Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kutukan dan Keuntungan Gibran Rakabuming Raka Sebagai Anak Presiden

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
19 Desember 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Apapun kesuksesan Gibran Rakabuming Raka, sedikitnya tetap muncul tudingan ada peran reputasi sang bapak di sana. Hmm, sialnya jadi anak presiden.

Majunya Gibran Rakabuming Raka dalam bursa pencalonan Wali Kota Solo 2020 direspons oleh banyak pihak. Sayangnya, respons yang muncul banyak juga yang kurang positif. Salah satunya adalah respons dari Wakil Ketua DPR RI 2014-2019, Fahri Hamzah.

Menurut Fahri, keputusan Gibran terjun dalam politik untuk Pemilihan Wali Kota Solo 2020 ini punya kesan negatif karena bapaknya masih menjabat sebagai Presiden Indonesia. Kegelisahan itulah yang kemudian diungkapkan Fahri Hamzah melalui akun Twitternya.

Sebaiknya Gibran maju paling cepat setelah 2024….kalah atau menang di Solo akan merusak reputasi bapaknya…padahal harusnya reputasi presiden berakhir moncer…pada periode akhir… https://t.co/heDYgCtEgk

— #ArahBaru2019 (@Fahrihamzah) December 17, 2019


Meski Fahri Hamzah dikenal sebagai sosok yang selalu berseberangan dengan Presiden Jokowi, namun kali ini harus diakui bahwa blio mengungkapkan kegelisahan yang sebenarnya juga dialami oleh banyak pihak yang mengagumi Gibran—saya salah satunya.

Mau beberapa politisi bilang bahwa Gibran maju bukan karena kepopuleran bapaknya, atau tanpa pretensi apapun dari Jokowi, bagi saya tetap saja tak bisa ditampik kalau dirinya punya beberapa keuntungan karena posisi citra politiknya saat ini.

Itu hal yang—di satu sisi—merupakan kelebihan, namun di sisi lain bakal jadi duri yang menyesakkan.

Iya dong. Dalam bayangan saya, berat lho menjadi sosok Gibran. Segala macam kesuksesan yang dia raih saat ini, cukup mudah untuk dicap sebagai keutungan karena jadi anak Presiden. Dan inilah “kutukan” menjadi anak orang nomor satu di negeri ini.

Seperti bisnisnya yang moncer dengan Chilli Pari atau Markobar misalnya, orang boleh sebut itu kerja keras Gibran, tapi sedikit banyak orang juga tertarik mencicipi dua produk tersebut karena ada embel-embel… “Punyanya anak Presiden Indonesia, nih.”

Itu pretensi yang tidak bisa dinihilkan begitu saja. Pasti muncul. Pasti ada. Lha wong nyatanya memang anak presiden kok.

Sekeras apapun Gibran berusaha, selentingan yang nggak enak ini jelas terus bakalan ada. Hal ini yang bakal bikin pembuktian bahwa Gibran bisa hidup tanpa tertutup bayang-bayang kebesaran bapak jadi begitu sulit.

Dan hal itu jelas menjadi bagian yang tidak mengenakkan jadi anak seorang presiden. Haaa piye? Apapun kesuksesanmu dianggap ada andil dari bapakmu je.

Di sisi lain, hal ini juga jadi keuntungan yang luar biasa.

Faktanya, tak seperti kader partai di PDIP lainnya, Gibran tak perlu menunggu 3 tahun menjadi kader partai untuk bisa maju sebagai calon pemimpin daerah di Pilkada via DPD Partai. Hal yang kemudian diklarifikasi oleh Lady Puan Maharani, bahwa ini merupakan hak prerogatif DPD Partai.

Puan memang menjelaskan kalau PDIP tidak melihat latar belakang calon pemimpin daerah. Tapi masa iya, kami-kami ini bakal percaya kalau Gibran dapat keuntungan kayak gini cuma karena sebatas alasan normatif kayak gitu? Hayaa tentu saja tidak.

Iklan

Padahal, bapaknya Jan Ethes ini dulu begitu dikagumi karena keengganannya terjun dalam dunia politik. Ini jelas melegakan. Gibran—awalnya—punya kesan sangat berbeda dengan wajah-wajah “putra-putri mahkota” presiden-presiden Indonesia macam Agus Harimurti Yudhyoyono, Puan Maharani, sampai Tommy Soeharto.

Bisnis yang dijalani Gibran pun bukan bisnis-bisnis mega proyek kayak perusahaan tambang atau jadi komisaris di perusahaan keluarga, melainkan bisnis “sepele” untuk ukuran anak presiden. Bisnis katering dan kuliner.

Oleh karenanya, keputusan Gibran maju sebagai calon wali kota Solo 2020 dari partai yang sama dengan bapaknya itu merupakan keputusan yang mengejutkan—sekaligus—menganggu. Citra positif Gibran mendadak bak kena cipratan oli karena ujug-ujug terjun ke dunia politik di periode akhir jabatan presiden bapaknya.

Oke deh, bagi mereka yang membela Gibran, bisa saja punya pandangan seperti ini, “Lah, kalau memang punya kemampuan nggak apa-apa toh? Masa hanya karena kebetulan jadi anak presiden jadi nggak boleh terjun ke politik?”

Masalahnya adalah… “menjadi anak presiden” itu tidak “hanya”. Menjadi anak presiden itu strata sosial yang nggak sembarang. Mau ditampik bagaimanapun, citra Gibran sedikit banyak kena karbit dari citra Bapaknya.

Itulah yang saya sebut sebagai kutukan sekaligus keuntungan jika seseorang jadi anak presiden.

Di sisi lain, memang betul, Gibran tentu saja punya kemampuan memimpin dan manajerial yang baik. Setidaknya dua perusahaannya berkembang pesat. Tanpa kepemimpinan yang mumpuni, jelas tidak mungkin bisnis katering dan kuliner Gibran bisa besar seperti sekarang.

Saya pribadi malah cenderung setuju dengan usulan Fahri Hamzah, bahwa ada baiknya Gibran maju sebagai calon Wali Kota Solo pada 2024 saja. Jangan yang periode tahun depan. Kesusu banget.

Bukan, bukan, karena untuk menunggu kematangan politik Gibran saja, melainkan juga untuk memberi bukti bahwa pilihannya terjun ke politik bukan karena “aji mumpung” semata.

Agar dalam tempo waktu yang tersisa sampai 2024 nanti, Gibran berusaha membuktikan dulu untuk bisa lepas dari bayang-bayang sang bapak—setidaknya—dalam kancah dunia politik.

Memangnya kenapa perlu seperti itu? Hayaa, agar tudingan praktik “politik dinasti” benar-benar tidak terbukti dong. Bijimana seeh?

BACA JUGA MENGHITUNG OMZET GIBRAN RAKABUMING DARI CHILLI PARI DAN MARKOBAR atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 19 Desember 2019 oleh

Tags: gibranjokowiMarkobarPuan Maharanisolo
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah MOJOK.CO
Ragam

Saat Pemuda Solo Sok Meniru Jaksel biar Kalcer, Terlalu Memaksakan dan Mengganggu Solo yang Khas

28 Januari 2026
Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)
Pojokan

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

7 Januari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Warung Jayengan Pak Tris di Solo. MOJOK.CO
Ragam

Sempat Dihina karena Teruskan Usaha Warung Mie Nyemek Milik Almarhum Bapak, Kini Bisa Hasilkan Cuan 5 Kali Lipat UMK Solo

10 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.