Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Sudah Tahu Bakal Sakit Hati, Malah Masih Kepo Mantan Berulang Kali

Audian Laili oleh Audian Laili
20 Mei 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sensasi kepo mantan mungkin memang betul-betul nagih. Tidak mengherankan jika banyak orang yang akhirnya melakukan hal bodoh ini.

Saya terkadang nggak paham dengan pola pikir para pesakitan cinta yang memilih merasakan pedih berulang-ulang kali dengan sebuah jalan menyakitkan: kepo mantan dengan segala kehidupan barunya. Begini, mereka kan sudah tahu kalau aktivitas kepo mantan ini bisa bikin sakit hati. Akan tetapi, kenapa kok mereka jadi kayak ketagihan? Lantas, melakukan hal tersebut seperti sebuah kebiasaan? Jadi apa yang sebetulnya dia cari? Rasa sakit tiada henti?

Sebetulnya, kepo lahir dari sebuah sikap yang sungguh mulia, yakni peduli dengan orang yang kita kenal. Sayangnya, rasa peduli ini kemudian jadi cenderung (((terlalu mencari tahu))) soal hal-hal yang bikin kita penasaran. Sedetail mungkin, betul-betul sampai knowing every particular object.

Saking tingginya rasa ingin tahu yang muncul, tidak jarang hal ini bisa menganggu dan menimbulkan masalah bagi orang lain. Ya, mohon maaf, nih. Memang betul, kalau rasa ingin tahu itu baik, sangat baik malah. Bagaimanapun juga, hal inilah yang membuat otak kita terus berkembang setiap harinya. Namun, kalau rasa ingin tahu ini menjadi obsesi, hal ini perlu diwaspadai.

Iya, terobsesi pada sesuatu juga ada baiknya bagi perkembangan “kemampuan” kita. Tapi, kalau hal ini malah menganggu aktivitas kita sehari-hari, gimana? Apalagi, kalau sebetulnya rasa ingin tahu itu sendiri, sudah menyimpan praduga dan kecurigaan. Bukannya ketika sudah tahu sesuatu kita menjadi tenang. Justru, hanya meninggalkan rasa resah dan gelisah.

Selanjutnya, yang bikin kepo mantan semakin menyebalkan, dia tidak lagi berbentuk kepedulian pada orang lain. Sebaliknya, rasa ingin tahu tersebut muncul karena kita ingin membandingkan hidup kita dengan hidup si mantan saat ini. Begitulah, alih-alih sebagai bentuk peduli, sebetulnya kepo malah cuma untuk fokus ke diri kita sendiri.

Bagi orang-orang yang sedang patah hati sepatah-patahnya, kepo mantan adalah senjata andalan untuk memperjelas keyakinan di kepalanya. Keyakinan soal berbagai praduga yang rasa-rasanya memang butuh kepastian yang paling pasti. Meski sebetulnya si kepastian ini sungguh sudah jelas dan nggak perlu diperjelas lagi.

Teman saya, misalnya. Ia sudah putus dengan kekasihnya. Sudah tahu juga alasan yang jelas dari perpisahan tersebut. Namun, dia tak juga jera untuk terus mencari tahu dan memastikan sesuatu yang terjadi setelah mereka berpisah. Apakah dia sudah punya pasangan baru? Apakah si mantan diam-diam masih peduli dengannya? Bagaimana kehidupannya sekarang? Apakah dia sudah bahagia kembali? Dan sebagainya.

Hubungan mereka sudah selesai dan sangat kecil kemungkinan untuk bisa kembali lagi seperti dulu. Akan tetapi, yang bikin saya nggak paham, kenapa teman saya ini harus mencari-cari tahu soal hal-hal yang tidak mungkin lagi membuat mereka dapat kembali? Bahkan secara sadar, dia juga tidak menginginkan hal tersebut kembali. Dia juga tahu dan ngerti, kalau kepo mantan justru bikin rasa sakit hatinya semakin besar. Lantas, mengapa dia memilih untuk menggarami lukanya sendiri? Yang mana bakal membuatnya semakin sedih bahkan depresi, ketika mendapati informasi yang tidak seharusnya dia ketahui dari si mantan.

