Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

PMII Lebay, Masak Imam Nahrawi Jadi Tersangka Korupsi = KPK Lagi Nyerang NU

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
20 September 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menarik kesimpulan kayak gitu hanya karena Imam Nahrawi sang menpora berlatar belakang Nahdliyin dan karena KPK ada “Taliban”-nya itu lebay sih.

Reaksi publik terhadap penetapan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka korupsi ini memang agak aneh. Tidak seperti politisi lainnya yang kena kasus tindak pidana korupsi (tipikor), penetapan tersangka Imam Nahrawi cukup unik karena publik malah jadi kayak terbelah.

Coba deh mari kita lihat ke belakang kasus-kasus korupsi besar yang terjadi. Setya Novanto misalnya, hampir tidak satu pun pihak yang melihat bahwa kasus ini adalah bentuk kezaliman KPK terhadap pejabat negara—kecuali menurut Friedrich Yunadi, pengacara Setnov, yang akhirnya juga ikut-ikutan masuk bui. Saya pikir lebih banyak pihak yang sepakat, Setnov memang layak dipenjara.

Atau kalau mau menengok kasus yang hampir setara secara latar belakang pihak yang disangkakan, kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang terjadi pada Ketua PPP Romahurmuziy (Gus Rommy), juga tidak memancing keributan seperti yang dialami Imam Nahrawi.

Padahal secara kultural, keduanya adalah kelompok Nahdliyin juga. Tapi pembelaan terhadap Gus Rommy tidak pernah muncul seperti pembelaan terhadap Imam Nahrawi. Bahkan Gus Rommy seperti “dibuang” begitu saja, tak ada yang membela. Bisa jadi karena bentuk penetapan tersangkanya adalah OTT, jadi lumayan sulit dibantah.

Imam Nahrawi sendiri diduga menerima suap dari KONI. “Total dugaan penerimaan Rp26,5 miliar tersebut diduga merupakan commitment fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan KONI kepada Kemenpora tahun anggaran 2018,” kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata.

Kasus korupsi ini sebenarnya sudah diendus sejak 18 Desember 2018. Ketika KPK menggelar OTT kepada beberapa oknum Kemenpora dan KONI. Saat itu ada 9 orang yang ditahan. Dari gelar perkara ini kemudian muncul nama Mr. X, yang merujuk pada Imam Nahrawi.

Atmosfer berbeda tampak ketika Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi demonstrasi terhadap KPK, sebagai respons Imam Nahrawi jadi tersangka. Bahkan secara tertulis, Pengurus Besar (PB) PMII mengeluarkan seruan untuk mendemo penetapan KPK ini di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut laporan dari CNN, beberapa poin yang menjadi tuntutan adalah segera usir kelompok “Taliban” di KPK, meminta KPK tidak menjadi alat politik, dan memeriksa unsur pimpinan dan penyidik KPK.

“Terlepas dari Mas Imam adalah senior PMII, kita juga melihat bahwa kondisi di internal KPK sendiri itu terlalu politis dalam mengambil langkah-langkah,” kata Koordinator Nasional PMII M. Syarif Hidayatullah.

“Hubungan kelompok ‘Taliban’ kita lihat hari ini bahwa bukan hanya pemerintah yang akan diganggu, tapi juga yang berlatar belakang Nahdliyin karena kan kita lihat Imam Nahrawi sebagai kader PMII, notabenenya kader muda NU,” tambahnya lagi.

Melihat pernyataan demikian, saya kira ini agak berlebihan. Apalagi jika menarik kesimpulan kalau penetapan Imam Nahrawi sebagai tersangka karena sang Menpora berlatar belakang Nahdliyin. Apalagi hanya berdasar tuduhan ada “Taliban” di tubuh KPK (yang sampai sekarang masih berupa indikasi dan belum bisa dibuktikan).

Penetapan Imam Nahrawi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kapasitas beliau sebagai kader muda NU. Kenyataannya, ketika Gus Rommy ditetapkan sebagai tersangka, tak ada satu pun organisasi aliansi dari NU yang mendemo KPK tuh?

