Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Luar Biasa, Perkara Rasisme Diadili oleh Hakim yang Logikanya Rasis

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
9 Januari 2020
A A
rasis rasialisme rasisme koteka kasus makar papua surya anta pengadilan hakim koteka mojok.co

rasis rasialisme rasisme koteka kasus makar papua surya anta pengadilan hakim koteka mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dua orang Papua terdakwa makar dan pemufakatan jahat di PN Jakpus dilarang mengenakan koteka selama sidang. Hakim risih dan meminta mereka pakai celana ketimbang mengenakan pakaian adat mereka sendiri. Lha kok rasis?

Ada penjelasannya kenapa dua orang Papua terdakwa kasus makar Anes Dano Tabuni dan Ambrosius Mulait konsisten memakai koteka saat menghadiri sidang praperadilan kasus mereka.

Pada 30 dan 31 Agustus 2019, delapan orang ditangkap di Jakarta atas tuduhan makar. Mereka adalah:

  1. Anes Dano Tabuni
  2. Ambrosius Mulait
  3. Surya Anta
  4. Charles Kossay
  5. Isay Wenda
  6. Arina Lokbere
  7. Naliana Wasiangge
  8. Norince Kogoya

Kejadian yang membuat mereka tertangkap: Pada 28 Agustus 2019, ratusan mahasiswa Papua dan masyarakat yang bersolidaritas melakukan demonstrasi di depan Istana Merdeka dan Mabes TNI di Jakarta Pusat. Massa aksi menuntut hak menentukan nasib sendiri untuk Papua.

Sejumlah bendera bintang kejora dikibarkan massa aksi. Kedelapan orang tadi dituduh sebagai pengibarnya.

Mengapa mereka demo?: Sebagai respons atas tindakan rasis sekumpulan ormas dan tentara yang mengepung asrama mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 Agustus 2019. Massa menuduh mahasiswa di asrama sengaja membuang bendera merah putih ke selokan depan asrama. Tuduhan itu tidak terbukti.

Tapi mereka tak cuma mengepung. Sejumlah orang meneriaki mahasiswa di dalam asrama dengan sebutan “Monyet!”. Mahasiswa yang dikepung menolak keluar asrama. Bukannya dilindungi dengan mengusir massa ormas, polisi malah memaksa masuk dan menangkap ke-43 mahasiswa penghuni asrama. Empat mahasiswa terluka dalam penggerebekan ini. Mereka kemudian dilepaskan karena tak ada bukti bahwa mereka yang membuang bendera merah putih ke selokan.

Peristiwa di Surabaya berbuntut panjang. Kemarahan orang Papua membuat kerusuhan pecah selama berminggu-minggu di sejumlah kota di Provinsi Papua dan Papua Barat. Karena teriakan “Monyet!” di Jawa, ribuan orang di Papua jadi pengungsi, harta benda hangus dilalap api, infrastruktur rusak, dan korban jiwa berjatuhan.

Yang belakangan terbukti dan kemudian diproses hukum, adalah sejumlah pelontar ucapan rasial di asrama Papua Surabaya. Lima anggota TNI juga diskors, termasuk di antaranya Danramil 0831/02 Tambaksari Mayor Inf N.H. Irianto.

Dalam situasi seperti itulah kedelapan aktivis Papua ditangkap di Jakarta. Berselang tiga hari dari penangkapan, pada 3 September 2019 Naliana dan Norince dibebaskan karena terbukti tak terlibat pengibaran bendera kejora.

Konteks itu pulalah yang bikin permintaan hakim agar kedua tahanan politik itu tak memakai koteka–sebuah simbol identitas dan ketertindasan Papua–menjadi ironi. Satu kasus yang berpangkal pada rasisme dan diadili pakai logika rasis.

