Meme nonmuslim ikut war takjil menjelang buka puasa selalu viral dari tahun ke tahun. Ketika pertama kali melihat meme itu, saya langsung relate. Sebab, saya salah satu nonmuslim yang gemar war takjil itu. Tidak sendiri, beberapa kawan nonmuslim lain ternyata juga selalu bersemangat berburu takjil.
Muncul berbagai macam respon terhadap meme itu. Tapi, sejauh pengamatan saya, respon netizen cenderung bercanda atau lucu-lucuan saja. Misal, “Buka masih jam 6, tapi sudah war takjil jam 3”, “Pantes kehabisan”, dan banyak komentar serupa lainnya.
Saya pribadi tidak ambil pusing dengan meme atau komentar itu. Toh niat saya war takjil tidak untuk merugikan orang atau pihak lain. Saya memang hobi jajan dan kebetulan kegemaran ini bisa jadi rezeki bagi para penjual.
War Takjil jadi semacam kebiasaan yang sudah terpupuk selama bertahun-tahun
Bagi nonmuslim seperti saya, entah kenapa ada kesenangan tersendiri ketika memasuki bulan puasa. Mungkin karena sudah bertahun-tahun hidup di negara yang mayoritas penduduknya muslim ya. Ramadan tidak sekadar bulan yang penting bagi agama tertentu, tapi sudah menjelma jadi semacam budaya bagi seluruh penduduknya.
Saya merasakan betul vibes Ramadan karena hingga detik ini masih sering dapat undangan buka bersama (bukber) walau tidak menjalankan ibadah puasa. Saat hari raya Lebaran nanti saya jaga masih berkeliling ke rumah teman dan saudara. Dahulu, waktu masih merantau, saya juga sibuk war tiket mudik seperti teman-teman muslim lain.
Itu mengapa, ketika penjaja takjil muncul tiap sore selama bulan puasa, saya jadi ikut-ikutan pengin jajan. Sudah jadi semacam kebiasaan tahunan yang berjalan sejak dahulu. Di samping sudah terbiasa, war takjil memang seru!
Biasanya, saat bulan puasa, penjaja takjil bermunculan di suatu kawasan tertentu. Kawasan yang biasanya hanya diisi 1 hingga 2 penjual, bisa bertambah berkali-kali lipat saat bulan puasa. Makanan dan minuman yang dijajakan pun beragam. Saking lengkapnya, saya bisa memilih makanan dan minuman yang berbeda setiap hari selama sebulan penuh.
Bayangkan jajanan yang lengkap itu bisa kalian dapat di satu tempat. Kemudahan macam ini bak “surga” bagi saya yang gemar jajan. Kalau tidak punya kendali diri yang baik, bisa-bisa saya kalap dan boros. Apalagi, makanan yang dijajakan harganya masuk akal. Tidak dipatok lebih tinggi dibanding hari-hari biasa. Benar-benar surga dunia.
Muncul makanan yang jarang bisa disantap selain bulan puasa
Hal menarik lain dari berburu takjil adalah muncul makanan atau minuman yang biasanya sulit ditemui di hari-hari biasa. Misalnya saja pisang ijo. Saya amat jarang menyantap pisang ijo kalau tidak di bulan puasa. Di hari-hari biasa jajanan ini sebenarnya masih bisa ditemukan di penjual jajanan pasar di bagi hari. Sayangnya, saya sering kehabisan karena stoknya yang terbatas dan saya suka kesiangan jajannya.
Selain bermunculan jajanan “langka” macam pisang ijo tadi, bulan puasa memberi kesempatan saya untuk mencicipi jajanan dengan nuansa lain. Misal, saya bisanya menyantap sayur pecel dan japjaek di pagi hari. Karena bulan puasa, saya bisa menyantapnya untuk makan sore atau bahkan makan malam. Benar-benar jadi penglaman yang unik selama bulan puasa.
Itulah alasan orang nonmuslim, setidaknya saya, senang akan bulan puasa dan gemar ikut war takjil. Tidak ada maksud buruk, saya hanya terlalu terbiasa dengan vibes puasa sehingga ingin ikut merayakannya. Semoga tulisan di atas bisa sedikit menjawab rasa penasaran kalian ya.
Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.