Kenapa dia justru memilih untuk terus menerus memunculkan dementor di dalam pikirannya? Apa yang sebetulnya dia cari? Pengakuan semacam apakah? Bukankah akan lebih baik-baik saja, kalau kita tidak terlalu mengetahui banyak hal? Seperti, tidak apa-apa menjadi orang yang tidak tahu apa-apa.

Dia menyadari itu, tapi tetap memilih mencari tahu—kalau bisa—sampai ke akar-akarnya, suatu hal yang sama sekali nggak ada nyaman-nyamannya. Buat apa, sih? Sayangnya, ternyata rasa sakit bisa semenagih itu. Membuatnya seolah terus mendamba rasa sakit hasil kepo, dan bikin dia terus mengulanginya lagi dan lagi.

Ya, sebagian orang sungguh menikmati betul rasa sakit hati yang didapatkan dari kepo mantan. Rosdiana Setyaningrum, seorang psikolog menyebut hal ini sebagai masokis emosional. Seorang dengan sengaja kepo mantan dan stalking untuk menikmati rasa sakit dari setiap informasi yang dia dapatkan. Sebagian lagi berharap, mereka dapat terlihat terpuruk di mata mantan. Lantas, siapa tahu si mantan kasihan terus ngajak balikan. (((Siapa tahu loh, ya))).

Soal kepo mantan ini, biasanya dilakukan oleh orang-orang yang belum merasakan betul keamanan dalam hidupnya. Mungkin ada sebuah kejadian di masa lalu yang membuatnya terus menerus kepo untuk memuaskan rasa ingin tahu yang semu itu. Inilah yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Supaya rasa aman di hidupnya betul-betul dapat dia rasakan.

Pasalnya, akan jadi lebih membahayakan saat seorang yang suka kepo mantan kemudian bertransformasi menjadi seorang stalker tingkat tinggi. Nah, kalau keinginan cari tahu ini nggak bisa dikontrol, akan memungkinkan suatu saat nanti jadi pengin menyadap media sosialnya, mungkin? Iya, langsung main sadap-menyadap, nggak sekadar bikin fake account, doang. Kalau udah kayak gini, apa ya nggak menganggu privasi?

Iklan

Udahlah, dicukupkan saja informasi untuk semakin menyakiti diri sendirinya. Apa pun yang dia lakukan, tidak seharusnya membuatmu sakit hati dan merasa sedih sendiri. Untuk apa semua rasa sakit itu? Memangnya kalau kamu sakit, dia bakal balik bersimpati dan menolongmu? Ohhh, jangan terlalu ber-FTV ria seperti itu, Maemunah.

Terakhir diperbarui pada 20 Mei 2019 oleh

Tags: kepo mantanPutus Cintastalking
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6
Video

Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6

3 Maret 2025
Mereka yang Disuruh Putus Orang Tua Pacar karena Bukan Mahasiswa: Sakit, tapi Tak Perlu Repot-repot Kasih Pembuktian MOJOK.CO lebaran
Liputan

Cerita Pilu 2 Pria yang Hubungannya Kandas Menjelang Lebaran, Ada yang Bawa-bawa Agama dan Dianggap Tak Punya Masa Depan!

9 April 2024
Hari Kesehatan Mental Sedunia yang Sepi MOJOK.CO
Esai

Hari Kesehatan Mental Sedunia yang Sepi

11 Oktober 2021
jerinx, tirta, SID, mantan, putus cinta, harapan mojok.co
Pojokan

Jerinx dan Omelan Mantan: Pelajaran tentang Harapan

1 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
iphone 11, jasa sewa iphone jogja.MOJOK.CO

User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

14 Maret 2026
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.