Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mujahid 212 Tak Perlu Khawatir kalau Ahok Pimpin Badan Otoritas Ibu Kota Baru

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
9 Maret 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebenarnya apa sih yang ditakutkan massa Mujahid 212 terhadap peluang Ahok menjadi pemimpin Badan Otoritas Ibu Kota Baru?

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memang punya hubungan “istimewa” dengan para alumni 212.

Harus diakui, tanpa Ahok sangat mustahil umat Islam bisa berkumpul sampai—katanya—berjuta-juta di Monas. Mulai dari Aksi Bela Islam, Aksi 411, sampai Aksi 212, ada nama Ahok yang selalu dikumandangkan oleh para peserta aksi.

Dulu, banyak yang berpikir ketika Ahok akhirnya masuk penjara dalam kasus “Penistaan Agama” tensi massa alumni 212 akan sedikit mereda terhadap Ahok. Maklum, misi dari Aksi 212 kan sudah sukses secara paripurna.

Ahok jadi pesakitan di penjara, Anies Baswedan jadi Gubernur Jakarta, dan kalaupun ada yang tak berhasil ya cuma satu: Prabowo gagal jadi presiden.

Uniknya, massa alumni 212 yang tergabung dalam organisasi bernama Mujahid 212 ini masih belum menerima perjalanan Ahok selepas dari penjara. Setiap ada kebijakan pemerintah yang menyangkut nama Ahok, maka di situ akan muncul pula massa alumni 212 sebagai penolaknya.

Dalam aksi yang terbaru—misalnya, Mujahid 212 memprotes rencana pemindahan ibu kota, sekaligus menyampaikan penolakan karena dalam daftar calon Kepala Badan Otoritas Ibu Kota Negara (IKN) ada nama Ahok di sana.

Pada mulanya, Mujahid 212 memprotes soal besarnya anggaran untuk proyek pindah ibu kota negara ini, namun—seperti yang sudah diduga banyak orang—ujung-ujungnya tetap merembet sampai ke nama Ahok lagi.

“Kami menolak keras Ahok lantaran fakta-fakta pribadi Ahok merupakan seorang jati diri yang memilik banyak masalah. Ahok perlu kejelasan hukum atas masa lalunya selaku Wagub dan Gubernur DKI periode sebelum Anies,” kata Damai Hari Lubis, Ketua Korlap aksi Mujahid 212.

“Sementara Ahok jelas pribadi yang rawan, karena faktor trust yang banyak melilit dirinya,” tambahnya.

Menurut Damai yang tak juga mau damai sama Ahok ini, status Ahok yang mantan narapidana kasus penistaan agama semakin menambah daftar ketidakpercayaan ini.

“Bahkan data tak terbantahkan salah satunya biografi Ahok. Dirinya berstatus eks-napi, karena fakta hukum Ahok dulu menistakan Al-Quran, kitab suci umat muslim, umat mayoritas negeri ini dengan modus menghina surah Al-Maidah ayat 51,” kata Damai.

Selain soal penolakan nama Ahok yang masuk sebagai calon pimpinan Badan Otoritas Ibu Kota Baru, dalam kesempatan yang lain Damai juga sempat memprotes Erick Thohir karena menunjuk Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina.

“Kami nyatakan kami menolak Ahok tidak terbatas CEO IKN (Ibu Kota Negara), melainkan juga termasuk minta Erick Thohir mencopot Ahok dari posisi Komisaris Pertamina,” katanya saat aksi.

Iklan

Artinya, Mujahid 212 memang tak menginginkan Ahok punya keterlibatan—secuil apapun—dalam pemerintahan. Baik sebagai komisaris BUMN, maupun sebagai calon pimpinan IKN. Bahkan kalaupun nanti Ahok mau ikut daftar jadi Ketua RT di kampungnya sekalipun, bukan tidak mungkin Ahok kena protes pula.

Bagi Mujahid 212, masuknya nama Ahok ini barangkali jadi sinyal bahaya karena bukan tidak mungkin Ahok bakal jadi gubernur pula di ibu kota baru. Udah capek-capek membuat gubernur rasa presiden seperti Anies Baswedan, lah kok pemerintah enak aja mindahin ibu kota dengan calon yang punya rekam jejak bikin sakit hati begini?

