Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ketika Lelaki Berlindung di Balik Kata Realistis Saat Putus Cinta

Audian Laili oleh Audian Laili
26 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dalam perkara putus cinta, perempuan lebih mengutamakan perasaan, sedangkan lelaki dengan logika dan pikiran realistisnya.

Beberapa kali saya mendengar cerita tentang hubungan sepasang lelaki dan perempuan yang menjalin romantisme ke arah yang lebih serius, tapi sayangnya, hubungan tersebut harus terkendala beberapa hal, walau sebetulnya keduanya masih sama-sama saling sayang. Bisa dikarenakan faktor ekonomi, pendidikan, kasta keluarga, ataupun perbedaan aliran agama (((padahal sudah seagama))) serta perbedaan aliran partai politik.

Untuk alasan yang terakhir, tentu saja saat ini semakin memanas karena efek rumah kaca semakin kisruhnya Cebong dan Kampret di berbagai lini media sosial.

Cerita yang kemudian sering saya dengar. ketika ada halangan tersebut, pihak perempuan tidak menganggapnya sebagai halangan. Justru hal itu dijadikan sebagai sebuah ujian supaya cinta yang terikat semakin kuat. Maka tidak mengherankan, si perempuan bakal berusaha berkorban dengan cara apa pun yang ia bisa untuk melanggengkan jalinan kasih tersebut.

Pokoknya kalau dilihat orang, dia udah macam bucin alias budak cinta lantaran apa pun yang dia lakukan selalu memprioritaskan—biar bisa bersanding dengan—pasangannya!

Berbeda dengan pihak perempuan, lelaki justru lebih memiliki perasaan was-was atau ketar-ketir dengan halangan yang ada di depan mata. Biasanya, bukannya sibuk untuk mengusahakan supaya tetap bersama, lelaki justru sibuk menghitung dan mempertimbangkan segala konsekuensi dari hubungan tersebut, jika tetap memaksa ingin berlanjut. Semua ini dilakukan dengan alasan…

…ingin memutuskan sesuatu dengan lebih realistis.

Hal ini tentu terasa menyakitkan dan seakan tidak adil, sebab: kok bisa-bisanya sebuah perasaan sayang harus dipertimbangkan? Pakai hitungan lagi! Kalau sayang, ya sayang aja!!111!!! Memangnya ini lagi pengin menyayangi seseorang atau mau menyayangi uang supaya tetap hemat, cermat, dan bersahaja, sih?!

Apalagi, seperti yang kita tahu, perempuan memang lebih sering memutuskan sesuatu dengan perasaannya. Sementara itu lelaki dengan logikanya.

Oke kita ambil contoh sebuah kisah cinta anak muda—menuju dewasa—yang sedang dimabuk asmara. Anggap saja ini cerita tentang Lastri dan Bejo. Mereka berdua telah berpacaran hampir 4 tahun. Lastri memiliki keluarga dengan tingkat ekonomi dan pendidikan yang lebih tinggi dibanding Bejo. Ketika itu, Lastri sudah lulus kuliah lebih dulu dibanding Bejo.

Lulusnya Lastri menjadi tamparan bagi Bejo. Apalagi selulus kuliah, Lastri sering menyindir-nyindir meminta untuk segera dinikahi dengan menunjukkan vendor-vendor pernikahan di Instagram. Tentu saja kondisi ini menjadi lengkap bagi Bejo. Ia pun mencapai sebuah kesimpulan bahwa dirinya dan kondisinya saat ini tidak bisa diharapkan. Jadi daripada Lastri harus repot-repot menunggunya, lebih baik keduanya berpisah saja. Toh, Lastri pasti akan menemukan lelaki yang jauh lebih baik dibanding dirinya.

Bagi Lastri, keputusan Bejo ini sangat egois dan tipikal pria kekanak-kanakan yang mudah putus asa. Pasalnya ia langsung menyerah begitu saja dan tidak ingin memperjuangkan ujian yang ada. Atau dugaan yang lebih parah…

…Bejo sudah tak lagi sayang padanya dan punya selingkuhan lainnya. Sementara itu bagi Bejo, keputusan yang dia ambil ini adalah yang paling realistis. Ia sudah menghitung dan mempertimbangkan banyak hal sebelum keputusan tersebut keluar dari mulutnya.

Ya, begitulah. Perempuan memang memiliki keunikan untuk membangun hubungan dengan orang di sekitarnya, yakni melalui emosi dan perasaan. Oleh karena itu, ketika seorang perempuan memang melihat ada halangan dalam hubungan tersebut, ia tidak langsung menganggap itu sebagai halangan. Dengan menuruti rasa cintanya pada pasangan, ia pun yakin bahwa segala halangan yang ada tidak menjadi masalah untuk dapat menyatu. Asalkan keduanya memang masih memiliki rasa yang sama.

Iklan

Lantas, perempuan sering tampak berjuang lebih mati-matian untuk mempertahankan hubungan itu. Ia melakukan ini karena baginya, bukankah keduanya masih saling sayang dan memimpikan untuk dapat hidup bersama?

Di sisi lain, lelaki lebih menggunakan logikanya untuk memutuskan sesuatu. Maka ia akan lebih memilih mempertimbangkan dulu hal-hal yang menjadi halangan di depan mata, meskipun di dalam hati masih nyata-nyata tersimpan rasa sayang. Pikiran yang lebih realistis ini biasanya juga didasari oleh rasa tanggung jawab lebih terhadap pasangan. Apalagi kalau udah bawa-bawa urusan pernikahan. Mungkin cuma laki-laki sumbu pendek aja yang nggak memilih berpikir terlalu berat terhadap pernikahan dan justru…

…berniat beristri empat!!!1111!!1

Kalau yang kayak gini sih, disuruh taubat nasuha dulu aja lah. Lha wong, belum tentu sanggup menafkahi satu istri, kok bisa-bisanya bercita-cita punya istri empat. Belum lagi kalau mau bahas perkara adil atau nggaknya. Hadeh~

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2019 oleh

Tags: cara berpikirhubungan cintahubungan pacaranlelaki realistisPutus Cinta
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6
Video

Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6

3 Maret 2025
Mereka yang Disuruh Putus Orang Tua Pacar karena Bukan Mahasiswa: Sakit, tapi Tak Perlu Repot-repot Kasih Pembuktian MOJOK.CO lebaran
Liputan

Cerita Pilu 2 Pria yang Hubungannya Kandas Menjelang Lebaran, Ada yang Bawa-bawa Agama dan Dianggap Tak Punya Masa Depan!

9 April 2024
Hari Kesehatan Mental Sedunia yang Sepi MOJOK.CO
Esai

Hari Kesehatan Mental Sedunia yang Sepi

11 Oktober 2021
6 Masalah yang Bakal Kamu Hadapi ketika Pacaran Sama Sahabat Sendiri, Salah Satunya Bikin Insecure MOJOK.CO
Esai

6 Masalah yang Bakal Kamu Hadapi ketika Pacaran Sama Sahabat Sendiri, Salah Satunya Bikin Insecure

2 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.