Namanya Wisnu Pamungkas (38). Asli Surabaya, merantau di Jogja lebih dari 15 tahun. Setelah menikahi orang Sleman, dia langsung mengganti KTP-nya. Namun, sebagai asli Surabaya, dia tidak bisa lepas dari satu identitasnya, yaitu makanan khas Jawa Timur. Maka, mudik adalah momen untuk “balas dendam”.
Wisnu adalah sedikit dari teman saya yang sangat suka makan bebek. Mungkin, Tuhan memang memberinya anugerah bebas dari kolesterol dan darah tinggi atau semua penyakit yang katanya disebabkan oleh bebek. Dan kamu tahu, sebagai orang asli Surabaya, dia sangat tersiksa dengan olahan bebek di Jogja.
Saya tidak bisa membantah pernyataan dia suatu kali. “Bebek di Jogja itu sebetulnya ya nggak jelek banget. Cuma, nggak konsisten aja.” Saya tidak bisa membantah karena saya sendiri penyuka bebek dan sependapat dengan pernyataan itu. Beda jauh dengan di Surabaya di mana rasanya kok warung bebek itu sepakat untuk enak semua.
Tidak hanya bebek, tapi semua makanan khas Jawa Timur itu rata-rata konsisten. Maksudnya, warung-warung yang menyediakan makanan khas Jawa Timur sepakat untuk enak. Makanya, mudik Lebaran adalah momen bagi lidah Wisnu untuk melepas rindu.
BACA JUGA: Warung Bebek Purnama Terenak di Surabaya, Masakan Orang Madura Tak Pernah Mengecewakan
Rindu makanan khas Jawa Timur
Wisnu ini sebenarnya nggak pilih-pilih makanan. Dia bisa beradaptasi dengan cepat ketika harus makan gudeg. Dia tahu kalau gudeg itu dominan manis.
Alih-alih mengeluh, dia selalu berpesan kepada penjual gudeg untuk menambah porsi krecek supaya pedasnya nambah. Kalau makan bakmi Jawa, dia selalu setia makan tanpa kecap. Intinya, dia memang orang Surabaya yang nggak lemah dan tahu hidup itu soal adaptasi.
Namun, meski bermental baja, Wisnu tetap manusia. Dia selalu kangen makanan khas Jawa Timur meski sudah lama sekali tinggal di Jogja dan ber-KTP Sleman. Maka, setiap momen mudik Lebaran, dia sudah membuat “daftar kunjungan” bersama istri dan anaknya. Bukan untuk mengunjungi saudara, tapi titik-titik terbaik yang menjajakan makanan khas Jawa Timur.
Bagi Wisnu, mudik Lebaran itu yang penting keluarga inti saja. Silaturahmi dengan keluarga besar juga sekadarnya saja. Saya tidak bisa menyalahkan atau membantah prinsip dirinya ini. Siapa saya kok mau menghakimi. Maka, setelah mudik lengkap oleh salam-salaman, dia berburu bebek.
Bebek Purnama adalah makanan khas Jawa Timur yang juga saya gemari. Namun, bagi Wisnu, makan bebek, khususnya di Surabaya, bukan perkara merek saja. Seperti yang dia bilang tadi bahwa bebek di Jogja nggak konsisten, di Surabaya beda perkara. Rata-rata enak dan kalau sudah kangen, nggak perlu pilih-pilih tempat.
Saya setuju dengan sikap ini. Pasalnya, saya pernah sangat sering berkunjung ke Surabaya untuk menengok istri yang bekerja di sana. Dan bebek di sana memang rata-rata enak.
Analisis dangkal, tapi masuk akal
Suatu kali saya dan Wisnu pernah makan rawon, salah satu makanan khas Jawa Timur, berdua saja di Taman Bungkul, Surabaya. Momennya memang pas. Saya sedang ke Surabaya dan dia mudik dari Jogja. Kami janjian di Rawon Kalkulator yang terkenal itu. Iya, memang bukan rawon terbaik, tapi masih enak kok buat lidah Jogja saya.
