Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Natal yang Orisinal Bukan (Hanya) di Gereja, Tapi di Kotak Kado Silang

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
25 Desember 2018
A A
Kado Natal MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pada titik tertentu, Natal yang orisinal bukan (hanya) di gereja. Natal yang genuine justru berada di antara kotak kado silang keluarga.

Alfonsus No Embu, Penyuluh Agama Katolik di Kantor Kementrian Agama, Kabupaten Merauke dan dosen Sekolah Tinggi Katekisasi Pastoral St. Yakobus, pernah menulis sebuah esai yang begitu menarik, sekaligus menggelitik tentang “ibadah lintas paroki” di jurnal “Retorika” terbitan Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma.

Alfonsus menjelaskan bahwa di Yogyakarta, terjadi yang namanya ibadah lintas paroki sejak lama. Misalnya, umat dari Paroki St. Yohanes Pringwulung, memilih beribadah di Paroki Santo Antonius Padua Kota Baru. Ada beberapa alasan yang mendasari ibadah lintas territorial paroki, dan hampir semuanya bukan alasan religuisitas dan spiritualitas.

Alasan itu, antara lain soal tata ruang gereja, tempat parkir, dekat dengan tempat wisata, lebih rindang, kotbah yang modern, nonton film pendek ketika kotbah, koor yang seru, dramatisasi, hingga ekaristi khusus untuk kaum muda. Banyak anak muda berbibadah karena ingin sekalian cuci mata “menonton” cewek-cewek yang ke geraja pakai pakaian dugem, bisa duduk-duduk di trotoar sambil mengobrol atau merokok, hingga sambil jajan batagor dan crepes.

Batagor di Gereja Kota Baru memang enak. Saya sudah mencobanya langsung. #ehh

Memang, tak bisa dimungkiri, beberapa brand ibadah misa di gereja tertentu memang lebih menarik ketimbang gereja lainnya. Pastor dan isi kotbah yang lucu, hingga ibadah yang lebih singkat, menjadi contoh. Dan, pada akhirnya, umat akan menjelma menjadi “konsumen” dari produk brand gereja tertentu.

Dalam hermeneutika sosiologis, Zygmunt Bauman, seorang sosiolog dari Polandia menjelaskan bahwa ada dua operasi besar yang mendasar dalam masyarakat (Katolik), yaitu defamiliarisasi dan memahami fenomena dalam konteks struktural besar. Konteks struktural saat ini, menurut Bauman, adalah budaya konsumen dan modernitas cair. Budaya konsumen, melahirkan yang namanya mentalitas belanja.

Dalam konteks ibadah lintas paroki, umat menjadi konsumen yang melakukan aktivitas “belanja”. Ia membanding-bandingkan, membuat berbagai pertimbangan tentang ibadah mana yang lebih asik, dan penjajakan yang berulang-ulang sebelum menentukan produk (baca: gereja) yang akan ia nikmati.

Seperti aktivitas belanja, ada berbagai pertimbangan yang sama ketika “memilih gereja”. Alfonsus menyebutnya dengan “belanja yang kudus”. Gereja tidak lagi menjadi “temple of scarification” tetapi juga sekaligus “temple of consumption”.

Kesamaan antara aktivitas belanja barang dengan “belanja yang kudus” juga terlihat dari cara berpakaian serta sikap umat. Ada umat yang menggunakan “kostum terbaik” mereka ketika dugem atau belanja di mall untuk pergi ke gereja. Dari sisi sikap, ada yang sambil ngemil, menelepon, main game di luar gereja ketika ibadah berlangsung.

Jangan salah, ada anjuran: “pakailah pakaian terbaikmu ketika mengadap Tuhan”. Tapi ya nggak pakai tank top dan rok mini juga. Saya jadi curiga, kalau lagu Malam Kudus di-remix sama Martin Garrix, beliau-beliau ini langsung joget di depan gereja.

Pergi ke gereja menjadi semacam seremonial belaka. Supaya bisa update Instastories “Habis ibadah, gaes!” atau menjawab pertanyaan “Dari mana?” dengan “Ibadah, dong!” sambil tersenyum bangga. Pada kenyataannya, banyak umat yang justru terlalu “menggereja” ketimbang “meng-Kristus”. Gereja menjadi komoditas dan penanda status ketimbang perayaan akan kemurahan hati Tuhan.

Dan, tak terkecuali dengan Natal di gereja.

