Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Tanpa Disadari, Kita Memasuki Alam Sinetron Melalui Politik

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
9 Januari 2019
A A
Debat capres Jokowi Prabowo MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setiap kisah selalu punya khasnya sendiri. Setiap drama selalu punya konfliknya sendiri.

Untuk urusan yang satu ini, negeri kita punya satu aset keunikan drama yang rasa-rasanya susah untuk dicari tandingannya di negara-negara lain: Sinetron.

Ada satu hal yang sangat khas yang kerap tidak kita sadari dari konsep sinetron yang banyak beredar di stasiun-stasiun televisi kebanggaan kita itu, yakni dalam setiap tokoh di sinetron, hampir tidak ada tokoh yang nanggung, selalu total. Kalau baik yang pasti baik banget. Kalau jahat ya jahat banget.

Konsep itu seperti sudah menjadi prosedur tetap. Dan itu sudah bertahan sejak lama. Sedari dulu.

Di sinetron legendaris Bidadari, misalnya, Lala mau dijahatin bagaimanapun sama Bombom, ia akan tetap baik sama saudaranya itu. Begitu pula dengan Revalina “bawang putih” Temat itu, mau diperlakukan seburuk apapun oleh Nia “bawang merah” Ramadani, ia tetaplah menjadi pribadi yang baik hati dan lemah lembut bagi saudari tirinya yang jahat itu.

Sebaliknya, Mbak Leily Sagita, mau dibaikin gimana juga, ia akan tetap mendelik-mendelik dengan tatapan mata yang sangat mengerikan. Saking mengerikannya tatapannya, ia sampai layak untuk dijadikan ancaman buat anak kecil yang nggak mau makan atau nggak mau mandi. “Hayo, makan nggak? kalau nggak mau makan nanti tak panggilin mbak Leily Sagita, lho!”

Tentu kita semua sadar betul, bahwa konsep total dalam sinetron itu muskil terjadi di dunia nyata. Sebab semua orang paham, alam di luar tivi adalah alam yang kompleks. Alam di mana kebaikan dan keburukan berpadu sempurna.

Di dunia nyata, rasanya susah betul ketemu sama orang yang jahatnya atau baiknya full nggak setengah-setengah. Sebaik-baiknya orang pasti ada jahatnya, begitu pula sebaliknya, sejahat-jahatnya orang, pasti ada baiknya.

Semakin hari, kemuskilan ini agaknya semakin luntur. Kontestasi politiklah yang membuat begitu.

Sekarang, bagi segelintir orang (untuk tidak menyebutnya banyak), Jokowi beserta para pendukungnya itu sebaik-baiknya manusia, dan Prabowo serta para pendukungnya itu seburuk-buruknya. Dan begitu pula sebaliknya bagi segelintir yang lain.

Saya banyak menemukan di kolom komentar, bagaimana sosok Prabowo dianggap sebagai sosok tanpa cela, pembawa harapan, pembela agama, ketika di pihak yang lain, Jokowi dianggap sebagai pembela penista agama, perusak bangsa, pemimpin zalim, dan segala label buruk lainnya.

Di kolom komentar yang lain, saya menemukan yang sebaliknya. Jokowi dianggap sebagai pemimpin harapan, baik hati, tulus, paham agama, dan label-label baik lainnya, ketika di pihak yang lain, Prabowo dianggap sebagai calon presiden yang sangat ambisius, tidak paham agama, pelanggar HAM, kejam, dan label buruk lainnya.

Pada akhirnya, diakui atau tidak, kita memang hidup di alam yang semakin sinetron.

Kita semakin mudah bertemu Lala dan Bombom dalam bentuk yang nyata.

Iklan

Ya Tuhan, jika memang hidup ini adalah sinetron, ijinkan hambamu ini menjadi Boy anak jalanan: parasnya tampan, keluarganya makmur sentosa, pacarnya cantik, motornya bagus, kawan-kawannya setia, dan kalau berkelahi jarang kalahnya.

Terakhir diperbarui pada 9 Januari 2019 oleh

Tags: jokowiprabowoSinetron
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
cerita fresh graduate magang di kemkomdigi dapat gaji magang layak. MOJOK.CO

Pengalaman Fresh Graduate Magang di Instansi Pemerintah Kemkomdigi, Dapat Gaji Setara UMP tapi Harus Benar-benar Siap Kerja

23 Januari 2026
Lulusan UNSRI resign dari pegawai bank. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana UNSRI Pilih Resign sebagai Pegawai Bank, Lebih Menjanjikan Buka Toko Kelontong

21 Januari 2026
Warung Bakso Horor di Selatan Jogja MOJOK.CO

Warung Bakso Horor di Selatan Jogja: Teror Gaib yang Tak Kunjung dan Belum akan Berhenti

22 Januari 2026
senar raket. mojok.co

Indonesia Masters 2026 Jadi Tempat Merawat Kenangan Keluarga, Rela Cuti Kerja demi “Napak Tilas” Mendiang Ayah di Istora

21 Januari 2026
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayakan

18 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.