Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kasus Anji Merupakan Potret Keberhasilan Program Ekonomi Kreatif Era Jokowi

Yesaya Sihombing oleh Yesaya Sihombing
22 Juli 2020
A A
Kasus Anji Merupakan Potret Keberhasilan Program Ekonomi Kreatif Era Jokowi

Kasus Anji Merupakan Potret Keberhasilan Program Ekonomi Kreatif Era Jokowi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kasus Anji ini pada dasarnya menjadi satu contoh keberhasilan Pemerintah Jokowi dalam mempromosikan profesi mutakhir minim modal ke rakyatnya.

Jutaan orang tak menyadari, viralnya berita tentang Anji di linimasa sebenarnya sedang menunjukkan salah satu contoh keberhasilan program ekonomi dan industri kreatif pro-rakyat dari Presiden Jokowi.

Iklan

Apalagi kalau kita mau menarik jauh ke belakang, ketika Jokowi ingin ada banyak vlogger di masa depan sehingga bisa jadi cerminan profesi baru yang menjanjikan. Jokowi bahkan pernah mengusulkan agar vlog dimasukkan ke dalam materi pelajaran SMK.

Jadi, bukan tidak mungkin vlogger nantinya dapat berkembang menjadi cita-cita baru anak-anak Indonesia. Bahkan bisa jadi, nanti akan ada peringatan Hari Vlogger Indonesia semacam Hari Guru Indonesia. Terlebih siapapun bisa menjadi menekuni profesi ini. Mulai dari Atta Halilintar sampai Kaesang owner Sang Pisang.

Apalagi menurut laporan dari We Are Social, pada tahun 2020 ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Naik 17% (25 juta) dibanding tahun lalu. Dari jumlah pengguna internet sebanyak itu, sudah hampir lima tahun ke belakang ini figur vlogger idola masyarakat mulai bertambah tak terkendali.

Nah, satu nama yang layak diajukan sebagai youtuber sekaligus influencer (kalau buzzer sih kayaknya belum bukan) adalah: Anji. Yang sedang viral soal komentarnya ke foto Joshua Irwandi.

Terlepas dari kontroversinya, keberadaan Bang Anji ini pada dasarnya menjadi satu contoh keberhasilan Pakdhe Jokowi dalam mempromosikan profesi pro-rakyat paling mutakhir.

Kalau dulu orang tua ingin anaknya menjadi PNS, dokter, dan tukang insinyur, maka bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan tak sedikit orang tua yang berlomba-lomba agar anaknya jadi youtuber atau influencer.

Kalau pun anaknya belum bisa punya channel sendiri, paling tidak bisa lah dieksploitasi buat konten bapak-ibunya dulu.

Toh dari sisi modal sosial-politik-ekonomi, yang perlu disiapkan seorang rakyat jelata untuk jadi youtuber itu kan tak seberapa. Terutama jika dibanding profesi anggota DPR yang mau tak mau harus punya privilege dari sisi keluarga dan pergaulan, atau menjadi jenderal polisi yang harus siap kalau diminta bikin surat jalan buat buronan. Eh.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Dan contoh vlogger sukses idaman itu pun beneran diraih Anji. Apalagi ketika diundang ke Istana bersama pekerja seni lainnya. Sebuah pengakuan absolute bagaimana tingkat popularitas dan kepengaruhan seorang Anji cukup diakui negara.

Dalam pertemuan yang eksklusif itu, Presiden Jokowi sebenarnya sedang meminta tolong kepada para insan seni untuk turut melakukan edukasi (membuat konten) pada masyarakat (follower) dalam upaya mencegah penyebaran COVID-19 tapi sekaligus menyebarkan optimisme agar ekonomi rakyat mau bergerak kembali.

Tak berapa lama usai pertemuan tersebut, kita dapat menyaksikan para insan seni tersebut mulai sibuk bergerak. Buktinya, Yuni Shara dan Iis Dahlia mempromosikan kalung antivirus eucalyptus yang dahsyat… beritanya itu.

Anji pun tak ketinggalan. Cuma mantan vokalis Drive ini kayak sengaja ngambil angle di bagian yang rada-rada hipster. Kayak meviralkan kejanggalan-kejanggalan yang berhubungan dengan berita mengenai korban COVID-19.

Iklan

Sampai kemudian Anji mengkritik foto korban COVID-19 yang sudah terbungkus rapat dengan plastik di sebuah kamar rumah sakit. Foto yang “dihajar” Anji ini pun merupakan hasil jepretan Joshua Irwandi (fotografer National Geographic).

