Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Merawat Orang Tua yang Sakit dan Bisikan Jadi Anak Durhaka

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
17 Juli 2021
A A
Mempertanyakan Prinsip Syariah RSUD: Memangnya Nungguin Orang Sakit MOJOK.CO Seandainya Biaya Periksa di Rumah Sakit Terpampang seperti Daftar Harga di Restoran

Mempertanyakan Prinsip Syariah RSUD: Memangnya Nungguin Orang Sakit MOJOK.CO Seandainya Biaya Periksa di Rumah Sakit Terpampang seperti Daftar Harga di Restoran

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Merawat orang tua yang sakit-sakitan memang terkesan heroik, tapi tidak pada kenyataannya. Soalnya, bisikan jadi anak durhaka bakal muncul di kepala.

Dalam berbagai kesempatan, menjadi anak durhaka sempat jadi tawaran yang menarik bagi saya. Iya, menarik sekali.

Oh, jangan dipikir frasa “anak durhaka” yang saya sebut tadi itu dimaksudkan dengan cara membantah orang tua atau memukul orang tua. Atau kekejaman-kekejaman lain yang sering kamu tonton di sinetron-sinetron Indosiar.

Dalam situasi saya, jadi anak durhaka itu mudah sekali. Cukup tinggal di rumah sendiri bersama keluarga kecil saya. Ngontrak atau mau KPR nggak apa-apa, yang penting tinggal sendiri. Terpisah dari orang tua saya.

Sayangnya, harapan sepele itu tidak bisa saya lakukan. Alasannya? Saya tak mau jadi anak durhaka… plus orang tua saya sepuh dan sakit-sakitan.

Bapak saya usianya 84 tahun. Menderita stroke, katarak, dan gloukoma.

Ibu saya, usianya 72 tahun. Ada pengapuran di kaki kirinya, membuatnya begitu kesulitan kalau mau jalan ke mana-mana.

Dan saya, dengan usia 30-an tahun, punya anak dan istri, punya pekerjaan dengan pendapatan yang cukup bagus di Jogja, tapi tak bisa ke mana-mana (baca: hidup mandiri).

Dari kondisi seperti itu, ada alasan khusus kenapa saya merasa iri ketika tahu ada teman yang bisa mengontrak rumah bersama keluarga kecilnya. Bisa hidup mandiri dan punya kemewahan untuk bebas memutuskan apa yang terbaik untuk keluarganya.

Meski kadang ada juga teman-teman saya yang agak terseok-seok secara ekonomi keluarga kecilnya, tapi mereka tampak bahagia—setidaknya di mata saya.

Perasaan iri ini wajar adanya, karena dengan usia saya yang sudah setua ini, saya masih ngintil ikut rumah orang tua. Bukan karena tidak mampu ngontrak rumah, tapi ya karena pilihannya adalah saya siap jadi anak durhaka dengan hidup terpisah atau tidak.

Hidup di rumah sebagai anak yang merawat kedua orang tua yang sakit dan sepuh butuh kesabaran ekstra (kalau tak mau menyebutnya tanpa batas).

Istri saya saksinya. Kami berkali-kali harus mendiskusikan ulang ketika ingin beli sesuatu. Sekadar memutuskan mau sunat untuk anak saya saja, kami perlu memikirkannya masak-masak. Sebab, semua keputusan keluarga kami bakal dikomentari orang tua saya.

Itu belum dengan kondisi rumah kami, yang mana saya sampai punya bel khusus di kamar yang nyambung langsung dengan kasur orang tua saya. Jaga-jaga kalau Bapak mau kencing di pispotnya atau menuntun Ibu yang mau ke kamar mandi, saya dan istri harus siap sedia 7 kali seminggu plus 24 jam sehari.

Iklan

Udah mirip kayak suster yang jaga piket di rumah sakit ya? Hehe.

Ketika saya keceplosan situasi ini ke teman-teman saya, kebanyakan dari mereka akan bilang, “Kamu beruntung orang tuamu masih hidup, Daf… bla-bla-bla,” dan nasihat-nasihat bijak lainnya.

Ya, semua akan bilang bahwa situasi saya penuh kemewahan. Tak perlu bayar cicilan rumah, tak perlu bayar angsuran macam-macam, karena beberapa di antaranya sebagian sudah ter-cover oleh uang pensiunan PNS kedua orang tua saya.

Masalahnya adalah, kenapa sulit sekali melihat itu semua sebagai kemewahan?

Kenapa ya sulit sekali menemukan kemewahan ketika harus membersihkan air kencing bapak saya, mencuci selimutnya, mencuci sarungnya, mengepel kamarnya yang bau pesing?

Kenapa ya sulit sekali merasa beruntung ketika harus menceboki pantat bapak saya, yang sudah penuh dengan kotoran manusia, dan saya harus mengumpulkannya pakai tangan saya sendiri?

