Selasa (10/03) sebuah artikel Liputan tayang di Mojok. Yang menulis adalah Shofiatunnisa Azizah. Katanya, ada perantau Sunda yang muak dengan siksaan makanan khas Jogja. Namun, setelah membaca artikel tersebut, yang saya temukan hanya sebuah kebodohan. Karena pada saat tertentu, makanan khas Sunda dan Jogja itu sama-sama bisa bikin muak.
Namanya Iqbal, usia sudah 30 tahun artinya dia orang dewasa, dan sudah satu tahun tinggal di Jogja. Artikel tersebut tidak menyebutkan apakah Iqbal ini masih sekolah atau sudah bekerja. Saya rasa informasi yang hilang ini penting untuk mengukur kebodohan si Iqbal ini sebagai perantau Sunda yang tidak memahami bahwa makanan khas Sunda dan Jogja itu bisa sama-sama bikin muak.
Baca juga: 3 Makanan Sunda yang Namanya Aneh dan Bikin Nggak Nafsu Makan
Jadi, makanan khas Jogja itu manis atau hambar? Konsisten dong!
Shofiatunnisa Azizah, mengawali tulisannya dengan kalimat begini: “Makanan Jogja, sebagaimana makanan Jawa, rasanya cenderung manis dan kurang berani.”
Sebagai orang asli Jogja, saya mengidentifikasi dua ambiguitas di sini. Pertama, jika “makanan Jawa” merujuk ke spektrum Jawa Tengah, bisa benar. Namun, ambiguitas ini juga bisa saya arahkan ke “makanan Jawa” di bagian timur. Artinya, makanannya jadi cenderung gurih dan asin. Jadi, Azizah mau mengarah ke mana?
Kedua, “cenderung manis dan kurang berani” ini dua hal yang sangat berbeda. Frasa “kurang berani” merujuk kepada si juru masak yang menggunakan bumbu secara minimal sehingga rasanya terasa hambar. Padahal, hambar dan manis itu berbeda. Manis adalah rasa yang distinctive, atau khas, yang membedakannya dengan rasa lain.
Lalu, Azizah mulai masuk ke dalam artikel menggunakan perspektif Iqbal, sang narasumber tunggal. Kata Iqbal, dia “tersiksa dengan rasa makanan di Jogja yang tidak ada rasanya”.
Lagi-lagi, ini mau bilang makanan Jogja itu manis atau tidak ada rasanya? Iya, saya paham, kok. Makanan khas Jogja seperti gudeg, bisa bikin muak karena manisnya menyengat.
MASALAHNYA, Iqbal tidak menyebutkan nama makanan khas Jogja yang sudah menyiksanya sedemikian rupa sampai dia “muak”. Kata “muak” ini bukan rekaan saya, tapi sebuah kata yang berasal dari seseorang yang merindukan makanan khas Sunda.
Karena tidak ada informasi soal nama makanan, bagaimana kita bisa yakin bahwa yang Iqbal makan adalah makanan Jogja? Jangan-jangan, si perantau yang merindukan makanan khas Sunda ini makan makanan dari daerah lain, yang kebetulan buka warung di Jogja dan rasanya hambar, bukan dominan manis. Karena tidak ada informasi lanjutan, tentu sah saja kalau saya berpikir seperti itu.
Baca halaman selajutnya: Sama-sama bikin muak!













