Saya pernah ingin menjalani slow living. Keinginan itu muncul setelah lelah sekali bekerja menjadi budak korporat selama puluhan tahun.
Jujur aja, saya pernah membayangkan hidup slow living versi saya. Bangun pagi tanpa tergesa-gesa, menyiram tanaman, bikin kopi, makan rebusan, nganter anak sekolah, siangnya push rank Mobile Legends, lalu baca buku, dan tidak lupa makan enak.
Namun, khayalan itu berhenti ketika saya ingat berbagai tagihan dan posisi saya sebagai produk sandwich generation level bos: diapit 3 keluarga sekaligus.
Pada saat yang sama, saldo rekening saya hanya cukup untuk bertahan sampai tanggal gajian. Sudah begitu, kondisi ekonomi Indonesia sedang begitu busuk. Dalam situasi seperti itu, tabungan itu rasanya kayak ember bolong dan kita sibuk banget ngisi pakai air timba. Nggak ada yang ketampung, bos!
Maka saya mencapai sebuah titik kesimpulan. Bahwa slow living itu sekarang bukan lagi gaya hidup, tapi kemewahan yang hanya segelintir orang bisa menikmatinya.
Tidak sama dengan hidup santai
Setelah menikah pada 2019, saya tahu akan hidup di desa. Saat itu, saya dan istri memutuskan untuk nggak ngontrak rumah dulu karena harus menjaga bapak dan ibu yang sudah semakin tua.
Saya sih nggak keberatan. Saat itu, bayangan saya adalah hidup yang tenang dan pelan. Tapi, itu semua cuma mimpi basah saya saja.
Hidup di desa tidak otomatis membuat kamu bisa slow living. Sebagai anak petani, saya juga harus memikirkan cuaca, pupuk, hama, harga jual, biaya panen, dan kebutuhan keluarga.
Hidup memang terlihat lebih lambat dari luar. Namun, masalah tetap bergerak dengan kecepatan yang sama.
Saya pernah ngobrol sama tetangga. Dia cuma 1 tahun lebih tua jadinya kami cepat akrab.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, dia udah sibuk ngasih makan ayam, membersihkan halaman, pergi ke sawah, lalu kembali untuk mengurus orang tuanya. Dari luar kelihatan hidupnya mengalir dengan tenang.
Ketika saya bertanya apakah dia menikmati hidup yang slow living ini, dia tertawa.
“Tenang dari mana? Kalau hujan tidak turun, saya pusing. Kalau hujan terlalu deras, saya juga pusing.”
Begitulah. Slow living zaman sekarang itu soal ada berapa miliar di tabungan kamu.
Apakah orang miskin juga boleh slow living?
Dulu, saya tidak ingin menganggap semua orang yang mempraktikkan slow living sebagai orang kaya. Banyak orang memang berhasil menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana. Mereka bisa merasa cukup dengan memasak sendiri, berjalan kaki, membaca buku, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
Masalahnya, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memilih hidup seperti itu. Misal, orang yang bekerja dengan gaji pas-pasan tidak selalu bisa menolak lembur. Ya, kan?
Dia mungkin ingin pulang lebih awal, tetapi biaya hidup memaksanya mengambil pekerjaan tambahan. Ingin beristirahat pada akhir pekan, tetapi kebutuhan rumah tangga memintanya mengantar pesanan, berjualan, atau mencari penghasilan sampingan.
Saya pernah ingin berhenti memeriksa rekening setiap hari. Tetapi, kebutuhan hidup mengharuskan saya mengetahui apakah uang saya cukup untuk membeli kebutuhan 3 keluarga sampai akhir bulan.
Bagi orang yang memiliki tabungan besar, istirahat mungkin terasa seperti pilihan. Bagi saya, istirahat kadang terasa seperti kemewahan.
Saya bisa saja menikmati kopi selama satu jam tanpa memikirkan pekerjaan. Namun, setelah itu saya tetap harus kembali bekerja. Saya bisa mematikan notifikasi selama sehari, tetapi saya tidak bisa mematikan kebutuhan hidup. Maka, apa itu slow living?
Kayaknya kita nggak butuh slow living, tapi butuh hidup yang tidak terlalu menekan
Setelah memikirkan semua itu, saya makin yakin kalau slow living itu kemewahan. Gaya hidup ini hanya bisa dinikmati kalau tabunganmu minimal nambah 1 miliar perbulan deh.
Dan, ketimbang sok-sokan mencari “ketenangan” dari slow living, kayaknya kita lebih butuh hidup yang nggak menekan. Saya yakin banyak dari kita itu nggak masalah kerja keras. Kita cuma malas aja kalau hidup (dan karier) yang terlalu menekan dan menuntut padahal kita udah kontribusi banget.
Kadang, kita itu cuma pengin hidup yang simpel. Misal:
- Menerima gaji tanpa langsung menghabiskannya untuk membayar utang.
- Ambil cuti tanpa menghitung berapa banyak uang yang akan hilang.
- Makan siang tanpa merasa bersalah karena mengeluarkan uang.
- Tidur 8 jam tanpa takut bangun dalam keadaan tertinggal pekerjaan.
Keinginan itu terdengar sederhana. Namun, bagi banyak pekerja, keinginan tersebut membutuhkan kondisi finansial yang cukup.
Kini saya mencoba menerapkan slow living dalam bentuk yang lebih realistis. Saya menyisihkan sedikit waktu untuk berjalan kaki, mengurangi pembelian barang yang tidak perlu, dan tidak selalu membalas pesan dalam hitungan detik. Saya juga belajar menikmati waktu kosong tanpa merasa wajib mengubahnya menjadi sesuatu yang produktif.
Jadi saya mikir. Seseorang baru bisa menikmati hidup dengan perlahan ketika dia memiliki ruang untuk berhenti.
Ruang itu bisa berupa waktu, uang, tenaga, atau dukungan dari orang lain. Tanpa semua itu, ajakan untuk slow living hanya akan terdengar seperti nasihat dari orang yang tidak pernah memeriksa saldo rekening bahkan sebelum tanggal tua.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.