Kenapa ya, hal-hal yang “indah” itu sulit sekali saya lihat sebagai keberuntungan, alih-alih sebagai sebuah kesialan?

Kemewahan-kemewahan yang oleh mereka-mereka yang sudah kehilangan orang tuanya, dianggap sebagai keberuntungan.

Sambil kadang komentar di beranda media sosial saya, “Kamu beruntung banget, Mas. Orang tua masih hidup, masih diberi kesempatan berbakti. Sayang sekali, aku nggak seberuntung kamu. Orang tuaku udah tiada.”

Hal yang saya tahu sebelum-sebelumnya, ketika orang tua si komentor ini masih hidup, orang yang komentar itu, dulu, tak pernah telepon orang tuanya. Sekadar menanyakan kabar orang tuanya saja tak sempat. Alasannya? Sibuk kerja.

Dan komentar seperti itu baru muncul justru ketika kedua orang tuanya sudah tiada.

Tentu saya bukan satu-satunya yang merasakan itu, istri saya, orang terkuat dengan hati seluas samudra yang pernah saya tahu, adalah superhero bagi saya. Ia tak pernah keberatan sama sekali merawat orang tua saya.

Kenapa bisa seperti itu jawabannya juga sederhana: istri saya sudah tidak punya orang tua dari usianya yang sangat muda. Ia sudah menganggap kedua mertuanya, seperti orang tuanya sendiri. Hal yang tak akan ada di cerita sinetron Indosiar dengan latar paling realistis sekalipun.

Pun dengan anak saya yang masih berusia 4 tahun. Tak pernah sekalipun mengeluh tentang rewelnya orang tua saya.

Selama ini tetap selalu jadi anak yang menyenangkan, mendengarkan apa yang selalu saya nasihatkan, dan tak pernah macam-macam. Benar-benar anak yang baik dan nurut, padahal saya tak pernah punya cara spesial dalam mendidiknya.

Bahkan, meski usianya masih 4 tahun, dia masih peduli dengan kakek dan neneknya. Seperti kalau kami sedang belanja di minimarket, kadang dia kepikiran mbah utinya, dan kepengin beli oleh-oleh. Sensitivitas yang bahkan tak pernah saya miliki di usia yang sekarang.

Dan itu yang bikin saya akhirnya merasa menemukan kemewahan-kemewahan yang sebelumnya tak pernah saya temukan. Istri yang baik, penyabar, dengan hati seluas samudra, plus anak yang lucu, nurut, dengan perhatian yang luar biasa ke keluarga (sesuatu yang agak absurd untuk anak seusianya).

Hal inilah yang kemudian jadi bahan bakar saya. Membuat saya justru merasa bahagia ketika orang tua saya, sangat bergantung pada keluarga kecil saya. Dan itu terjadi ketika Ibu mengultimatum saya, “Pokoknya kalau sampai kamu beli rumah sendiri dan pindah, aku ikut kamu ya?”

Saya tersenyum mendengarnya. Rasanya senang saja menjadi tulang punggung untuk merawat orang tua saya. Meski kadang, bisisikan-bisikan untuk menjadi anak durhaka, terus bermunculan di telinga.

Namun, jangan khawatir, bisikan itu akan hilang dengan sendirinya. Terutama kalau saya melihat wajah anak saya dan mengajukan tanya…

… apakah anak saya, akan mampu menerima beban serupa ketika nanti saya yang menua?

Saya tak tahu jawabannya. Yang saya tahu, kalau orang tua saya menanyakan pertanyaan serupa, saya akan menjawabnya. “Ya, saya akan menerima beban itu sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya.”


BACA JUGA Anak yang Dipaksa Durhaka oleh Orang Tuanya atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2021 oleh

Tags: anak durhakamerawat orang tuapensiunanPNSsinetron indosiar
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO
Sehari-hari

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO
Sehari-hari

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026
seleksi CPNS. CPNS Jogja, PNS.MOJOK.CO
Sehari-hari

Dua Kali Gagal Tes CPNS Meski Nilai Tertinggi, Kini Malah Temukan Jalan Terang Modal Ijazah SMA

8 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara motor plat S di jalanan Jombang tidak kalah ngawur dari plat K MOJOK.CO

Motoran di Jatim: Dibuat Sadar kalau Plat S Jadi Motor “Paling Rusuh” di Jalan

23 Maret 2026
meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Kerja di Jakarta gaji 5 juta sebenarnya cukup saja bagi perantau. Tapi yang dirampas dari mereka jauh lebih banyak MOJOK.CO

Kerja Gaji 5 Juta di Jakarta Sebenarnya Cukup-cukup Saja. Tapi yang Direnggut dari Kita Lebih Besar, Hidup Jadi Tak Normal

24 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026

Video Terbaru

Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.