• 159
    Shares

MOJOK.COHari ini, 10 Oktober 2018 adalah Hari Kesehatan Mental sedunia. Sudahkah kamu menjaga kesehatan mental seperti menjaga kesehatan fisikmu? Sakit mental itu bahaya juga.

Sejak kecil, kita semua diajari untuk menjaga kesehatan fisik. Misalnya, disuruh gosok gigi setelah makan supaya gigi tidak berlubang, disuruh minum obat ketika sakit, dan disuruh mengobati luka pakai Betadine kalau kita berdarah karena terjatuh atau melukai diri kita tanpa disengaja.

Yang menurut saya aneh dan baru saya sadari adalah kenapa ya rasa-rasanya kok kita nggak pernah diajarkan hal yang serupa ketika berbicara soal sakit mental? Padahal kan sudah jelas kalau manusia itu bukan hanya seonggok daging yang menurut sains terdiri dari 70% air dan 30% kekecewaan tapi ada juga bagian lain seperti pikiran dan perasaan yang juga tak kalah pentingnya.

Apa karena sakit fisik itu luka yang nampak makanya kita lebih memperhatikan kesehatan fisik dibanding sakit mental, ya? Padahal, luka mental itu sebenarnya tidak sepele. Meskipun tidak berdarah, sakit mental bisa lebih parah dari sakit fisik. Kalau nggak percaya, Almarhum Maggie Z sudah pernah kasih contoh dalam lagunya. Katanya “Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati ini~ biar tak mengapa~”

Kalau sakit gigi, kita cuman nggak bisa makan. Coba kalau sakit mental, misalnya kamu patah hati, selain nggak bisa makan, kita juga nggak bisa tidur, kerja, dan nggak bisa ngapa-ngapain termasuk nggak bisa berhenti nangis dan mengingat kenangan ketika bersamanya. Loh seriusan ini!

Contoh sakit mental lain yang juga nggak kalah serius selain patah hati adalah luka akibat penolakan. Penolakan itu, selain bisa membuat kita kehilangan kepercayaan diri, juga bisa membuat kita takut mencoba lagi. Kenapa? Ya karena sudah yakin sejak dalam pikiran bahwa kita akan ditolak kembali dan gagal.

Ini sih masih jenis luka mental normal, masih stadium satu lah. Banyak lagi sakit mental yang lebih berbahaya, lebih menyakitkan, dan mengerikan. Bahkan sampai membuat orang yang merasakannya memilih untuk menyerah dan mengakhiri hidupnya.

Baca juga:  Drama Kembalinya Awkarin yang Jual Akun Instagram ke Dirinya Sendiri

Kok bisa sih ada penyakit mental yang separah itu, tapi nggak dapat perhatian dari orang-orang? Ya tentu saja bisa, penyebab utamanya karena orang yang sakit mental lebih suka mengubur “sakit” mereka dalam-dalam karena merasa tidak akan ada orang yang mengerti perasaan mereka.

Mereka juga takut akan persepsi orang jika bercerita. Alih-alih mendapat empati, mereka biasanya dihujani dengan ceramah atau dinilai jauh dari Tuhan dan kurang baca Al-Quran. Masalah kesehatan mental sampai saat ini memang masih sedikit dibicarakan. Akibatnya terbentuk stigma dan kesalahpahaman ketika membahas persoalan ini.

Depresi, sebagai salah satu bentuk spesifik sakit mental, masih dianggap sebagai sesuatu yang nggak penting. Ketika curhat kalau kita sedang depresi, masih banyak orang yang langsung menghakimi kalau kita “sakit jiwa” dengan konotasi orang gila. Padahal itu dua hal yang berbeda. Jadinya, depresi masih sering disepelekan.

