MOJOK.CO – Mudik memang bisa jadi perjalanan yang menyenangkan, tapi jangan terlalu optimis, mudik itu bisa juga jadi perjalanan yang penuh pengalaman goblok.

Perjalanan mudik memang biasanya menyenangkan saat dibayangkan. Berasa menjadi bagian dari jutaan orang yang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman. Lalu dalam hati nyeletuk, “Wah seru pasti nanti di jalan,” atau, “Asik nih, bakal ketemu orang-orang senasib di jalan.”

Namun asal kamu tahu, pikiran kebahagiaan ketika masih di perantauan itu sebenarnya cuma fana aja. Harapan-harapan mudik yang seru itu cuma bisikan nafsu semata. Pada kenyataannya, saat di jalan, kamu akan menghadapi berbagai hal-hal menyebalkan—bahkan mungkin cenderung goblok.

Nah, inilah beberapa kejadian goblok tersebut.

Udah tahu macet malah pamer suara klakson

Iya, semua orang yang lagi mudik juga tahu kalau mobilmu ada fasilitas klakson, tapi ya nggak usah segitunya pula dipamer-pamerin. Kamu kira mobil lain pakai kentongan masjid, terus punyamu sendiri yang ada klaksonnya?

Hamasih mending kalau suara klakson mobilmu ada nada poliponik lagunya Via Vallen, kalau cuma suara anyep-hambar-berisik-norak-ala-kufaku mah nggak usah sering-sering dinyalain deh. Menganggu pendengaran buat orang lain yang lagi mudik.

Selain mengganggu pendengaran, FYI aja, suara klakson itu juga punya efek domino lho. Satu mobil sering bunyiin suara klakson dalam keadaan macet, mobil-mobil yang lain bakal ikut-ikutan. Dalam dunia per-klakson-an mobil, emang udah begitu kulturnya dari sejak Majapahit. Sekali ada yang nyolot, yang lain jadi ikut-ikutan nyolot.

Lagian kalau emang nggak mau antre di kemacetan, mending situ mabur aja sana. Dikira yang punya kampung halaman cuma situ apa yak?

Berlagak cari jalan alternatif malah nyasar

Ini biasanya terjadi sama sopir mudik yang sok tahunya berada pada level makrifat. Dikira semua jalan berbentuk rapi segi empat di setiap daerah, jadi selalu mencoba pakai logika sederhana macam begini:

Wah, di depan ini macet, aku belok kiri aja, nanti pasti ketemu belokan ke kanan, terus habis itu nemu belokan ke kanan, ketemu jalan utama lagi deh. Hm, aku emang sopir yang jenius. Einsten? Pfft.

Itu harapannya.

Baca juga:  Idul Fitri, Momen Kesedihan yang Menggembirakan

Praktiknya:

Belok ke kiri. Tahu-tahu jalannya lurus aja sampai berkilo-kilo. Oke, akhirnya nemu deh, ada pertigaan. Belok ke kanan. Begitu udah di jalur ngarang-ngarang-indah-itu tiba-tiba jalanan jadi makin kecil.

Awalnya jalannya aspal mulus, tiba-tiba ketemu jalan yang jelek—penuh lubang, lalu jalan mulai berubah jadi conblok, lalu tiba-tiba jadi tanah, rumput, keadaan jadi makin gelap, makin gelap, sampai ketemu hutan, jurang, macan, candi, Pocahontas.

Lalu ketika kamu baru menyadari bahwa dirimu ternyata nyasar, maka semua itu sudah terlambat, Kisanak.

Kamu cuma goblok. Udah itu aja. Cukup.

Sekarang turunlah dari kendaraan, dan mintalah pengampunan dari-Nya.

Nunda-nunda ngisi bensin, giliran mepet malah nemu POM yang penuh

Salah satu tips yang nggak boleh diremehin saat mudik adalah, pastikan sehari sebelum berangkat mudik, tangki bahan bakar kendaraanmu terisi penuh. Bukan apa-apa, mampir ke POM Bensin saat keadaan lagi lancar-lancarnya jalan luar kota itu bikin males.

