Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kenapa Kursi Kereta Samping Jendela Itu Sungguh Highly Wanted?

Audian Laili oleh Audian Laili
2 Juni 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Memesan kursi kereta samping jendela sebelum menjalani sebuah perjalanan panjang adalah harga mati.

Setiap kali memesen tiket kereta secara online, saya selalu memastikan kalau tempat duduk saya nanti di samping jendela. Soal gerbong depan maupun belakang, tidak pernah saya permasalahkan. Ketika saya mendapatkan tempat duduk samping jendela, maka semua aman. Pun pada mudik lebaran saya tahun ini. Saya sudah pesan tiket jauh-jauh hari, dan memastikan kalau saya mendapatkan tempat duduk di samping jendela. Bla, bla, bla, kemudian kehidupan membuat otak saya tidak lagi berpikir dan mengkhawatirkan perkara kursi kereta.

Hingga datanglah kereta yang akan membawa saya ke kampung halaman. Eh, maaf, lebih tepatnya, ke tempat bapak dan ibu saya berada. Saya memasuki gerbong sesuai tiket dan berjalan menuju kursi yang telah menjadi hak saya sementara. Ternyata, di kursi tersebut telah duduk seorang ibu-ibu. Saya menaruh tas-tas besar ke tempatnya terlebih dulu dan mengatakan,

“Maaf, Bu. Saya di 8D.”

“Iya.” Jawab sang ibu tanpa bergeming dan tetap duduk di situ dengan santai.

“Tempat saya di samping jendela, Bu.”

“Iya, terus kenapa?”

“Ya, saya memang pesan yang di samping jendela.”

Si ibu masih tidak bergeming dan mengatakan, “Iya, kenapa samping jendela?”

Hadeeeh, kok pakai nanya, Bu? Lha, njenengan sendiri kenapa merasa nyaman duduk di samping jendela dan tidak ada keinginan untuk berpindah dari situ? Akhirnya setelah perdebatan kecil yang nggak alot-alot amat, si ibu mau berpindah—tentu saja dengan tampang yang masam dan gerundel. Saat itu saya baru menyadari, kemana sikap sungkan dan pasif agresif saya yang sudah mendarah daging itu? Kok, hanya demi sebuah kursi, saya bisa bersikap sebodo amat itu?

Jadi, mengapa kursi kereta samping jendela, begitu diinginkan oleh para penumpang? Hingga harus diperjuangkan mati-matian? Memangnya, ada daya magis apa yang tersimpan di kursi tersebut?

Pertama, kursi kereta samping jendela memfasilitasi kita untuk memfoto hal-hal yang terjadi di luar kereta untuk dijadiin konten Instastory. Tentu saja foto maupun video singkat perpaduan antara kaca kereta dengan pemandangan yang terjadi di luar, jauuuuh lebih syahdu. Dibandingkan ketika kita duduk di pinggir lorong kereta. Pasalnya, jika di samping lorong, kita hanya mampu memfoto keadaan di dalam kereta—yang biasanya berantakan dan penuh sesak itu.

Kedua, melihat pemandangan di luar kereta sambil dengerin lagu-lagu melow dari Spotify premium—biar nggak keganggu iklan dan sinyal yang nyut-nyutan—sungguh menjadi starter pack tepat untuk menempatkan kita pada kondisi galau yang namaste. Terdiam sambil bertopang dagu, lalu memikirkan segala persoalan yang telah terjadi dan keinginan untuk terjadi. Tidak hanya sampai di situ, duduk di kursi kereta samping jendela, juga dapat membantu kita untuk berefleksi atau bahkan bermeditasi. Hal yang tentu saja tidak kita dapatkan jika duduk di kursi samping lorong atau di tengah. Pasalnya, ketenangan kita pasti akan diganggu dengan banyak orang yang bersliweran. Baik petugas kereta yang nawarin makanan atau nawarin sampahnya untuk dibuang.

Ketiga, hanya kursi kereta samping jendela sajalah, yang mempermudah kita untuk nge-charge hape ataupun gadget lainnya. Mendengarkan lagu-lagu di Spotify sepanjang perjalanan, tentu membuat baterai hape kita jadi gampang lowbat. Hal ini akan terasa lebih tenang, saat kita berada dekat dengan colokan: sang sumber energi supaya nggak mati gaya. Lagi-lagi, ini akan sulit terlaksana dengan baik kalau kita duduk di samping lorong. Pasalnya, kabel-kabel dari charger kita, sungguh dapat menganggu orang lainnya. Belum lagi kalau ternyata kabel charger kita nggak panjang. Alamat kita nggak bisa mempergunakan hape dalam kondisi ter-charger. Oleh karena itu, supaya perjalanan tetap asoy tanpa ribet-ribet nge-chare, pakai hape…

Iklan

…ehm hape apa, ya? Nggak jadi, ding, ternyata belum ada yang endorse.

Keempat, selain mudah untuk nge-charge hape, duduk di kursi kereta samping jendela juga memudahkan kita untuk naruh minuman. Pada beberapa kereta, tempat minum hanya ada di samping jendela saja. Maka dari itu, bagi yang berkesempatan duduk di samping jendela, akses untuk mengambil dan menaruh lagi tempat minuman menjadi lebih mudah. Bukankah banyak tujuan hidup seseorang adalah demi sebuah kemudahan akses? Oleh karena itu, kursi kereta samping jendela, setidaknya memberikan kesempatan kita merasakan itu untuk sementara. Ya, meski cuma akses biar gampang naruh minum aja, sih. Tapi kan~

Kelima, duduk di kursi kereta samping jendela juga memudahkan kita untuk mendapatkan sandaran. Hal yang tidak kita dapatkan kalau duduk di samping lorong kereta. Mendapatkan sandaran selama perjalanan itu penting adanya, supaya kepala kita tidak terlalu merasa lelah memikirkan tentang kita yang belum punya sandaran.

Kayaknya saya salah deh nulis ginian. Kalau orang-orang yang sebelumnya nggak sadar soal kenikmatan dari kursi kereta samping jendela dan akhirnya jadi menyadarinya, terus ikutan memperebutkan kursi-kursi ini, gimana? Saingan saya makin banyak, dong? Walah~

Terakhir diperbarui pada 2 Juni 2019 oleh

Tags: kursi keretaMudiksamping jendela
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO
Catatan

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO
Sehari-hari

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.