Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Orang Ngorok Tahu Kalau Suaranya Menganggu, Padahal Dia Nggak Niat Gitu

Audian Laili oleh Audian Laili
20 Juni 2019
A A
Orang Ngorok Tahu Kalau Suaranya Menganggu MOJOK.CO

Orang Ngorok Tahu Kalau Suaranya Menganggu MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Susah juga jadi orang ngorok pas tidur. Ya tahu, kalau suaranya itu emang bikin orang keganggu. Tapi gimana? Wong, nggak bisa dikendalikan~

Saya punya teman dekat dan dia meyakini kalau dia ngorok ketika tidur. Hal ini dikuatkan dengan perkataan orang-orang terdekatnya, kalau saat tidur suara ngoroknya sungguh keras sekali. Tentu saja, bukan dengan nada ejekan yang menyebalkan, tapi sebatas guyonan belaka.

Hal yang kelihatannya ”sepele” ini, ternyata cukup menganggunya. Berbagai hal telah ia coba untuk menahan suara keras tersebut keluar dari tenggorokannya. Seperti menyumpal mulutnya dengan sarung saat tidur, tidur miring—seperti yang banyak disarankan orang, tidur telungkup, tidur terlentang, dan berbagai posisi tidur lain hingga membuat tidurnya kurang berkualitas. Selain itu, dia juga telah mencoba menurunkan berat badannya, tapi hasilnya masih sama saja. Teman kontrakannya yang lain, masih mendengar suara dengkuran kerasnya tiap ia tidur. Bahkan mereka sampai menghafal betul ritme suara tersebut. Bagaimana suara ngorok itu keras di awal, tenang di tengah, dan kembali keras saat dia akan terbangun.

Setiap kali ada acara di luar kota yang mengharuskannya menginap, ia selalu berharap mendapatkan kamar yang sendirian. Pasalnya, dia merasa kurang nyaman jika berada dalam satu kamar dengan “orang asing”. Bukannya dia sok eksklusif, hanya saja dia takut kalau suara ngoroknya saat tidur nanti bisa menganggu rekannya yang sedang beristirahat. Belum lagi, kalau ternyata malah dia harus sekamar dengan orang yang “posisinya” lebih tinggi dibandingnya. Walah, jelas rasa sungkan dan cemas bakal menjalari dirinya bahkan jauh sebelum berangkat.

Tidak hanya soal tidur malam saja dia mengeluarkan suara ngoroknya dengan keras. Saat tidur di tengah hari yang sebentar saja, suara ini tetap saja keluar. Katanya, saat dalam perjalanan panjang menggunakan kereta, dia pernah sangat berusaha untuk tidak tertidur. Hadeeeh, orang yang aneh. Pikir saya saat itu. Bagaimana bisa, ketika kita punya kesempatan beristirahat dalam perjalanan—di kereta lagi, yang goncangannya lebih stabil—dia justru memilih untuk melek saja? Orang ini pengin bikin video perjalanan dengan sawah-vibes, atau gimana, sih?

Ternyata, pernah suatu waktu dia berpergian dengan kereta bersama 4 orang temannya. Yang mana, dua di antaranya adalah seniornya sendiri yang dituakan di lingkungannya. Nah, di tengah perjalanan saat keempatnya terbangun, salah seorang seniornya ini bilang sambil bercanda ke dia, “Wah, tadi kamu pas tidur ngoroknya keras banget. Satu gerbong kayaknya kedengaran, deh. Sampai pada banyak yang noleh ke sini.” Lalu diikuti dengan tawa teman-teman yang lain, termasuk dirinya sendiri.

Saat itu, rasanya dia pengin menyangkal saja kalau dikatain tidurnya tadi ngoroknya keras banget. Wong, dia sendiri yang mengeluarkan suara itu saja nggak kedengaran suara ngoroknya. Bagaimana bisa, orang lain dengan mudahnya menuduh-nuduh begitu? Hem?

Meskipun saat itu dia ikut tertawa, sebetulnya dia merasa sangat malu sekali. Lebih tepatnya, merasa sungkan dan tidak nyaman karena sudah menganggu istirahat orang lain. Rasa malu ini pun jadi bertumpuk, karena dia kepikiran dengan perjalanannya menggunakan kereta yang lalu-lalu. Jangan-jangan, dulu saat tidur, suara ngoroknya juga terlalu sering menganggu? Hanya saja, nggak ada yang pernah bilang, karena mungkin nggak enak untuk bilang padanya?

Menyadari kalau dia ngorok ini, membuatnya merasa sungkan dan takut kalau tidurnya jadi menganggu orang lain. Akan tetapi, dia juga nggak punya kendali apa pun atas suara tersebut. Jadi, pada akhirnya, ya sudah. Mau bagaimana lagi?

Mungkin dia memang telah membuat orang lain tidak nyaman. Tapi, dia juga merasa tidak dapat berbuat banyak soal hal ini. Selain, tetap berusaha keras menurunkan berat badannya, hal lain yang menjaganya untuk tidak semakin terpuruk adalah meyakini kalau orang di sekitarnya tahu dia ngorok. Dan ketika mereka tidak meninggalkannya hanya karena hal tersebut. Itu artinya, mereka telah menerimanya sebagai teman yang memang ngorok saat tidur.

Ngorok memang menjadi suara yang sering kali membuat kita terganggu. Namun, kita pernah kepikiran nggak sih, kalau mereka juga sebetulnya tidak ingin menganggu kita? Segala bentuk gangguan tersebut, betul-betul tidak dapat dia kendalikan. Lantas, haruskah kita masih marah-marah saat berhadapan dengan suara tersebut? Kalau memang orang yang ngorok nggak bisa mengendalikan dirinya sendiri atas suara tersebut, tidak seharusnya kita tetap diam diri dan hanya menyalahkannya saja. Kenapa kita nggak berusaha mengendalikan diri kita sendiri supaya tidak merasa terganggu. Misalnya, pakai headset, mungkin? Bukankah ini dapat lebih menetralisir suara yang terdengar—fokus pada suara yang kita mau?

Kalau dalam perjalanan, kita menemui orang-orang semacam ini. Asalkan dia sudah mau pakai masker saat tidur, itu artinya dia sudah berusaha untuk meredam suaranya. Atau sekadar untuk nutupin mulutnya yang terbuka biar salivanya nggak netes-netes. Pokoknya, setidaknya dia telah berusaha.

Btw, saya sedih kalau ada celetukan semacam, “Wah, tampilan udah kece, tapi kok ngorok?” Lha, memangnya kenapa? Apakah ada relasi linier antara tampilan dan ngorok? Mohon maaf nih, seburuk itukah suara ngorok? Atau semerugikan itukah? Memangnya lebih merugikan yang mana dibanding jadi tukang nyerobot antrian? Udah jelas ngerugiin, malu-maluin, kampungan, nggak bisa ngendaliin dirinya sendiri lagi. Hadeeeh~

Terakhir diperbarui pada 20 Juni 2019 oleh

Tags: ganggu orangistirahatkereta apingorokTidur
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO
Urban

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Pintu timur Stasiun Tugu Jogja, titik keberangkatan kereta api terbaik dibandingkan Stasiun Lempuyangan
Sehari-hari

Dibanding Stasiun Lempuyangan, Saya Lebih Pilih Stasiun Tugu Jogja yang Mahal dan Ramai asal Tak Harus Menahan Emosi Menunggu Jemputan

27 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
pekerja perempuan.MOJOK.CO

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.