Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Privilege Tinggal Bersama Ibu Kos

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
8 Februari 2021
A A
privilege tinggal bersama ibu kos
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Hidup jadi anak kos seringkali dianggap sebagai perayaan akan kebebasan. Bebas lepas dari pengawasan orang tua. Maka mencari kos bebas tanpa kekangan induk semang seringkali jadi pilihan.

Ketika teman-teman saya banyak mencari kos tanpa induk semang di Yogyakarta, saya justru sebaliknya. Prinsip saya tidak berubah, saya harus kos yang ada induk semangnya, yang ada bapak/ibu kosnya. Alasannya, sama dengan teman-teman yang mencari kos bebas, merayakan kebebasan versi saya.

Mencari kos seperti yang saya inginkan ternyata tidak mudah. Saya bertanya pada kakak kelas tentang kos di Jogja yang ada induk semangnya. Tentu teman-teman saya heran mendengarnya.

Meski bukan hal yang mudah untuk mencari, tapi saya yakin ini bukan sesuatu yang mustahil. Setelah berhari-hari jalan kaki menyusuri gang demi gang di kawasan Pogung Dalangan. Saya menemukannya. Sebuah keluarga yang beranggotakan tiga orang. Sepasang suami istri yang jual gorengan dan seorang nenek yang bekerja sebagai dukun pijat bayi.

Hanya ada satu kamar di rumah itu yang diperuntukan untuk anak kos. Proses negosiasi tidak berlangsung alot. Kos bebas 24 jam. Itu syarat yang saya minta. Maksudnya, saya bebas pulang dan pergi ke kos tanpa batasan jam. Privilege itu saya dapatkan tanpa diskusi alot seperti kos-kos sebelumnya.

Sebut saja namanya Mbah Marto. Usianya mungkin sekitar 60-an. Sosoknya adalah pengambil keputusan di rumah tersebut. Ibu kos yang penuh pengertian. Beliau tidak bertanya kenapa saya minta kos bebas yang jam pulang dan pergi kos bisa 24 jam.

Saya justru yang menggebu menjelaskan alasannya. Saya bilang bahwa saya akan aktif di kegiatan kampus yang jam pulangnya nggak tentu.

Entahlah, mungkin ibu kos menilai di masa depan saya akan jadi pejabat pemerintah atau bos BUMN sehingga mau menerima syarat yang saya minta. Layaknya sebuah kesepakatan perjanjian, ada hak dan ada kewajiban. Kewajiban saya ya hanya bayar kos tepat waktu. Deal.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari menyenangkan bagi saya. Di rumah itu hanya saya yang kos. Meski tidak ada jatah untuk makan. Saya bebas menggunakan dapur.

Karena baiknya ibu kos, saya tak tega harus pulang dinihari. Takut membangunkan tidurnya yang lelap. Pilihannya adalah tidur di sekretariat teater di kampus.

Pulang pagi-pagi, saya hanya nunut mandi dan ganti pakaian. Pergi lagi ke kampus. Ibu kos hanya geleng-geleng kepala melihat begitu rajinnya saya.

Melihat saya tak pernah dikunjungi teman, ibu kos bahkan meminta saya untuk mengajak teman saya main. Tak banyak teman yang tahu lokasi kos saya. Saya tak ingin privilege saya terganggu dengan teman-teman yang datang tak mengenal waktu.

Akhirnya beberapa teman, saya beritahu lokasi kos. Mereka jadi ketagihan datang ke kos. Sebabnya, ibu kos selalu menyediakan kopi untuk kami. Saya kadang nggak enak karena baiknya beliau.

Bahkan pernah suatu kali, ketika teman saya datang, ibu kos sampai menyembelih seekor ayam kampung peliharaannya. Katanya daripada nakal, disembelih saja. Jadi menu makan malam saya dan teman yang datang menginap.

Iklan

Di akhir bulan, ada di kos-kosan adalah pilihan tepat. Setiap malam menjelang, ibu kos akan mengetuk pintu kamar.

“Mas Agung, mau gorengan mboten?” tanya ibu kos dari balik pintu.

Untuk anak kos yang jatah bulanannya kadang habis sebelum akhir bulan, ini adalah privilege. Kemewahan. Bagi saya kos dengan induk semang atau ibu kos adalah merayakan kebebasan dari rasa lapar.

BACA JUGA : Cari Kos Bebas Nggak Berarti Mau Berbuat Maksiat, Bosku!  dan tulisan Agung Purwandono lainnya.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2021 oleh

Tags: anak kosIbu Koskosprivilege
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Kucing peliharaan anak kos Jogja
Catatan

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

11 Maret 2026
Anak rantau di Jogja pilih jadi marbot. MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid

6 Maret 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO
Edumojok

Anak dari Pulau Bangka Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Jadi Wisudawan Terbaik, bikin Orang Tua Bangga dengan Gelar Sarjana Akuntansi

6 Maret 2026
kos jogja, pogung, babarsari, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Menemukan Ketenangan di Kos Rp500 Ribu Kawasan Pogung, Lebih Nyaman Ketimbang Kos LV Babarsari yang Tak Cocok Buat Mahasiswa Alim

12 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.