Lebaran + 1 hari. Hari Senin. Pagi hari. Saya, istri, dan anak sedang melaju di sebuah jalan besar di Sleman. Kami dari arah utara menuju selatan. Karena soto langganan sedang tutup, pagi itu, kami akan sarapan gudeg Jogja.
Pagi itu, pilihan untuk sarapan memang tidak banyak. Masih banyak gerai makanan yang tutup karena masih dalam suasana Lebaran. Sudah begitu, di Jogja sendiri, untuk menu sarapan, rasa-rasanya mengerucut ke dua menu saja, yaitu soto dan gudeg Jogja.
Kebetulan, anak saya yang baru berulang tahun ketiga pagi itu, suka makan gudeg. Maka, ketika melihat sebuah warung buka, kamu langsung berhenti dengan hati gembira. Maklum, pagi itu kami sudah keliling beberapa tempat dan perut sudah lapar.
Yang kami tidak tahu, hati gembira itu akan berubah menjadi cemberut setelah makan. Izinkan saya bercerita.
BACA JUGA: 4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan
Rasa gudeg Jogja pada umumnya
Jelas, saya tidak akan menyebutkan nama warung makan gudeg Jogja yang kami tuju. Pokoknya di sana. Pinggir jalan. Cita rasa yang ia tawarkan, ya sama seperti gudeg pada umumnya. Yang dominan adalah manis. Satu hal yang agak menolong adalah kreceknya yang cukup pedas.
Pesanan kami bertiga seperti ini:
Saya: bubur gudeg, plus telur dan tahu. Termasuk krecek dan es teh.
Anak: nasi gudeg plus telur.
Istri saya: nasi gudeg, plus ayam dan telur. Minumnya es teh karena nggak ada es jeruk.
Telur dan tahu di warung gudeg Jogja ini cukup oke. Rasa manisnya pas dan masih terasa segar. Artinya, si penjual menggunakan bahan-bahan yang bagus. Sementara itu, untuk ayamnya, juga termasuk oke. Namun, agak terlalu keras untuk anak kecil. Kalau untuk santapan orang dewasa, tidak menjadi masalah.
Kesimpulannya, gudeg Jogja yang kami nikmati pagi itu nggak mengecewakan, tapi juga nggak istimewa banget. Istilahnya, B aja.
Soal rasa, nggak ada masalah. Rasa kaget muncul di atas motor ketika kami pulang.
Baca halaman selanjutnya: Sedih, jadi korban nuthuk rega.