“Hakim minta pakai celana. Badan atas tetap kosong tapi jangan pakai koteka lagi sidang berikutnya karena katanya aturan pengadilan,” ujar Anes Dano Tabuni setelah sidang, dikutip dari CNN Indonesia. Selain memakai koteka, Anes Dano Tabuni dan Ambrosius Mulait juga menuliskan dengan cat putih kata “Monkey, usir Papua” di tubuh mereka.

Tapi Anes akan tetap memakai kotekanya. “Saya harus menunjukkan bahwa orang Papua seperti ini dan kita menyelesaikan masalah sebesar apapun kita selesaikan secara budaya. Mesti harus pakai koteka. Saya lebih menghormati persidangan ketika saya pakai koteka.”

Memang relevan jika orang membandingkan sikap orang-orang Indonesia yang rasis pada orang Papua dengan sikap orang-orang kulit putih pada orang-orang kulit cokelat di era kolonial. Jika sekarang si hakim bermasalah dengan asumsi ketidakberadaban yang ia lekatkan pada koteka, di masa lampau ketaksopanan itu dilekatkan pada kaki yang tak beralas, makan dengan tangan, dan kegemaran makan sirih.

Iklan

Koteka tidak bisa disetarakan dengan baju transparan dan jeans robek yang pernah bikin Nikita Mirzani  ditegur. Batasannya toh jelas, koteka adalah pakaian adat. Sama seperti laki-laki yang bersarung di acara resmi tak perlu dilarang-larang, sebab memang ada kultur yang menjadikan sarung pakaian sopan, tidak peduli Anda menganggapnya cuma pantas dipakai di rumah. Demikian juga jika menjumpai perempuan yang memakai sari dan karena itu, bagian perutnya jadi terbuka. Mau bilang tak sopan juga?

Sebelum ini, masalah pakaian dalam persidangan pernah menimbulkan prahara. Very Idham Henyansyah alias Ryan Jombang juga pernah dilarang pakai gamis, peci, dan sorban. Padahal terdakwa kasus mutilasi ini kabarnya ingin berubah dan menunjukkannya dengan mengubah tampilannya jadi makin alim. Ryan akhirnya dipaksa mengenakan setelan hitam putih dengan alasan biar kayak terdakwa lainnya. Loh, mohon maaf, terdakwa korupsi banyak yang pakai kostum ustaz kok santuy gitu ya, kok nggak dilarang?

Keadaan seperti ini mengenaskan. Bayangkan, di ruang pengadilan saja seorang manusia tak bisa menerima perlakuan adil. Entah ke mana lagi kita harus berlindung.

BACA JUGA 4 Cara Mengusir Kapal China dari Natuna tanpa Perlu Perang atau artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 9 Januari 2020 oleh

Tags: kotekamakarPapuasurya anta
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

papua.MOJOK.CO
Lipsus

Harga yang Harus Dibayar dari Pembangunan di Papua: Hutan Rimbun Diratakan Alat Berat, Alam dan Masyarakat Adat Terancam

3 Mei 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO
Sosial

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
papua.MOJOK.CO
Sosok

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO
Ragam

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Semester 5 kuliah: Masa paling overthinking kepikiran ortu dan masa depan, percuma cari pelarian MOJOK.CO

Semester 5 Kuliah: Masa paling Overthinking bagi Mahasiswa karena Kepikiran Ortu dan Masa Depan, Percuma Cari Pelarian

5 Mei 2026
Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda MOJOK.CO

Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda

4 Mei 2026
Perburuan burung kicau untuk penuhi pasar skena kicau mania tinggi, ternyata bisa ancam manusia dan bumi MOJOK.CO

Perburuan Burung Kicau untuk Penuhi Skena Kicau Mania Tinggi: Jawa Jadi Pasar Besar, Bisa Ancam Manusia dan Bumi

2 Mei 2026
Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya.MOJOK.CO

Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

30 April 2026
undangan pernikahan versi cetak atau digital jadi perdebatan di desa. MOJOK.CO

Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi

30 April 2026
1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa MOJOK.CO

1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa

2 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.