Padahal kalau kita mau jujur-jujuran, sakit mental itu sebenarnya dirasakan oleh semua orang. Bahkan kata WHO, permasalahan ini bisa muncul sejak usia 14 tahun. Sayangnya, kebanyakan tidak terdeteksi atau hanya dibiarkan sembuh sendiri. Padahal kalau dibiarkan, sama seperti sakit fisik, sakitnya bisa semakin parah.

Menurut sains, sakit mental juga dapat menjadi sakit fisik. Dalam banyak kasus, orang depresi merasakan sakit kepala berlebihan yang mendorong dia untuk menggunakan alkohol atau/ dan obat-obatan untuk meredakan rasa sakit itu. Belum lagi gangguan tidur dan masalah pola makan yang mengikuti di belakangnya. Pokoknya seram deh…

Setelah tahu bahwa kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik, kira-kira cara menjaga kesehatan mental itu bagaimana, sih?

Pertama, yang perlu kita lakukan adalah mempelajari dan memahami tanda-tanda kemunculan sakit mental. Sama seperti sakit fisik, tubuh kita mempunyai sistem “peringatan” yang akan memberikan tanda jika ada sesuatu hal buruk sedang terjadi. Mengenali tanda ini akan membantu kita mengetahui sesuatu yang salah di dalam diri.

Kedua, setelah mengetahui tandanya, kita harus inisiatif dan berani bercerita ke orang lain. Kita butuh orang untuk bercerita atau sekadar mendengarkan keluh-kesah kita. Bercerita akan meringankan beban kita. Menunjukkan emosi dan rasa sedih di hadapan orang lain adalah sesuatu yang normal. Jangan merasa membebani orang lain. Khususnya, orang-orang terdekat kita. Yakini dan percaya bahwa mereka peduli dan akan selalu ada bersama kita.

Baca juga:  Kampus dan Ekspektasi Orang Tua Membuat Saya Depresi

Ketiga, mulai lakukan self care. Ketika merasa sedang tidak baik-baik saja, lelah, stres, atau ketakutan, kita harus berhenti sejenak. Lupakan dulu pekerjaan. Kalau perlu, pergi liburan, makan enak, dan bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan. Ingat, kesehatan adalah nomor satu, pekerjaan normor sekian. Toh, kalau dipaksakan bekerja, kita tidak akan bisa melakukannya dengan baik.

Terakhir, belajar untuk tidak terlalu jahat terhadap diri sendiri. Saya sangat tahu hal ini karena pernah mengalaminya sendiri. Ketika sakit mental, akan ada banyak hal buruk yang muncul.

Kebanyakan dari hal buruk itu adalah pikiran-pikiran bahwa kita tidak berguna, kita jahat, dan tidak pantas mendapatkan hal baik. Akibatnya, kita akan diliputi perasaan bersalah. Saat mengalami hal ini, saya menyebutnya diri saya sedang sakit otak.

Pada titik ini, kita harus berhenti menghakimi dan belajar memaafkan diri sendiri. Kita harus ingat bahwa pikiran jahat itu hanya ada di dalam otak. Ingat juga bahwa banyak hal baik lain yang pantas kita dapatkan.

Kamu pasti kenal J.K Rowling, kan? Sebelum dan saat menulis Harry Potter, J.K. Rowling sedang depresi. Beliau menggambarkan depresinya lewat sosok Dementor.

Dementor adalah makhluk yang kerjaanya mengisap jiwa dan kebahagiaan orang lain. Rowling menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk mengalahkan Dementor adalah dengan menciptakan Patronous, sebuah sihir yang hanya bisa terbentuk ketika kita memikirkan kenangan-kenangan indah yang penting dan berarti bagi diri kita.

Jadi, ketika kita merasa sakit mental dan mulai merasakan “Dementor-Dementor” itu menyerang, coba hentikan dengan mengeluarkan mantra Patronous. Ingat lagi hal-hal indah, menyenangkan, dan Wushhhhhhhhh Dementor-Dementor itu akan kabur ketakutan.

  • 159
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles