Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mewakili Kegeraman Netizen, Saya Sarankan Mas Anji dan Influencer Misleading Lain Rehat Aja

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
3 Agustus 2020
A A
anji covid anji manji dunia manji YouTube profesor hadi pranoto obat covid ferdian palekka mojok.co

anji covid anji manji dunia manji YouTube profesor hadi pranoto obat covid ferdian palekka mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mewakili netizen yang butuh kewarasan, please Mas Anji dan para influencer jangan gaduh lagi ya. Soalnya kami selalu gatal pengin komen kalau lihat kebodohan.

Belakangan jadi malas buka Twitter dan Instagram, apalagi Facebook. Lagi-lagi nontonin keributan. Jauh sebelum ruang publik Jurgen Habermas bermodelkan web 4.0 begini, saya menikmati banget bagaimana rasanya ngerubungin orang jualan obat di pasar malam dan mengklaim obatnya terbuat dari bisa ular, bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Si penjual koar-koranya pakai TOA, sungguh catchy dan menggelitik terlepas dari saya yang tetap nggak beli dan nggak percaya.

Mas Anji dan influencer itu ibarat si penjual obat. Pakai TOA semua, walau ada yang suaranya lebih nyaring (karena followersnya lebih banyak) dan ada yang suaranya mentok sampai radius 5 meter.

Kalau ruang virtual dan media sosial adalah pasar malamnya, maka sekarang sudah penuh sesak, berjubel dan gaduh. Saya jadi ingat kalau Pak Marshall McLuhan pernah bikin teori tentang Global Village saat scholars lagi kaget-kagetnya sama fenomena internet. Ternyata sampai sekarang masih relate. Izinkan saya menukil teori ini dan bilang kalau iklim media sosial di Indonesia adalah Global Pasar Malam.

Dear Mas Anji, Anda mungkin sekarang sibuk banget meng-cover segala tuduhan miring netizen, rasanya pengin menampik anggapan kalau Anda misleading bin sesat kan? Penginnya turut bersuara soal covid-19 walau Anda adalah musisi yang kariernya lumayan bercuan kan? Iya, adalah hak segala bangsa untuk bersuara. Tapi saya yakin hak segala bangsa untuk menutup telinga saking gaduhnya. Makanya saya minta tolong, rehatlah sejenak. Kami pusing nih.

Jujur aja, walau followers Twitter saya cuma seperseribu tujuh ratusnya followers Mas Anji dan influencer top lain, saya nggak berani bikin statemen aneh-aneh terkait kondisi terkini. Mendingan saya shitposting yang walau nggak berguna tapi harmless. Nggak bikin satu per satu followers saya itu ilfeel. Saya nggak mau menghancurkan nama saya yang sebelumnya memang nggak baik-baik amat. Saya memilih behave.

Sikap ini sudah terbentuk semenjak menjelajahi Global Pasar Malam bahwa sepintar-pintarnya saya pasti ada netizen yang lebih ngotak dan jenius, sebodoh-bodohnya saya juga ada netizen yang lebih ngawuran kayak Ferdian Palekka dan Sarah Keihl. Saya sadar betul kalau saya nggak pengin cari ribut di Pasar Malam. Kalau pun saya harus bersuara, saya bakal memastikan apakah khalayak butuh, bukan karena saya pengin bersuara aja sih. Harusnya semua influencer begini.

Saya mengenal Mas Anji gara-gara mantan saya ngeshare lagu Drive yang judulnya “Melepasmu” dengan kata lain, mantan saya lagi selingkuh waktu itu tapi saya nggak sadar. Tapi saya nggak pernah langsung cancel Mas Anji walau kesel juga dengan awal kemunculan Mas Anji di YouTube dengan bendera “Keep Smile” alias jangan memaksa saya tersenyum waktu saya pengin baku hantam, yah, Mas!

Sampai Mas Anji komen soal foto jenazah covid-19 itu, okelah, geram-geram santuy sedikit. Nah kalau sekarang Mas Anji ngobrolin obat covid-19 sampai kayaknya mau gabung kubu Jerinx, ngapunten, nyerah saya. Netizen medioker lain pun merasakan hal yang sama.

Kami nggak bisa menahan hasrat untuk nonton keributan, layaknya orang-orang yang mengerumuni penjual obat di pasar malam. Awalnya hanya penasaran, lama-lama geregetan dan ikutan komentar. Rubah ekor sembilan bisa mendadak muncul walau kami bukan Naruto. Mbok udah sih, Mas. Influencer misleading lain juga tolonglah, nggak usah bikin sensasi di tengah pandemi. Sesepi-sepinya job kalian, masih lebih sepi hatinya Jokowi.

Semua orang memang lagi bosan, banyak yang butuh piknik tapi tempat wisata belum dibuka. Banyak yang pengin jalan-jalan tapi sadar diri soal covid-19. Cara memecah kebosanan nggak harus dengan keributan, apalagi ributnya soal cobid-19. Tambah mendidih ini otak.

Lagian, Mas Anji dan influencer misleading kesayangan umat apa nggak sayang sama nama baik kalian sendiri? Followers Anda-anda semua memang bakal nambah, engagement makin indah, tapi di kemudian hari kami bakal mengingat nama kalian sebagai orang yang… ya begitulah. Kayaknya Ahmad Dhani aja udah cukup. Sekeren apa pun lagu “Roman Picisan” penciptanya bakal dikenang sebagai orang yang ngebet politik.

Terakhir, meme buat Mas Anji dan influencer misleading lain yang koar-koar.

IYA KAA PENGEN TAK HIIIH pic.twitter.com/GD9WK12xXN

— Evelynnnn (@vevelynnnn) July 28, 2020

Iklan

BACA JUGA Kasus Anji Merupakan Potret Keberhasilan Program Ekonomi Kreatif Era Jokowi atau artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2020 oleh

Tags: COVID-19influencermedia sosial
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto
Sehari-hari

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Z sarjana ekonomi di Undip. MOJOK.CO
Kampus

Apesnya Punya Nama Aneh “Z”: Takut Ditodong Tiba-tiba Saat Kuliah, Kini Malah Jadi Anak Emas Dosen di Undip

27 November 2025
Honor Influencer Puluhan Juta, Dosen 300 Ribu! Mengenaskan! MOJOK.CO
Esai

Ketika Influencer Dibayar Belasan Juta, Dosen Cuma dapat 300 Ribu? Dosen Memang Sudah Sering Ikhlas dan Terbiasa Kecewa

7 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.