Natal adalah perayaan akan datangnya Juru Selamat, datangnya sang penebusan dosa manusia. Dengan konteks belanja seperti dijelaskan di atas, ibadah Natal menjadi semacam ajang berburu foto untuk background Instastories. Ketika pulang dari gereja, banyak yang melepaskan segala atribut “kegerejaan” untuk kembali menjadi “manusia biasa”.

Iklan

Ia akan hidup “menggereja” yang mana artinya “menuju gereja”, tapi tidak “meng-Kristus” yang nama artinya “menjadi Kristus”. Pulang dari gereja, mereka tetap berprasangka buruk kepada sesama, mudah terpelatuk ketika simbol agamanya dirisak, dengki, dan enggan memaafkan orang yang sudah berbuat salah kepada mereka, hingga menghujat pemeluk agama lain.

Oleh sebab itu, Natal yang orisinal bukan (hanya) di gereja. Natal yang justru lebih asli ada di kotak kado silang. Kok bisa? Ini pengalaman pribadi, di keluarga saya yang heterogen.

Ketika Natal datang, semua saudara berkumpul untuk berdoa dan makan bersama. Salah satu aktivitas wajib kami adalah mengadakan tukar kado silang. Bahkan, yang mengusulkan justru saudara saya yang beragama Islam. Nilai kado silang tidak boleh lebih dari 15 ribu dan tidak boleh makanan.

Saudara yang beragama Islam akan menjadi tukang catat nomor kado silang Natal. Bahkan beliau yang memegang kas uang arisan keluarga saya yang mayoritas memeluk Katolik.

Nah, konteks kado silang ketika Natal adalah “kejutan”. Saya tidak akan tahu isi dan dari siapa kado yang saya dapat. Kami tidak membedakan, mana kado yang Islam, mana yang Katolik. Semua membaur, semua menjadi satu.

Kami tertawa bersama-sama ketika mendapatkan kado yang isinya sandal swallow, jepitan jemuran, hingga jas hujan yang harganya lima ribuan. Kami tidak pernah menaruh curiga dengan berkata “mana yang kado dari orang Islam, saya nggak mau menerimanya.”

Penerimaan dan kepercayaan kepada sesama justru diajarkan dan dikhidmati secara paripurna lewat keseruan kado silang, dibanding “belanja yang kudus”. Bukankah membina hubungan yang harmonis dan penuh rasa damai adalah Katolik itu sendiri?

Pada titik tertentu, penerimaan akan keberagaman di tengah keluarga (masyarakat) yang heterogen membuat kita lebih mudah bertemu dengan rahmat Tuhan, ketimbang beribadah di sebuah bangunan setiap akhir pekan.

Gereja punya posisi penting dalam kehidupan Katolik. Gereja menjadi pusat iman, di mana kita mengakui dosa dan berterima kasih kepada Tuhan setiap harinya. Namun, yang paling penting adalah manusia yang menghidupi gereja. Manusia yang di dalamnya penuh kepalsuan dan kecurigaan. Menjadi manusia (Katolik) yang baik hati, justru lebih urgen ketimbang sekadar rajin ke gereja.

Apakah saya terdengar radikal? Mungkin iya, mungkin tidak. Semuanya cuma berdasar kepada hukum tertinggi Katolik, yaitu Hukum Cinta Kasih.

Natal adalah soal berbagi kasih. Keluarga saya melakukannya dengan kado silang. Natal juga bukan hanya perayaan setiap tanggal 25 Desember saja. Natal seharusnya menjadi keseharian Katolik. Ketika kita melahirkan “kabar baik” untuk sesama, setiap waktu, setiap hari, tanpa berkesudahan.

“Yesus” bermakna penyerahan kepada kuasa sang pencipta. Kuasa untuk menebus dosa manusia. Bukankah itu contoh yang luar biasa jelas bahwa hanya ada satu tugas umat Katolik? Betul, jadilah orang baik. Sudah. Itu saja.

Selamat Natal. Semoga semua makhluk berbahagia. Selalu.

Terakhir diperbarui pada 25 Desember 2018 oleh

Tags: gerejaKatolikNatal
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Natal dan Harapan yang Tak Datang dari Keheningan
Video

Natal dan Harapan yang Tak Datang dari Keheningan

25 Desember 2025
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
Paus Leo XIV, Sarjana Matematika Memimpin Umat Katolik MOJOK.CO
Esai

Habemus Papam! Kisah Paus Leo XIV Sarjana Matematika yang Akan Memimpin Umat Katolik di Masa Kritis

9 Mei 2025
Saksi Yehuwa Bukan Bagian dari Kristen MOJOK.CO
Esai

Saksi Yehuwa yang Bagi-Bagi Brosur Itu Bukan Bagian dari Kristen

24 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.