Salah satu topik obrolan kami adalah berusaha menjawab pertanyaan ini: “Kenapa rata-rata bebek dan semua makanan khas Jawa Timur yang ada di Jatim itu enak semua?”
Wisnu yang pertama membuat analisis, yang kami sama-sama tahu, pasti dangkal. Maklum, kami ini sebatas penikmat, bukan ahli kuliner.
Jadi, kalau soal bebek, adalah Surabaya dan Madura yang merajai. Kenapa begitu? Mungkin, kata Wisnu: “Orang Surabaya dan Madura itu kayaknya sama kalau soal gengsi. Jelas gengsi kalau makanan yang mereka sajikan itu kalah enak.”
Maka, yang terjadi kemudian adalah “pemerataan rasa enak” di mana sebagai orang Jogja, saya sangat bersyukur. Dulu, saya dan istri itu hanya tahu kalau mau makan bebek enak ya ke Bebek Purnama. Namun, hanya dalam beberapa bulan, kami belajar bahwa semua warung bebek itu rata-rata enak.
Bagi saya juga, analisis dangkal dari Wisnu ini sudah cukup masuk akal. Sebagian orang Jawa Timur dan Madura yang saya kenal di Jogja memang begitu. Gengsi mereka besar dan berdaya saing. Meski terlihat santai dan kerjaannya ngopi saja, tapi pekerjaan mereka pasti beres dan terbilang bagus.
BACA JUGA: 4 Makanan Khas Jawa Timur yang Sebaiknya Nggak Buru-buru Ditawarkan pada Teman Bulemu
Berharap di Jogja lahir makanan khas Jawa Timur yang “konsisten”
Warung rawon, sebagai salah satu makanan khas Jawa Timur, di Jogja itu ada banyak. Salah satu yang masih terbilang baru ada di Jalan Magelang, tepatnya di halaman parkir toko pakaian De Kosmo. Namanya Kedai Rawon Bergelora. Ulasan yang saya temui di media sosial terbilang bagus.
Namun, nasib rawon di Jogja ya sama seperti bebek. Nggak semua enak, banyak yang jauh di bawah standar sebagai makanan khas Jawa Timur. Wisnu, sebagai orang Surabaya yang resah, pernah punya cita-cita mulia.
Dia pernah ingin membuka sebuah food court di Jogja. Isinya adalah parade makanan khas Jawa Timur. Wisnu yakin usahanya ini akan ramai karena banyak orang Jogja “tersiksa” oleh makanan khas-nya sendiri. Banyak yang suka asin, gurih, dan pedas. Saya sendiri termasuk di sana.
Namun, cita-citanya mentok di dana dan ilmu pengetahuan. Kembali lagi, kami ini penikmat, bukan ahli kuliner. Oleh sebab itu, hanya di momen mudik Lebaran, lidah Wisnu bisa menuntaskan rasa kangen kepada bebek goreng.
Saat artikel ini tayang, Wisnu sudah mudik ke Surabaya. Saya yakin, dia nggak akan nunggu waktu lama untuk segera mengganyang bebek dan rawon.
Kadang saya ingin titip bungkus sambal di Bebek Purnama yang pedasnya paripurna itu. Namun, kok nggak mungkin kalau titip cuma sambalnya saja.
Ah, sebagai orang Jogja, saya jadi pengin merasakan mudik. Berburu makanan khas dan memuaskan dahaga rindu. Seperti kawan saya si omnivora satu itu, mudik ke Surabaya untuk kangen-kangenan dengan makanan khas Jawa Timur.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 Makanan Khas Jawa Timur Paling Red Flag, Cukup Sekali Dicoba atau Sekalian Nggak Usah Dicoba Sama Sekali dan pengalaman menarik lainnya di rubrik POJOKAN.














