Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kontroversi La Nyalla: Akui Pernah Sebut Jokowi PKI sampai Sentil Salat Jumat Prabowo

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
14 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sekilas pernyataan kontroversi La Nyalla mengutungkan Jokowi. Sebab kalau sampai salah urus, sosok kayak begini bisa jadi musuh dalam selimut tetangga di masa depan.

Efek balas dendam karena merasa dicampakkan memang luar biasa. Itu yang tergambar dari La Nyalla Mattalitti, politisi transferan dari pihak oposisi ke petahana.

Sebelum mengumbar segala macam aib Prabowo Subianto ke media massa, mantan Ketua Umum PSSI ini mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan bahwa segala macam fitnah ke Presiden Jokowi merupakan salah satu bikinannya.

“Saya sudah minta maaf dan saya sudah mengakui bahwa saya yang sebarkan (isu) PKI itu, saya yang ngomong Pak Jokowi PKI. Saya yang mengatakan Pak Jokowi itu Kristen, agamanya nggak jelas, tapi saya sudah minta maaf karena saya bukan oposisi,” ujarnya.

Pernyataan ini sangat mengejutkan bagi kedua belah pihak, baik petahana mau pun oposisi. Secara sekilas, pernyataan La Nyalla ini memang mengutungkan petahana. Jelas dong, apa yang disampaikan secara tidak langsung menampar pihak yang berseberangan.

Meski begitu, di sisi lain bagi petahana, “menampung” orang yang pernah memfitnah—bahkan mengakui ke publik—bukan perkara mudah. Hal ini tentu yang membuat pihak oposisi justru bersyukur La Nyalla sudah pindah haluan.

“Memelihara” La Nyalla sebagai bagian dari koalisi jelas merupakan pekerjaan yang merepotkan. Seperti seseorang yang kalap, mantan Ketua Pemuda Pancasila ini mengeluarkan pernyataan-pernyataan lanjutan yang memicu kontroversi. Semuanya tentu mengarah ke satu sosok: Prabowo Subianto.

Pihak oposisi sebenarnya justru bersyukur melihat politisi model begini menyeberang. “Aura negatif yang selama ini ada ketika dia (La Nyalla) masih berada di timnya kita, itu terbawa olehnya dengan keluar dari tim kita mendukung tim Jokowi-Ma’ruf,” ujar Muhammad Syafi’I, Anggota Dewan Penasihat DPP Gerindra.

Tidak sampai di sana, bahkan La Nyalla sesumbar bahwa tim Prabowo tidak bakalan menang di daerah Madura. Taruhannya pun tidak main-main. Entah bercanda atau serius, dirinya mengaku siap potong leher kalau capres Prabowo menang di Madura.

“Saya kan sudah omong potong leher saya kalau Prabowo bisa menang di Madura,” kata La Nyalla.

Ungkapan ini tentu menambah daftar “taruhan” ala politisi. Dulu ketika Anas Urbaningrum dijerat KPK, politisi Demokrat ini mengaku akan loncat dari Monas kalau terlibat dalam mega korupsi Hambalang. Pada akhirnya Anas beneran kena tangkap KPK, tapi cerita loncat Monas cuma jadi fiksi pepesan kosong.

Berikutnya ada politisi senior Amien Rais yang bertaruh akan jalan dari Jogja ke Jakarta kalau Jokowi menang pada Pilpres 2014 silam. Sama seperti Anas, ocehan ini pun cuma omong kosong. Meski begitu pernyataan ini jadi stok meme yang tidak ada habisnya bagi netizen. Apalagi kalau Amien baru saja mengeluarkan pernyataan kontroversial.

Selanjutnya ada Ruhut Sitompul yang sesumbar akan potong kuping kalau Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sampai kalah pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Hasilnya? Ahok kalah, bahkan masuk penjara karena kasus penistaan agama dan Anies Baswedan yang justru naik ke puncak. Ruhut pun masih enteng saja bicara ke sana-ke mari dengan kuping yang utuh.

Pernyataan La Nyalla ini tampaknya bakal jadi “taruhan politisi” lanjutan yang bakal meramaikan tahun politik kali ini. Hal yang sebenarnya disesalkan oleh banyak pihak.

Iklan

“Saya takut nanti gitu juga, tiba-tiba nanti Jokowi-Ma’ruf Amin kalah di Madura, maka dia akan beralasan seperti banyaknya alasan yang dibuat dari ini,” kata Syafi’i, Anggota Dewan Penasihat DPP Gerindra.

Setelah pasang badan dan mengakui kesalahannya kepada kubu petahana, La Nyalla pun lalu melanjutkan serangan ke Prabowo Subianto. Dirinya mengaku ragu Prabowo pernah salat Jumat. Pernyataan ini merupakan lanjutan dari uraian Andre Rosiade yang menyebut bahwa Pak Prabowo sering melakukan salat berjamaah sampai salat Jumat.

“Tadi kalau Mas Andre bilang Pak Prabowo salat, salat Jumat, lho saya kan juga tahu. Saya nggak pernah tahu tuh Pak Prabowo salat Jumat, nggak pernah lihat saya,” kata La Nyalla.

Sebelumnya, La Nyalla bahkan menyebut Jokowi sebenarnya jauh lebih islami ketimbang Prabowo. Hal ini diutarakannya dengan membandingkan bahwa Jokowi pernah menjadi imam salat, sedangkan Prabowo—sepanjang yang La Nyalla tahu—tak pernah sekalipun terlihat memimpin salat.

Tentu saja segala serangan demi serangan ini membuat gerah pihak oposisi. Ferdinand Hutahean, dari politisi Demokrat, menyatakan bahwa fenomena La Nyalla ini mengingatkannya akan kasus hoax Ratna Sarumpaet.

“La Nyalla sudah mengakui menyebar fitnah dan hoax, derajat hukumnya sama dengan Ratna. Tidak perlu tunggu laporan, penyidik kepolisian harus segera menjemput La Nyalla dan melakukan proses hukum,” kata Ferdinand seperti diberitakan CNN Indonesia.

Meski begitu Ferdinand mengaku pesimis Polisi akan bergerak dengan model kampanye yang sudah mulai bikin gerah pihak Prabowo.

Tidak hanya pihak Prabowo, pihak petahana sebaiknya juga berhati-hati dengan tipikal politisi seperti ini. Sebab, sebagaimana semua tahu, La Nyalla melakukan serangan ini tak lepas dari sakit hatinya tidak direstui oleh Partai Gerindra untuk maju sebagai kandidat Gubernur Jawa Timur pada Pilkada Serentak silam. Baginya, rasannya seperti habis manis sepah dibuang.

Hal yang sebenarnya juga menjadi bom waktu bagi pihak Jokowi-Ma’ruf Amin. Didukung politisi model La Nyalla bukanlah sebuah kekuatan—apalagi dengan pernyataan-pernyataan ofensif yang sudah membawa-bawa tingkat ketaatan agama. Sekilas terlihat menguntungkan, tapi sebenarnya sangat riskan.

Sebab jika salah dikelola, La Nyalla di masa depan bisa jadi musuh yang sangat berbahaya karena akan koar-koar kejelekan pihak yang pernah didukungnya. Persis seperti yang dia lakukan ke Prabowo Subianto saat ini.

Terakhir diperbarui pada 14 Desember 2018 oleh

Tags: Ferdinand HutaheangerindrajokowiLa NyallaPKIprabowo
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO
Esai

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.