS yang membuat penggalangan dana di Kitabisa.com untuk pesta pernikahannya yang membutuhkan 200 juta rupiah. Inilah sebuah pemberontakan terhadap adat istiadat pernikahan di Indonesia. Daripada capek-capek nabung untuk ngasih makan orang tak dikenal ketika resepsi, sekalian aja pakai duit orang tak dikenal juga untuk menyelenggarakannya. (Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini.)

Sementara itu, ada guru honorer di daerah terpencil yang butuh dana untuk beli sepeda motor seharga 15 juta rupiah. Sebab selama ini dia bolak-balik jalan kaki ke sekolah. Nah, yang seperti ini yang lebih mendesak. Untunglah, para donatur masih waras dalam menentukan skala prioritas.

Demi kesehatan sistem donasi online, alangkah baiknya Kitabisa.com mulai selektif menaikkan tajuk penggalangan dana. Sebab kalau dibiarkan, lama-lama orang yang minta bantuan dana bakalan makin ngaco. Misalnya, minta sumbangan untuk berlangganan Netflix karena website streaming film ilegal sudah diblokir.

Kampanye KitaBisa milik PNS yang minta donasi 200 juta untuk biaya nikah sudah dihapus. Bagaimana kasus itu bisa ramai, awalnya dari thread Twitter ini.

BACA JUGA Cerita Guru Privat yang Lebih Tahu soal Anak Didik dan Ortunya Dibanding Guru Sekolah atau komentar terbaru di rubrik POJOKAN.



Tirto.ID
Loading...

No more articles