Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Memaknai Makanan di Hotel Berbintang

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
14 Juni 2020
A A
kuliner jalan parangtritis mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Beda bintangnya, beda pula makanannya, beda pula cara memaknainya.

Kalau suatu ketika Anda menginap di hotel bintang tiga, empat, atau lima, maka sudah hampir bisa dipastikan bahwa sarapan yang akan Anda santap di pagi hari pastilah makanan yang kualitetnya jempolan dan punya rasa yang di lidah bukan hanya bisa bergoyang, tapi juga berdansa.

Apalagi kalau bintang lima, makanannya pasti sempurna.

Telor rebusnya pas dan eco. Ia seperti direbus dengan durasi yang presisi: tidak kelamaan, tidak juga kecepetan. Warna kuning telurnya sempurna serupa bendera Golkar yang masih baru dan belum sering kena angin malam dan sinar matahari.

Nasinya pun pulen setengah mampus. Dibikin dari beras terbaik. Nasi yang dengan mengunyahnya saja niscaya langsung bisa meningkatkan kepercayaan diri seseorang yang sudah bertahun-tahun menerima jatah beras cap raskin dari kelurahan.

Steak dagingnya juga pasti dibikin dari daging sapi yang mumpuni. Sapi yang pakannya saja pasti rumput pilihan yang sama sekali tidak bercampur dengan gulma, hasilnya, dagingnya begitu empuk dan legit. Tidak butuh banyak tenaga dan makian untuk bisa mengunyahnya dengan sempurna.

Buahnya apalagi. Rasanya pasti enak betul laksana buah dapat nyolong. Segarnya paripurna. Warnanya menggoda. Merahnya semangka, kuningnya nanas, jingganya pepaya, dan putihnya begkoang, semuanya tampil dalam warna yang paling ranum dan paling estetik, yang semakin menyelerakan hati untuk segera melahapnya.

Kalau hotel yang nggak berbintang, ya jangan harap bisa mencicipi kesempurnaan-kesempurnaan di atas. Mentok roti panggang dengan isi coklat yang tidak merata. Kadang sesekali menunya nasi goreng yang rasanya, mengutip apa kata Mahbub Junaidi, netral. Tidak manis tidak juga asin. Pokoknya blas tidak ada rasa nasi gorengnya.

Itu juga masih beruntung karena roti dan nasi goreng bagi sebagian orang dianggap masih cukup kompetitif dan menyenangkan.

Di beberapa hotel malah hanya menyediakan teh anget dengan kacang rebus sebagai makanannya. Makanan, lebih tepatnya cemilan, yang bakal membuat siapa pun tamu yang menginap langsung merasa sebagai seorang peronda penjaga poskamling di masa darurat kamtibmas alih-alih seorang turis tajir yang sedang melancong.

Saya tentu saja bukan pelancong yang rajin. Kendati demikian, saya cukup sering menginap di hotel berbintang.

Musababnya karena saya sering sekali diminta untuk menjadi pemateri kelas menulis atau menjadi pengisi acara mewakili kantor tempat saya bekerja. Kalau acara tersebut diselenggarakan di luar kota, saya sering diinapkan di hotel yang bagus oleh panitia. Sungguh berkah anak shaleh.

Namun, saya jarang sekali bisa menikmati makanan hotel. Entah kenapa, seenak apa pun sarapan yang disediakan oleh hotel, rasanya tak pernah bisa memuaskan batin saya. Kenyang memang kenyang. Enak memang enak. Namanya juga hotel bagus, hotel berbintang. Namun rasanya kayak ada yang kurang.

Saya baru merasa plong kalau saya sudah makan ayam penyet atau pecel lele hasil beli via go-food yang kemudian saya makan di dalam kamar sembari menonton tayangan ular yang sedang memburu kodok atau azab piton rakus yang tertusuk duri-duri landak di channel National Geographic.

Iklan

Ada semacam kepuasan saat memakan pecel lele itu. Pada setiap suapan yang masuk, ada bagian dari diri saya yang hilang sejak menginap di hotel yang seakan muncul kembali.

Perasaan itu sudah saya rasakan bahkan sejak driver go-jek mengirim pesan “Pak, saya sudah di depan!”

Saya, setelah membaca pesan tersebut, bakal langsung bergegas. Saya melompat dari tempat tidur, saya raih kacamata, saya pakai sandal hotel saya yang empuk itu, langsung saya merangsek keluar kamar dan segera menuju ke lobi.

Keluar dari lift, saya cepat melesat. Dari jauh, sudah tampak si Bapak driver berdiri mencangking makanan pesanan saya.

“Bapak Agus, ya?”

“Iya,” jawab saya.

“Ini, Mas,” katanya sembari menyerahkan bungkusan yang ia tenteng kepada saya.

“Sudah pakai go-pay ya, Mas.”

“Ya, Mas,” jawabnya.

“Sudah lama kerja di sini, Mas?” tanyanya.

Saya tercekat. Bajingan. Ia ternyata mengira saya karyawan di hotel ini, dan bukannya tamu.

Saya tentu saja agak tersinggung dengan pertanyaan itu. Pertanyaan itu seolah meragukan kemampuan finansial saya. Pertanyaan yang berisi tuduhan bahwa tampang saya ini tidak punya potongan turis yang kuat nginep di hotel berbintang.

Tapi sebagai pribadi yang luhur, tentu saja tetap saya jawab belaka pertanyaan yang berbau tantangan terbuka itu.

“Saya nginep di sini, Pak.”

“Oh…”

Ia kemudian berlalu, saya pun kembali ke kamar.

Kali ini, ada perasaan aneh yang lain. Saya merasa tak perlu memakan pecel lele untuk menghadirkan kembali sebagian dari diri saya yang hilang sejak menginap di hotel. Pertanyaan keparat dari driver go-jek tadi ternyata sudah cukup untuk menghadirkan kembali sebagain dari diri saya yang hilang.

Kelihatannya memang sudah sepantasnya saya diragukan. Seharusnya memang begitu.

Di dalam kamar, membuka bungkusan makanan tadi sambil harap-harap cemas, semoga isinya benar-benar pecel lele, bukan teh anget dan kacang rebus.

Terakhir diperbarui pada 14 Juni 2020 oleh

Tags: hotelMakanan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO
Kilas

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Pertama kali tidur di kamar hotel pakai AC, berasa jadi orang kaya malah berujung tersiksa MOJOK.CO
Ragam

Pertama Kali Tidur di Kamar Pakai AC: Pengin Tidur Nyenyak Ala Orang Kaya Berujung Konyol, Ngompol hingga Meriang

24 Juni 2025
Pengalaman konyol pertama kali nginep di sebuah hotel di Malang MOJOK.CO
Ragam

Kekonyolan saat Pertama Kali Nginep Hotel, Syok Mandi Air Hangat hingga Bingung Cara Checkout dan Buka Pintu Kamar

22 Mei 2025
Kebun Plasma Nutfah Pisang: Kebun Konservasi Pisang Terbesar di Asia Tenggara
Video

Kebun Plasma Nutfah Pisang: Kebun Konservasi Pisang Terbesar di Asia Tenggara

13 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
undangan pernikahan versi cetak atau digital jadi perdebatan di desa. MOJOK.CO

Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi

30 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.