Ini bakal jadi problem yang menyebalkan karena kamu nggak tahu kondisi di jalanan sebenarnya kayak gimana. Apalagi kalau dalam keadaan kendaraan kenceng, nemu POM Bensin kamu malah bablas aja sambil berharap, “Ah, ngisi di POM depan aja.”

Brader, punya sifat optimis itu memang bagus, tapi antisipitatif itu juga nggak kalah penting.

Ketika kamu akhirnya kepepet harus segera ngisi dan nemu POM Bensin, nggak perlu kaget kalau ternyata ada bejibun kendaraan yang antre sampai luar area POM. Bikin kamu merasa sedang berada di tengah-tengah orang yang habis denger pengumuman bensin bakal dinaikin harganya sama Pemerintah besok pagi.

Nunda pipis, kebelet pas macet

Selain menunda ngisi bensin, menunda pipis juga jadi masalah yang sebenarnya nggak perlu diseriusi-seriusi amat, tapi kalau nggak dipikirin juga merepotkan. Terutama buat mereka yang mudik menggunakan transportasi umum. Terutama bus yang kebetulan tidak punya fasilitas toilet. Wah, itu bisa jadi masalah gede itu.

Ya kan nggak enak juga kalau nyamperin sopir bus lalu bilang, “Bang, turun di masjid depan ye? Tapi nanti aye ditunggu. Aye mau pipis bentar doang.”

Baca juga:  Lebaran adalah People Power yang Sebenar-benarnya, yang Paling “People” dan Paling “Power”

Emang kamu siapa? Sandra Bullock di film Speed?

Cepirit di atas bus

Kalau ini benaran cerita nyata. Kebetulan teman saya mudik dari Jakarta ke Jogja. Dalam perjalanan yang macet parah, dirinya kebelet boker luar biasa. Ya namanya kebelet boker kan emang kadang suka nggak tahu situasi dan kondisi.

Kalau pipis sih masih mending, bisa pipis pinggir jalan. Lah ini boker jeh, masa iya boker pinggir jalan? Dilempar jumroh sama jamaah mudik yang lain bisa runyam urusannya.

Dasar perut nggak bisa diatur, akhirnya teman saya nekat ke toilet bus. Lalu boker di sana. Oke, keadaan sepertinya beres. Teman saya akhirnya duduk lagi ke kursinya. “Ah, lega puooool,” katanya.

Tapi—nah di sini masalahnya—FYI aja nih, toilet bus itu kan sebenarnya nggak didesain buat boker, toilet bus itu didesain cuma buat pipis. Jadi bisa kebayang dong kalau beberapa menit kemudian tercium aroma-aroma hayati yang menganggu seisi bus. Benar-benar udah kayak kamar gas holocaust NAZI akhirnya.

Awalnya aroma itu cuma tercium oleh si kondektur bus yang emang lagi duduk di jok paling belakang. Begitu sadar ada bau alamiah tak wajar dari dalam toilet, si kondektur mengecek membuka pintu toilet.

Sedetik kemudian, si kondektur teriak, “Woy, si anjing, ini siapa yang boker di toilet, woy!”

Teman saya tentu ketakutan mendengar teriakan dari arah belakang itu. Jelas nggak mau ngaku lah dia. Lalu pura-pura bego. Udah refleks gitu aja. Bego emang.

Halah, penumpang bus itu ada berapa banyak orang sih? Ha ya jelas si kondektur hapal siapa-siapa aja penumpangnya—termasuk siapa orang yang tangannya “berdarah” habis dari toilet. Tanpa ba-bi-bu si kondektur langsung nyamperin kursi temen saya ini.

“Mas, kamu habis boker di toilet ya?” tanya si kondektur.

Teman saya ketakutan setengah mampus—malu sih kayaknya lebih tepat.

“Nggak, Mas,” kata teman saya sambil menahan malu, “cuma pipis kok. Sumpah, Mas. Tadi cuma pipis doang.”

Si kondektur tambah kesal, dipikirnya dia bego apa ya.

“Pipis, pipis, gundulmu. Pipis kok ada tainya!”