MOJOK.CO – Kominfo merespons video guyonan dokter terawan mundur dengan cara yang terlalu serius, kelewat serius.

Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami dampak paling parah akibat virus corona. Angka prevalensi kematian akibat virus corona di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia dan menjadi yang terparah di  Asia Tenggara.

Selain kesadaran masyarakat yang memang sangat rendah, respons pemerintah yang lambat dan kurangnya keterbukaan data oleh pemerintah dianggap menjadi penyebab utama persebaran virus corona yang begitu masif.

Tak heran jika kemudian banyak netizen yang menuliskan keputusasaan dan kemangkelannya pada pemerintah.

Desakan agar Menteri Kesehatan dokter Terawan mundur dari jabatannya pun kemudian mengemuka. Selain kinerjanya sebagai menteri kesehatan yang dianggap gagal, ia juga dianggap tidak mampu berkomunikasi dengan publik dengan baik karena pernyataan-pernyataannya dianggap kerap kontraproduktif.

Sosoknya kerap dibanding-bandingkan dengan menteri kesehatan Singapura Gam Kim Young yang dianggap lebih thas-thes dan lebih informatif dalam memberitakan serta menginformasikan hal-hal penting terkait wabah virus corona yang terjadi di Singapura.

Mungkin karena sudah menjadi semacam kegelisahan bersama, mundurnya dokter Terawan dari jabatannya pun kemudian menjadi semacam harapan yang dinanti-nanti.

Dwiki Aprinaldi, seorang warga republik Twitter kemudian mewujudkan harapan tersebut.

Ia membikin video parodi berisi adegan dokter Terawan yang sedang berjalan ke arah mimbar berpidato dengan versi rewind, sehingga adegan dr Terawan yang sedang berjalan maju itu kemudian menjadi adegan dirinya berjalan mundur.

Video tersebut kemudian diupload dan diberi caption jenaka lagi provokatif: “Sesuai Permintaan, Akhirnya Menkes Terawan Mundur.”

Entah bagaimana ceritanya, postingan tersebut kemudian viral. Banyak orang yang membagikannya.

Akun Twitter Dwiki pun kemudian sempat kena suspended. Belakangan, Kominfo kemudian ikut merespons postingan twit tersebut. Kominfo, melalui website resminya merilis klarifikasi bahwa postingan video dokter Terawan mundur tersebut sebagai hoaks.

Membaca klarifikasi tersebut, kepala saya berdenyut kencang. Pucing pala barbi. Maksud saya, orang paling dungu pun seharusnya tahu bahwa itu adalah guyonan semata. Tiada lebih. Iya, itu hoaks, tapi itu guyon. Sekali lagi guyon. Joke.

Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Kominfo itu jelas merusak khittah negara Indonesia yang menjunjung tinggi sopan santuy. Kominfo tak ubahnya seperti kanebo kering, kaku.

Entah kenapa, di tangan pemerintah, hal yang sebenarnya santai dan selow justru menjadi rumit dan tegang. Sebaliknya, hal yang sebetulnya rumit dan genting justru kerap disikapi dengan terlau selow dan santai oleh Pemerintah. 

Ternyata bukan hanya dokter Terawan yang gagal berkomunikasi dengan publik dengan baik, tapi juga instrumen pemerintah lainnya. Kominfo salah satunya.

Ini tentu menjadi geli sebab sebenarnya, ada banyak hal yang lebih penting dan lebih layak untuk diklarifikasi oleh Kominfo.

Kominfo harusnya memberikan klarifikasi saat ada pejabat bilang kalau warganya negatif terkena corona tapi belakangan ketahuan kalau ternyata positif sebaliknya. Yang hoaks itu kalau ada pejabat yang bilang

Kominfo harusnya memberikan klarifikasi saat ada pejabat yang bilang bahwa corona tidak bisa masuk ke Indonesia karena perizinannya susah.

Kominfo harusnya memberikan klarifikasi saat ada menteri yang bilang Indonesia nggak bakal kena corona karena rakyatnya suka makan nasi kucing.

Atau gini, deh. Kalau memang mentok nggak bisa dan memang nggak sanggup bikin klarifikasi yang berat-berat gitu, sekalian bikin klarifikasi dugaan-dugaan hoaks yang memang bergerak di sektor riil masyarakat. Misal tentang apakah benar orang yang masuk acaranya Uya Kuya itu dhipnotis beneran apa nggak?

Atau Kominfo bisa menelusuri, apakah benar kalau jempol diiket karet maka akan mengurangi secara signifikan perasaan ingin kencing?

Atau bisa juga menelusuri, apakah benar laki-laki yang sering coli dengkulnya benar-benar jadi kosong dan ada rongganya?

Atau apakah benar tukang parkir Alfamart dan tempat fotocopy punya ilmu penyamaran sehingga tidak terlihat saat kita memarkirkan motor tapi langsung muncul saat kita akan ngeslah motor?

Masyarakat lebih butuh klarifikasi hal-hal seperti itu. Bukan hal-hal sepele kayak joke dokter Terawan Mundur.

Kasihan sama orang-orang yang suka ngejoke “Orang, orang apa yang susah diajak maju? Orang mancing.” Sudahlah nggak lucu, masih harus terbebani karena masuk situs Kominfo.