Padahal, kalau kita semua mau jeli, sebenarnya ada banyak alasan kenapa kekhawatiran Mujahid 212 ke Ahok ini sangat kontraproduktif dan berlebihan.

Soalnya, apa sih yang perlu ditakutkan dari seorang Ahok kalau beneran jadi pimpinan proyek ini?

Apa iya, lantas popularitasnya bakal jadi melejit lalu tiba-tiba bisa jadi capres atau menteri di masa depan gitu? Lantas dianggap ancaman bagi Anies Baswedan yang konon mau dijagokan maju untuk Pilpres 2024 mendatang?

Duh, duh, tenang. Sini saya kasih tahu, secara aturan Ahok jadi pesaing Anies itu udah nggak mungkin terjadi kok.

Kok bisa?

Gini. Soalnya seorang capres, cawapres, atau menteri itu tak boleh punya rekam jejak masa lalu kayak Ahok ini. Yakni pernah menghadapi perkara tuntutan pidana dengan hukuman 5 tahun penjara.

Nah, sialnya bagi Ahok, meski kemarin dirinya cuma divonis 2 tahun, dalam pasal tuntutan jaksa ndilalah tuntutannya sampai 5 tahun gitu lho. Artinya, mau koprol ratusan kali ya peluang Ahok jadi pesaing Anies itu udah nggak ada. Zero. Nol.

Apalagi, yang bicara soal tertutupnya peluang Ahok ini adalah Mahfud MD sendiri, Sang Menkopolhukam saat ini.

Lagian, meski nanti akhirnya Ahok jadi gubernur di ibu kota baru (misalnya), tak ada jaminan kiprahnya sebagai pemimpin akan disorot. Memimpin daerah baru jadi ibu kota itu belum tentu otomatis memindahkan daya tarik Jakarta. Terutama kalau melihat betapa jagonya Anies Baswedan yang selalu sukses memoles Jakarta jadi sedemikian “menarik”.

Apalagi bukan tidak mungkin ketika Ahok nanti memimpin ibu kota baru, Anies Baswedan sudah memanen segala prestasi-prestasinya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ibarat Ahok baru mulai di ibu kota baru, Anies sudah tinggal memamerkan semua hasil karyanya.

Seperti gelaran Formula E, pemugaran Monas, pedagang kaki lima di trotoar Jakarta, sampai dengan pemanfaatan sisa-sisa Reklamasi Jakarta. Ini belum dengan prestasi membuat Jakarta jadi begitu indah bak kota Venesia, Italia.

Artinya, ketika nanti Anies Baswedan benar-benar maju sebagai capres 2024 sesuai dengan harapan massa Mujahid 212, lalu (misalnya) blio benar-benar terpilih sebagai presiden. Posisi Ahok di ibu kota baru bakal cuma jadi “anak buah” dari Pak Anies Baswedan.

Nah lho, menarik bukan kalau ada peluang Ahok bisa jadi anak buahnya Anies? Syaratnya juga nggak mustahil-mustahil amat kok, yakni cukup bikin Anies jadi presiden aja dulu.

Lagian kalau meminjam kata-kata Fadli Zon, “memang apa hebatnya Ahok?” harusnya Mujahid 212 tak perlu sampai sekhawatir itu.

Iya kan, Hid?

BACA JUGA Alumni 212 Menolak Ahok Jadi Kandidat Kepala Badan Otoritas Ibu Kota Baru atau tulisan rubrik POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2020 oleh

Tags: 212ahokAnies Baswedanibu kota barumujahid 212
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Sialnya Warga Banjarsari Solo, Dekat Rumah Jokowi tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Esai

Surat Terbuka untuk Jokowi 2014, Tolong Selamatkan Kami dari Jokowi 2024

13 Februari 2024
Prabowo Itu Pura-pura Goblok dan Anies Masuk Perangkap MOJOK.CO
Aktual

Prabowo Itu Pura-pura Goblok dan Anies Masuk Perangkap

8 Januari 2024
Anies Baswedan.MOJOK.CO
Aktual

Teka-teki Kematian Harun Al-Rasyid yang Jadi Sorotan Anies Baswedan saat Debat Capres

12 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.