Di sana Anji memberikan 3 poin kritik terhadap foto tersebut.

Poin pertama, perihal proses-menuju-viral dari foto tersebut.

“Seperti ada KOL (Key Opinion Leader) lalu banyak akun berpengaruh menyebarkannya. Polanya mirip, Anak Agency atau influencer/buzzer pasti mengerti,” kata Anji.

Ah, rupanya Anji sudah paham betul ilmu influencing, bahwa yang penting bisa menyebarkan kabar secepat virus influenza dan memberi pengaruh. Soal itu pengaruh buruk atau bagus, biarkan waktu yang menjawab.

Kedua, tentang akses wartawan yang bisa masuk ke kamar seorang korban.

“Dalam kasus kematian (yang katanya) korban cvd, keluarga saja tidak boleh menemui. Ini seorang fotografer, malah boleh. Kalau kamu merasa ini tidak aneh, artinya mungkin saya yang aneh,” ujar vokalis ini.

Hmm… iya sih, kalau dipikir-pikir aneh juga ya, Bang, kamu ini.

Dan yang ketiga, tentang tingkat kengerian COVID-19.

“Saya tidak percaya bahwa COVID-19 semengerikan itu. Yang mengerikan adalah hancurnya hajat hidup masyarakat kecil,” demikian keyakinan Andi.

Wih, keren Bang. Cucok kayaknya kalau lima tahun lagi mau nyaleg.

Tak pelak, postingan Anji menuai banyak komentar negatif dari masyarakat.

Reno, perwakilan Pewarta Foto Indonesia (PFI) sampai mengatakan, “Kami berharap agar tidak lagi ada yang membandingkan kerja jurnalistik pewarta foto dengan buzzer, influencer, youtuber, vlogger, dan sejenisnya. Karena kerja jurnalistik dilandasi oleh fakta yang ada di lapangan, memiliki kode etik yang jelas, dan dilindungi oleh undang-undang.”

Meski respons dari PFI ini lumayan telak, setidaknya kita bisa melihat sisi positifnya. Bahwa profesi buzzer, influencer, youtuber, vlogger, dan sejenisnya sudah diakui. Saya yakin, tak perlu waktu lama lagi kita bisa mencantumkan jenis pekerjaan “influencer” pada kolom “pekerjaan” di form e-KTP.

Di sisi lain, bagaimana cara Anji menghadapi komentar netizen?

Rupa-rupanya Anji sudah menguasai jurus tangkal komen netizen. Jurus itu bernama klarifikasi. Kemampuan yang wajib dikuasai para influencer Indonesia, seperti parasut yang harus dimiliki pilot pesawat tempur atau kenalan pejabat berpengaruh kalau kamu seorang koruptor.

Dalam klarifikasinya, Anji pun meminta maaf pada pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh postingannya, dan sekaligus berjanji menghapus postingan kontroversialnya.

Lengkap sudah keberhasilan Anji sebagai seorang youtuber dan influencer negeri ini. Jika diibaratkan algoritma pemrograman, maka deretan instruksi algoritmanya bakal seperti berikut:

Bikin postingan – viral – dikoreksi – klarifikasi – minta maaf – hapus postingan.

Nah, kalau seorang influencer sekaligus konten kreator telah melewati semua tahapan itu, ia lulus.

Dan karena Anji telah menguasai (mengalami lebih tepatnya) masalah itu semua, maka tak berlebihan kalau blio cukup layak dijadikan sebagai contoh keberhasilan bidang ekonomi dan industri kreatif era Jokowi. Terutama untuk urusan konten kreator edisi pandemi yang karyanya begitu berpengaruh.

Oiya, lantas gimana dengan contoh keberhasilan di bidang kesehatan?

Ah, itu mah nanti aja, yang penting kan ekonomi dan industri kreatif dulu. Begitu kan, Pak Jokowi?

BACA JUGA Harus Gimana Lagi sama Orang yang Percaya Konspirasi Wahyudi Covid-19?! atau tulisan Yesaya Sihombing lainnya.

Terakhir diperbarui pada 22 Juli 2020 oleh

Tags: anji driveatta halilintarjokowiVlogger
Yesaya Sihombing

Yesaya Sihombing

Tinggal di Wonosobo, Jawa Tengah.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Kabar

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.