Artinya, dugaan serangan ini hanya didasarkan pada isu “Taliban” di tubuh KPK dan ya karena… tersangkanya adalah kader PMII. Wis kuwi thok. Nggak jauh-jauh. Coba kalau Imam ini bukan kader PMII, tapi kader KAMMI misalnya. Ya nggak mungkin ada demo dari PMII. (Ya iyalaaah, Bambaaang. Beda organisasi ituuuu.)

Iklan

Masalahnya, penetapan ini datang pada momentum yang agak riskan secara politik. Di saat KPK sedang diobok-obok melalui UU KPK yang baru, penetapan ini seperti counter attack tiba-tiba ke pemerintah. Kebetulan, pihak pemerintah ini juga punya afiliasi kuat dengan anak-anak muda NU dalam wadah PMII.

Jika melihat ini sebagai upaya “tebang pilih” KPK seperti yang dituduhkan, hal ini juga agak kurang tepat. Sebab, dengan menetapkan Imam Nahrawi sebagai tersangka, KPK justru berisiko memunculkan titik api baru.

Bukannya makin dapat simpati, mereka akan semakin jadi bulan-bulanan. Yah, paling tidak hari ini kita sudah lihat beberapa kader PMII yang juga kader muda NU ikut-ikutan “nyerang” KPK. Tentu dengan narasi, yang diserang adalah “Taliban” di dalam KPK, bukan KPK secara institusi utuh.

Kalau saya yang jadi KPK dan memang berniat “tebang pilih”, saya jelas akan menunggu dulu soal penetapan Imam Nahrawi sebagai tersangka. Dukungan publik terhadap KPK sedang gencar-gencarnya nih. Kalau hanya demi melakukan serangan balik tapi diserang dari front baru begini kan ya jadi “Loris Karius” (baca: blunder) juga.

Poinnya adalah, saya tidak keberatan sama sekali PMII mau menggelar aksi demo atas senior mereka yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Itu wajar saja, lagian juga masih “pihak yang disangka”. Artinya, ya belum benar-benar korupsi. Masih disangka doang. Ya boleh-boleh aja sih kalau nggak terima lalu memproklamirkan ketidaksetujuan itu ke ruang publik.

Hal yang bikin kurang sepakat ya soal tuduhan “Taliban” itu sendiri. Belum ada pembuktian kok kalau benar-benar ada Taliban di tubuh KPK. Tapi kenapa seolah-olah narasi ini sudah diyakini menjadi fakta ya? Masak, asalkan itu menyerang kita, lalu kita jadi mengamini begitu saja tanpa perlu pembuktian?

Di sisi lain, buru-buru menyalahkan PMII hanya karena demo ke KPK juga tidak sepenuhnya tepat. Sebab, seperti yang tadi sudah disebutkan, penetapan Imam Nahrawi menjadi tersangka ini agak berbeda dari Gus Rommy. Pada kasus ini, Imam Nahrawi disangkakan bukan dalam wujud OTT. Hal ini mungkin yang bikin PMII berani menggelar unjuk rasa.

Cuma ya itu tadi, apa PMII tahu risiko dari demo ke KPK ini? Siap dengan citra buruk yang bisa saja menerpa salah satu organisasi mahasiswa yang turut menggulingkan Orde Baru?

Ya kan bisa aja ke depan misalnya bakal ada selentingan, “Idih, organisasi mahasiswa yang menggulingkan pemerintahan korup kok bisa-bisanya dukung tersangka korupsi sih?”

Kalau PMII memang sudah siap dengan risiko dan punya segala macam argumentasi untuk membenarkan aksi ini sih, ya monggo-monggo aja demo. Cuma saya pesen satu, demonya yang santuy ya. Oh iya, Aksi 212 mungkin bisa jadi contoh tuh. Eh.

BACA JUGA Salah Apa HMI Kok Dihujat? atau artikel Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 20 September 2019 oleh

Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO
Urban

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan
Pojokan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.