Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Nama Baik Menkes Terawan Memang Harus Dijaga karena Hanya Itu yang Blio Punya, Eh, Bisa

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
5 Agustus 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kecepatan respons soal dugaan pencemaran nama baik Menkes Terawan menunjukkan kerja lamban Kemenkes di tengah pandemi cuma mitos semata.

Memang ngeri sekali dugaan penghinaan yang dikicaukan Aqwam, seorang warganet di Twitter, kepada Menteri Kesehatan (Menkes) kita. Apalagi kicauan tersebut membandingkan Menkes dengan seekor anjing di Jerman yang mampu mendeteksi penderita COVID-19 dengan tingkat akurasi 94 persen.

German sniffer dogs can detect COVID-19 in people – with success rate of 94%. pic.twitter.com/aS8lqwwDpK

— Al Jazeera English (@AJEnglish) July 27, 2020

Merasa harga diri dan nama baik Menkes dilecehkan, institusi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) langsung gerak cepat dengan kasih somasi. Dalam somasi tersebut, lewat akun Twitter resminya, Kemenkes meminta Aqwam untuk meminta maaf secara terbuka. Jika tidak maka Kemenkes akan menggugat secara hukum.

Udah dihapus ya twitnya. Ditunggu itikad baik kemenkes mengatasi pandemi. pic.twitter.com/Hs8tgT3z0k

— Wisnu Prasetya Utomo (@wisnu_prasetya) August 4, 2020


Kicauan somasi dari Kemenkes demi nama baik Menkes itu pun jadi ramai sekali. Padahal, ketika Aqwam berkicau mengenai berita dari Al Jazeera soal kemampuan anjing dari Jerman itu, hanya sedikit warganet yang peduli. Uniknya, karena respons somasi dari Kemenkes, informasi ini malah jadi viral.

Hal tersebut menunjukkan kalau Kemenkes memang sangat terbuka dengan kritik, saran, bahkan penghinaan. Lah wong, kicauan nggak ramai malah diramaikan sendiri. Itu apa namanya kalau bukan tingginya rasa intropeksi diri?

Selain itu, dengan kecepatan respons yang luar biasa, kerja lamban Kemenkes di tengah pandemi jebul cuma mitos semata. Buktinya kalau Kemenkes dan Menkes niat mau kerja cepat, sebenarnya mereka bisa aja. Mengingat, jarak waktu antara kicauan Aqwam dengan surat somasi itu cuma beberapa jam doang. Cepat sekali bukan kalau soal urusan nama baik?

Baiklah, baiklah, mungkin kamu masih uring-uringan dengan somasi yang dilakukan Kemenkes ini. Mengingat kelengahan Menkes pada awal tahun beserta celetukan-celetukan meremehkan terhadap ancaman corona belum bisa dilupakan.

Kicauan Aqwam itu bisa jadi merupakan kegelisahan yang mewakili banyak lapisan masyarakat. Cuma pada nggak ada yang senekat Aqwam aja sih. Jadi, somasi semacam ini perlu diberikan agar orang-orang seperti Aqwam nggak berani muncul lagi ke permukaan.

Lucunya, tak berselang lama, kicauan dari Kemenkes itu sempat dihapus untuk direvisi karena dua hal. Pertama perkara typo pada surat somasi resminya.

Ini kritik dan saran dari saya, Min. Jangan dianggap sebagai penghinaan, ya! Terima kasih. ? https://t.co/2XnlxgAV7V pic.twitter.com/aGIyfkD3bD

— Ahmad Taufiq (@trendingtopiq) August 4, 2020

Kedua, karena ancaman gugatan hukum ini harus dilaporkan atas nama personal Menkes secara langsung, tak boleh diwakilkan (kecuali melalui surat kuasa). Mengingat secara logika hukum, tak bisa seseorang melaporkan ketersinggungan orang/pihak lain.

Meski begitu, harusnya masyarakat juga nggak segitunya memandang rendah Menkes yang tercinta. Masyarakat mesti paham, kalau Menkes itu juga pusing tujuh keliling menghadapi pandemi. Blio juga kerja keras dengan warbiyasa. Saking kerasnya, bahkan sampai nggak sempet bikin konferensi pers dalam perkembangan kasus Covid-19.

Ini belum menghitung dengan kejadian ketika Menkes sempat kena semprot Presiden Jokowi. Sekarang, coba ngana pikirkan perasaan Menkes. Udah dimarahin atasan, kena sentilan dari masyarakat pula. Atas bawah kena panas. Matengnya sempurna, Buuung.

Dengan keadaan penuh tekanan seperti itu, wajar sekali kalau ada sentilan yang bikin sakit hati langsung direspons begitu cepat. Ini ibarat kamu sudah akhir bulan di kosan, kiriman duit dari orang tua nggak datang, barang-barang di kosan udah digadaikan semua, lalu ada yang menyentil, wah ya emosi dong jadinya.

Hal yang kurang lebih sama terjadi di Kemenkes. Di tengah rendahnya ekspetasi masyarakat, kekesalan tak berujung melihat kengeyelan saat corona masih bisa diantisipasi, wajar kalau Menkes tak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan selain harga diri dan nama baik.

Karena sekalipun kesehatan itu hal utama, nama baik tetaplah aset politik paling berharga.

BACA JUGA Video Dokter Terawan Mundur Adalah Bukti Bahwa Kominfo Kaku Kayak Kanebo atau tulisan soal Dokter Terawan lainnya.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2020 oleh

Tags: menkesmenteri kesehatanNama Baikterawan
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Pemprov Jawa Tengah gelontorkan Rp1 Miliar untuk Tangani Tuberkulosis, 84 Persen Pasien Kini Sudah Berobat. MOJOK.CO

Pemprov Jateng Gelontorkan Rp1 Miliar untuk Tangani TBC, Kejar Target Penemuan Kasus hingga 60 Persen

26 Agustus 2025
menkes mojok.co

Menkes: Juli Puncak Covid Varian BA.4 dan BA.5

16 Juni 2022
Dokter Umum Memandang Kegaduhan Terawan dan IDI vs PDSI: Kayak Anak SD Lagi Berantem MOJOK.CO

Dokter Umum Memandang Kegaduhan Terawan dan IDI vs PDSI: Kayak Anak SD Lagi Berantem

29 April 2022

Wonderful Indonesia: Presidennya Bagi-bagi Sembako, Menterinya Nonton Sinetron, Warganya Mati di Jalan

17 Juli 2021
Surat pengunduran diri kampus. MOJOK.CO

Surat Terbuka untuk Nadiem Makarim yang Heran Ditanya Mulu: ‘Kenapa Sekolah Belum Buka?’

30 Maret 2021
Reshuffle Kabinet, Aja-aja Jokowi Terinspirasi sekang Gajah Mada? MOJOK.CO

Reshuffle Kabinet, Aja-aja Jokowi Terinspirasi sekang Gajah Mada?

26 Desember 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.